Senin, 16 November 2015

MR. HOLMES [2015]

Sudah tidak terhitung berapa kali adaptasi dari detektif paling ikonik asal Inggris ini. Tidak hanya lewat film maupun serial tv, nama besarnya juga sering digaungkan dalam serial animasi. Masih segar dalam ingatan, ketika nama “Sherlock Holmes” mulai masuk perbendaharaan kata saya melalui serial “Detective Conan”, khususnya pada salah satu versi filmnya yang berjudul “The Phantom of Baker Street” (2002). Sejak saat itu, detektif yang dikenal dengan image bertopi pemburu dan menghisap pipa rokok ini mulai melekat cukup kuat dalam pikiran saya. Apalagi yang cukup fenomenal ketika dibawakan oleh Robert Downey Jr. meskipun saya akui pembawaannya sedikit lebih ‘ringan’. “Mr. Holmes” karya sutradara Bill Condon ini tidak menggunakan dasar cerita utama ketika Sherlock Holmes masih aktif menjadi detektif, tapi sebaliknya ketika ia sudah pensiun dan menginjak usia 93 tahun dalam keterasingan.

Pada masa pensiun itu, Sherlock Holmes (Ian McKellen) tinggal dalam farmhouse di Sussex dengan pembantunya, Munro (Laura Linney) bersama putranya, Roger (Milo Parker). Waktu luangnya lebih banyak dihabiskan untuk beternak lebah dengan dibantu Roger yang tidak lain merupakan pengagum beratnya. Sesekali ia menulis ulang kasus terakhirnya yang ia sayangkan difiksionalisasi dengan akhir berbeda oleh sang mantan rekannya, John Watson. Namun tidak semudah itu, usia yang lanjut membuat Holmes kehilangan daya ingatnya. Perjalanan ke Jepang demi mendapat prickly ash yang disebut-sebut mampu meningkatkan daya ingatnya, menuntut Holmes memecahkan misteri baru atas permintaan Tamiki Umezaki (Hiroyuki Sanada). Nah, bagaimana hasilnya bila sang Sherlock Holmes digambarkan dalam keadaan tua renta dan berkebalikan dari apa yang banyak orang bayangkan selama ini ?.

Boleh jadi, “Mr. Holmes” bukanlah tipikal film yang diharapkan bagi pecinta film action maupun mystery seperti dalam adaptasi versi Guy Ritchie. “Mr. Holmes” meminimalisir bagian tersebut dengan lebih banyak menyediakan porsi untuk dramanya, terutama menyoroti masa-masa senja sang detektif yang penuh dengan keterasingan dan kerapuhan. Berbeda dengan penggambaran Holmes yang sering kita kenal dengan begitu enerjiknya dalam memecahkan suatu kasus, yang kita lihat di sini justru malah seorang pria tua yang kerap kali lupa menyebut nama seseorang. Holmes tua juga begitu nampak kesederhanaannya yang dapat kita lihat dari caranya yang penuh kasih sayang dalam beternak lebah. Kesan Holmes yang begitu melekat erat dengan kesendirian tidak nampak pada karakter yang diperankan Ian McKellen ini, sebab ia justru terlihat sangat terbebani dengan hal tersebut. Saya dapat melihat bagian itu dari kedekatan sang detektif pada Roger dan kasih sayang yang ia pancarkan. Sungguh keadaan yang bisa dibilang bukan ‘bagian diri’ dari sang detektif hebat itu.

Melalui naskah yang ditulis Jeffrey Hatcher, sesungguhnya Bill Condon mencoba menampilkan sisi manusiawi pada Sherlock Holmes. Dengan menanggalkan atribut seperti analisa tingkat tinggi pada sang detektif, perwujudan ‘manusia biasa’ itu tampak sangat jelas pada Sherlock Holmes. Apalagi Bill Condon juga menyelipkan ‘hati’, sehingga Sherlock Holmes terasa begitu likable dan kesan dingin serta misteriusnya tidak terlalu terlihat. Penanaman ‘hati’ pada karakter Sherlock Holmes ini muncul pada karakter-karakter yang mengelilinginya, seperti Roger hingga Ann Kelmot (Hattie Morahan) yang tidak lain bagian dari kasus terakhir yang ia tangani 30 tahun sebelumnya. Sosok Sherlock Holmes yang begitu brilian dengan kemampuan menganalisa karakter seseorang tersebut, tidak bisa dilepaskan dengan kepercayaannya pada ‘fakta’. Ia tidak menyukai hal-hal berbau fiksi atau imajinasi yang meski dibuat sekedar untuk menyenangkan hati. Wajar saja bila ia mengakui tidak pernah memakai topi berburu dan menyukai cerutu ketimbang pipa rokok. Gambaran fiksi yang selalu disematkan padanya.

Di bagian karakterisasi, pastinya “Mr. Holmes” menawarkan sesuatu yang lebih. Tidak hanya transformasi seseorang yang telah kelewat “masa aktifnya” saja, melainkan juga keberanian menolak gambaran fiksi walaupun risikonya ia malah menjadi figur yang asing. Adaptasi dari novel berjudul “A Slight Trick of the Mind” karya Mitch Cullin ini memang berbobot besar di sektor dramanya. Tapi karena ini film tentang Sherlock Holmes, tidak bisa untuk tidak memberikan unsur misteri di dalamnya, sekalipun dengan kuantitas yang tidak terlalu banyak. Lompatan waktu hadir pada peristiwa 30 tahun sebelumnya yang merupakan kasus terakhir yang ditangani oleh Holmes. Pada kasus tersebut Holmes diminta oleh Thomas Kelmot (Patrick Kennedy) untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi pada istrinya, Ann, yang mulai terasa janggal. Kasus terakhir itu dapat dikatakan kasus yang sederhana, melibatkan keluarga kecil yang diwarnai rasa kecurigaan di dalamnya. Namun tidak bisa disangka bila kasus terakhir itu malahan memberikan dampak yang begitu besar hingga puluhan tahun ke depannya. 

Lewat kasus terkait Ann itu pulalah yang semakin membentuk karakter seorang Sherlock Holmes menjadi lebih ‘hangat’, memberikannya pelajaran berarti bahwa masih ada aspek lain yang ia sendiri tidak sanggup untuk menjawabnya.Pandangannya yang bertolak belakang antara fiksi dengan imajinasi pun semakin terlihat kabur, di saat ia sendiri terselamatkan oleh ‘fiksi’. Selain karakterisasi, performa juga nilai tambahan di sini. Dualitas seorang Holmes dilakoni dengan sangat bagus oleh Ian McKellen. Menjadi seorang Holmes yangwise dan enerjik dalam mengumpulkan fakta-fakta misteri, ia bisa. Menjadi seorang pria tua pikun lengkap dengan gesture-nya, apalagi. Melihat kerapuhan yang hadir di depan mata lewat akting McKellen, saya pun bersimpati. Seolah-olah saya tidak melihat seorang Sherlock Holmes ternama itu lagi, melainkan si tua kesepian yang tidak lain adalah realita manusia biasa. Upaya tersebut memang pada akhirnya membuat sang legenda ini nampak lebih manusiawi. Akibatnya, ‘perasaan’ kita ikut terbuai daripada sekedar kekaguman akan aksi dan misteri.
7,5 / 10

2 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !