Selasa, 09 Juni 2015

THE SECRET IN THEIR EYES [2009]


Film ini merupakan yang kedua kalinya dari Argentina yang menang di Academy Awards sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik. Film crime thriller bersettingkan masa Dirty War (1976-1983) di Argentina ini diangkat dari novel berjudul La Pregunta de sus Ojos (The Question in Their Eyes) karya Eduardo Sacheri, yang juga bertindak sebagai penulis naskah. Dirty War sendiri merupakan masa-masa kelam di Argentina di mana banyak sekali tindak kriminal yang lepas dari jerat hukum.

Cerita berawal dari pensiunan seorang pekerja pengadilan, Benjamin Esposito (Ricardo Darín) yang menginginkan menulis novel dari kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang pernah ia tangani sebelumnya. Dengan meminta dukungan dari sahabatnya yang dulu ikut dalam menangani kasus tersebut, Irene Menéndez Hastings (Soledad Villamil), Benjamin semakin memantapkan diri untuk menulis novel tersebut meski ia sendiri sebenarnya kebingungan untuk memulainya.

Kasus tersebut awalnya ditangani oleh Benjamin bersama sahabatnya yang alkoholik, Pablo Sandoval (Guillermo Francella), sekitar 25 tahun sebelumnya. Benjamin begitu berambisi untuk mencari pelaku pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita bernama Liliana Coloto (Carla Quevedo) tersebut, lantaran ia tidak tega melihat suami korban, Ricardo Morales (Pablo Rago) yang begitu mencintainya harus menanggung beban berat itu. Meski sang pelaku akhirnya dapat diketahui keberadaannya, rupanya ia bagaikan belut licin yang sangat sulit ditangkap. 

The Secret in Their Eyes sendiri terbagi menjadi 2 setting waktu penceritaan, yang pertama adalah saat Benjamin menangani kasus Liliana, dan yang kedua adalah masa pensiunnya ketika dalam proses menulis novel. Berbeda dengan kasus-kasus lainnya yang pernah ditangani oleh Benjamin, kasus pembunuhan Liliana itu benar-benar mengusik batinnya. Ia melihat kasus pemerkosaan dan pembunuhan itu merupakan sebuah tindakan keji dan sangat biadab. Apalagi, setelah Benjamin mengenal sosok Ricardo Morales, yang merupakan suami dari Liliana, ia semakin iba dan tidak tega dengan apa yang menimpanya. Cinta yang besar dari Ricardo pada Liliana, membuat Benjamin begitu berambisi untuk menuntaskan kasus itu dan menangkap sang pelaku.

Jika ditilik lebih dalam lagi, sebenarnya tidak hanya Benjamin saja yang begitu berambisi dalam kasus tersebut. Tapi juga bagi Pablo, yang dengan tegasnya telah bersumpah akan terus memburu si pelaku, bagi Ricardo yang menuntut keadilan, serta bagi Irene sendiri yang melihat ketimpangan hukum dalam penanganan kasus itu. Pasalnya, meski si pelaku berhasil ditangkap, tapi hukum berkata lain ketika itu. Si pelaku dengan nikmatnya menghirup udara kebebasan meski sebelumnya ia telah dijatuhi dengan hukuman berat. Film ini sukses mengangkat krisis (dalam aspek hukum) yang tengah melanda Argentina kala itu. Di mana hukum benar-benar buta dan para pelaku kriminal bisa lepas dari jeratan hukum. Jadi tidak hanya unsur misteri saja yang disajikan dengan menarik dalam film ini, melainkan menyinggung juga mengenai ketidakadilan yang sering diterima oleh para korban tindak kriminal. 

Sesuai dengan judulnya, film garapan sutradara Juan José Campanella ini memang tidak lepas dari ‘pandangan mata’ setiap karakternya yang memperkuat alur ceritanya. Bahkan, Benjamin sendiri mulai menyelidiki seseorang yang dicurigai sebagai “si pelaku” juga dengan memanfaatkan ‘pandangan mata’ si pelaku pada korban dalam sebuah foto. Dan kembali lagi, ‘pandangan mata’ si pelaku itu pulalah yang semakin meyakinkan Irene bahwa dialah orang yang bertanggung jawab dalam pembunuhan itu. Tidak hanya rahasia dalam pandangan mata si pelaku yang menjadi fokus utama di sini, melainkan juga ‘pandangan mata’ antara Benjamin dengan Irene yang benar-benar kuat dari keduanya. Ya, mereka hanya bersahabat. Tapi, tatapan mata mereka berdua sangat mengindikasikan bahwa mereka berdua sebenarnya saling menyukai. Tapi semua kembali pada Benjamin, dia tidak cukup berani untuk mengatakannya. Hingga selang puluhan tahun kemudian, Irene pun dengan berani mempertanyakan sikap ‘pengecut’ Benjamin tersebut, meski pada akhirnya ia sudah berkeluarga.

The Secret in Their Eyes dibangun dengan begitu kompleks. Ini bukanlah sekedar film crime dengan menyebar misteri saja di dalamnya, melainkan juga mengangkat krisis hukum yang tengah terjadi kala itu, dan tidak lupa unsur romance yang begitu kuat di sini, antara Ricardo dengan istrinya, Liliana, serta hubungan Benjamin dengan Irene. Cinta yang begitu kuat dari Ricardo untuk Liliana pulalah yang mendorong Benjamin untuk mencurahkan segala waktunya dalam mengungkapkan kasus pembunuhan itu. Saya sendiri begitu bersimpati dengan sosok Ricardo yang dengan sabarnya ia nikmati hari-harinya yang sepi sepeninggal Liliana. Saya pun ikut merasa marah dan benci seperti Benjamin, ingin rasanya saya membantunya dan menangkap si pelaku. 

Benjamin sendiri bisa disebut sebagai pria ‘gagal’ dalam menemukan cinta sejatinya. Pernikahannya juga gagal, disaat persahabatannya dengan Irene begitu erat terjalin hingga puluhan tahun berjalan. Padahal, jika bisa kembali ke masa puluhan tahun sebelumnya, hanya dibutuhkan keberanian saja untuk confess, maka Benjamin bisa mendapatkan hati cinta sejatinya. Tapi semua sudah terjadi, toh keduanya masih bisa bersahabat erat dan sama-sama saling mengetahui perasaan masing-masing. Sangat disayangkan memang, tapi Benjamin dan Irene sudah cukup membuktikan cinta mereka berdua tanpa perlu hidup bersama dalam satu atap.

Apa yang ingin ditekankan Eduardo Sacheri selaku penulis di sini adalah sekuat apapun tindakan seseorang untuk mencoba lari dari keadaan, pandangan/tatapan matanya tidak akan pernah berbohong dan di situ pulalah letak dari jawabannya. Sacheri benar-benar konsisten dalam meletakkan fokus utamanya di film ini. “Rahasia dalam mata” merujuk pada semua karakter dalam film ini yang menjadi bagian dari misteri itu sendiri. The Secret in Their Eyes sukses menarik saya dalam-dalam pada interaksi antar karakternya yang dibalut dalam kisah romance yang kuat, baik dari segi dialog maupun dalam ‘pandangan matanya’.

ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !