“Love and Mercy” merupakan biopic dari Brian Wilson, musisi dan
produser rekaman ternama dari California. Ia juga merupakan co-founder dari band terkenal, “The
Beach Boys” yang telah menelurkan salah satu album terbaik sepanjang masa
berjudul “Pet Sounds” tahun 1966. Apa yang membuat Brian Wilson begitu diakui
sebagai musisi jenius adalah dari caranya yang tidak biasa dalam mengaransemen
lagu. Baik itu dari komposisi nada maupun penambahan sound tidak lazim di tiap lagunya, seperti bunyi hewan, bel sepeda,
hingga klakson mobil. Inspirasi dalam bermusiknya pun unik dimana ia sering
mendengarkan lantunan bunyi-bunyi ajaib yang tiba-tiba terdengar di telinganya.
Senin, 07 September 2015
Minggu, 06 September 2015
A SERBIAN FILM [2010]
Apa yang membuat saya begitu ingin
sekali menonton film ini adalah demi membuktikan apa yang sering didengungkan
oleh banyak orang yang menganggapnya sebagai film ‘sakit, gila, menjijikkan,
dan tidak beradab’. Tentunya alasan lainnya adalah karena memang saya pribadi
penikmat tipikal film semacam ini. Meski begitu sejujurnya sebelum menonton
film ini, saya sendiri sempat mewanti-wanti apakah saya benar-benar ingin
menontonnya. Walau sempat ragu, akhirnya keputusan pun bulat untuk menontonnya
dan hasilnya....?. Mengecewakan. Film debut dari Srđan Spasojević ini
rupanya masih jauh dari ekspektasi saya yang mengharapkan film yang benar-benar
gila.
MICHAEL BAY ?
Ada apa dengan Michael Bay ?.
Pertanyaan tersebut pastilah terlintas
di pikiran Anda tatkala membaca judul tulisan ini. Ataukah Anda sedang berpikir
bahwa saya pengagum berat Michael Bay ?. Emm....tidak juga. Bukan berarti juga
saya membencinya. Tidak, untuk apa pula saya membencinya. Toh film-film
karyanya sangatlah menghibur, jadi itu tidak mungkin. Lantas, apa maksud dari
tulisan mengenai Michael Bay ini ?. Yah, hanya sekedar tertarik saja sebenarnya
dengan salah satu sutradara terkenal Hollywood satu ini. Di saat mungkin blogger lainnya tengah menuliskan
opininya mengenai sutradara-sutradara ternama lainnya macam Christoper Nolan, Quentin
Tarantino, Martin Scorsese, dan lainnya, saya justru menulis mengenai sutradara
yang selalu panen kritik negatif atas karya-karyanya ini.
Jumat, 04 September 2015
AS THE GODS WILL [2014]
“As The Gods Will” yang diadaptasi
dari manga karya Muneyuki Kaneshiro,
“Kami-sama no Iu Tōri”, merupakan salah satu bentuk kesenangan dari Takashi
Miike lewat adegan gila-gilaan layaknya film-filmnya terdahulu seperti “Ichi
The Killer” ataupun “Crows Zero”, tapi tidak termasuk “Ninja Kids” dan “Hara-kiri
: Death of Samurai” di dalamnya. Bagi yang setia mengikuti karya-karyanya dan
tahu betul bagaimana film-filmnya, mungkin tidak akan percaya bahwa ia sempat
menyumbangkan tenaganya dalam dua episode “Ultraman Max”. “As The Gods Will”
mungkin masih kalah ‘gila’, tapi berhubung ini adalah karya Miike, sangat
menjanjikan tentunya bahwa kita akan menikmati berbagai macam kebrutalan fatal
nan menghibur.
Kamis, 03 September 2015
THE SEARCHERS [1956]
Sebagai penikmat film western, tentunya sangat menggembirakan
bila memiliki kesempatan untuk bisa menonton versi klasiknya. Terutama film
yang dibintangi oleh aktor ikonik western
seperti John Wayne ini. “The Searchers” yang disutradari oleh John Ford (beberapa
kali berkolaborasi dengan John Wayne) ini tampak semakin istimewa lagi mengingat
dibuat dengan format Technicolor yang
bisa dibilang dapat dihitung jari untuk film-film keluaran era tersebut.
Hasilnya tampak sangat mengagumkan dari segi visual (berwarna), begitupun
dengan kualitas cerita berikut aksi seru yang disuguhkan. Maka tidak
mengherankan bila “The Searchers” menjadi salah satu film western terbaik yang pernah dibuat. Tanpa membedakan menurut genre, tidak diragukan lagi “The
Searchers” adalah satu dari sekian film terbaik yang pernah ada.
Rabu, 02 September 2015
DRAGON BALL Z : RESURRECTION 'F' [2015]
“Resurrection F” sendiri adalah
kelanjutan dari movie “Dragon Ball”
sebelumnya, “Battle of Gods” (2013). Apa yang membedakan dua movie ini dibandingkan dengan
pendahulunya adalah ditangani sendiri oleh sang kreator, Akira Toriyama. Dengan
campur tangannya sang mangaka
(komikus), tentunya akan diharapkan sebuah sajian super seru lewat pertarungan-pertarungan maha dahsyat seperti yang
sering kita lihat di tv series-nya.
Jika dalam “Battle of Gods” kita diperkenalkan dengan dua sosok baru yang masih
asing, Beerus dan Whis, maka saatnya kita bernostalgia dengan salah satu villain legendaris dari anime “Dragon Ball” ini. Siapakah dia ?.
Tentunya sudah terjawab melalui poster dan bahkan judulnya sendiri.
Minggu, 30 Agustus 2015
WHEN MARNIE WAS THERE [2014]
Akhirnya sempat juga menikmati karya
terakhir dari Studio Ghibli sebelum masa hiatusnya ini. “When Marnie was There”
ini diadaptasi dari novel karya Joan G. Robinson, dan disutradarai oleh
Hiromasa Yonebayashi. Ia juga menjadi bagian dari penulisan naskahnya. Uniknya,
dua nama besar dari Studio Ghibli, Hayao Miyazaki dan Isao Takahata yang terkenal
lewat “Grave of The Fireflies” (1988) justru tidak menyutradarai karya
perpisahan sementara ini. Tapi jauh sebelumnya saya sudah menonton karya dari
Hiromasa Yonebayashi yang berjudul “The Secret World of Arrietty” (2010).
Pertanyaannya adalah, layak kah “When Marnie was There” menjadi karya
perpisahan hingga waktu yang belum pasti ini ?.





