Jumat, 30 Oktober 2015

YANG (MUNGKIN) SERING KELIRU



Kali ini, tulisan saya tidak berisikan dengan ulasan film, melainkan hal-hal yang sebagian besar salah dimengerti oleh kebanyakan orang khususnya di ranah film. Kali ini saya membatasi hingga 10 pernyataan saja dari fakta-fakta yang sering saya temukan di lapangan. Sebagian besar berasal dari orang-orang sekitar maupun yang saya peroleh dari komentar-komentar di sebuah forum atau sejenisnya. Nah sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak mencoba untuk ‘sok tahu’ dengan membuat tulisan ini, melainkan hanya sebagai media sharing dan belajar bersama. Sebab, saya sendiri juga masih sering melakukan kesalahan pemahaman pada istilah-istilah dalam film. Tidak lain dan tidak bukan karena saya memang masih tergolong ‘penonton awam’ yang masih butuh banyak belajar.
    
Baik, saya rasa paragraf pembukanya sudah cukup. Berikut 10 kesalahan pada istilah-istilah dalam film yang cukup sering saya temukan.
1.       Produksi dan Distribusi
Hal ini sering saya dapatkan dari teman-teman saya yang masih sedikit kesulitan dalam membedakan antara studio produksi dengan distribusi dalam industri film. Sebenarnya, perbedaan keduanya sangat mencolok dan itu bisa diketahui dari namanya saja. Kalo istilah produksi berarti mengacu pada produsen yang membuat. Sedangkan distribusi berarti adalah pihak yang mendistribusikan atau memasarkan. Namun tidak bisa disangkal pula bila ada studio produksi film yang juga sekaligus mendistribusikan film-filmnya.

Kebanyakan kesalahan dalam menyamakan ini muncul karena logo studio distribusi sering muncul paling awal ketika film berjalan (sebelum opening credit), barulah kemudian diikuti oleh studio produksi.

2.       Protagonis dan Antagonis
Kalo yang satu ini pasti sering dijawab kalau protagonis adalah “tokoh yang baik” sedangkan antagonis adalah “tokoh yang jahat”. Padahal, pengertian tersebut sebenarnya kuranglah tepat. Jika mengutip dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), maka makna protagonis adalah “tokoh utama dalam film, novel, ataupun sandiwara panggung”. Sebagai kebalikannya maka antagonis adalah “lawan dari tokoh utama / protagonis”. Pengertian “lawan” di sini adalah bentuk antitesis dan tidak bisa diartikan dengan “jahat”.

Cukup konyol juga sebenarnya bila protagonis dan antagonis dibedakan menurut watak baik maupun jahatnya, sebab ‘baik’ ataupun ‘jahat’ itu bersifat relatif dan merupakan bentukan dari sudut pandang yang berbeda.

3.       Luar negeri = Hollywood
Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah bahwa film asing, katakanlah yang main ‘bule’ (heheheh) pastilah film “Hollywood”. Padahal film asing belum tentulah dari Hollywood. Nah, untuk menjawab ini pertama-tama kita harus tahu terlebih dahulu, Hollywood itu apa. Hollywood merupakan sebuah distrik yang berada di Los Angeles, negara bagian California, Amerika Serikat. Di distrik itu banyak studio-studio besar yang memproduksi film. Jadi, “film Hollywood” itu film-film yang diproduksi dan didistribusikan oleh studio-studio besar dari Hollywood. Kalo filmnya yang main bule-bule dari Eropa, yang pastinya bukan “film Hollywood”.

Namun tidak semua film keluaran dari Amerika Serikat diproduksi oleh Hollywood, sebab ada juga yang merupakan “film indie” alias diproduksi oleh studio kecil dan kebanyakan rilis terbatas. Tapi tidak pasti juga sich, sebab “film indie” juga bisa rilis secara luas.

4.       Trailer dan Thriller
Masyaallah, ini kebangetan sekali kalau sampai keliru. Nyatanya memang masih banyak yang salah membedakan antara “trailer” dengan “thriller”. Keduanya padahal memiliki perbedaan yang amat sangat jauh bagaikan bumi dengan langit. “Trailer” itu cuplikan film yang akan tayang di bioskop atau bahasa mudahnya adalah “iklannya film”. Sedangkan “thriller” adalah salah satu genre film yang isinya pokoknya menegangkan gitu deh, ada adegan bacok-bacokan dan bunuh-bunuhan misalnya. Kadang juga bisa dikombinasikan sama horror, crime, atau mystery.

5.       Anime dan Kartun
Kelihatannya ini memang sederhana, tapi dalam kenyataannya perbedaan antara anime dan kartun masihlah menjadi bahan perdebatan hingga kini. Untuk jawaban paling mudah, anime itu yang berasal dari Jepang dan kartun itu dari Amerika / non-Jepang. Dengan membedakan menurut negara asal, perbedaan anime dan kartun memang begitu mudah terjawab. Jelasnya, keduanya dapat digolongkan dengan satu istilah, yaitu animation. Ataukah selain karena ‘asalnya’, perbedaan itu bisa berasal dari ciri khasnya ?. Saya sedikit kurang yakin dengan jawaban saya sendiri.

Untuk pecinta ‘jejepangan’ sendiri misalnya, mereka memang dengan tegas menolak persamaan antara anime dengan kartun, bukan ?. Hal yang sama juga terjadi pada “idol group” dengan “girlband”. Jika merunut ke sumber nama, kata “anime” memang berasal dari animation yang artinya animasi, baik itu 2D maupun 3D. Dengan kata lain, anime dan kartun itu sebenarnya ya....sama saja. Kalau ada yang menganggapnya sama, menurut saya ya sah sah saja. Kalau saya sendiri termasuk kelompok yang membedakan antara anime dengan kartun.

6.       Prekuel dan Sekuel
Misalkan dalam sebuah trilogi film, maka seri yang pertama dibuat disebut dengan prekuel dan seri yang mengikutinya disebut dengan sekuel. Tapi, kebanyakan ada yang salah memberikan urutan nama dalam sebuah sekuel. Misalkan saya ambil contoh film “Toy Story 2” adalah “sekuel pertama” dari “trilogi Toy Story”. Nehh, yang salah itu ketika menyebut film kedua dalam trilogi itu dengan sebutan “sekuel kedua”. Untuk lebih gampangnya begini, saya ambil contoh trilogi lagi, bahwa film kedua itu disebut “sekuel pertama” dan film ketiga disebut “sekuel kedua”, sebab yang pertama sudah punya nama “prekuel”.

7.       Mystery dan Horror
Sekali lagi jangan disamakan ya... Singkatnya kalo film mystery itu ada misteri di dalamnya seperti film-film “Detective Conan”. Di dalamnya ada misteri yang harus dikuak seperti dalang pembunuhan misalnya. Sedangkan kalo horror sudah jelas pokoknya kalau ada hantunya.

8.       Hitam Putih = Noir
Ada salah satu teman saya juga yang pernah mengatakan bahwa film hitam putih itu pastilah noir. Sebelumnya saya jelaskan kalau film noir itu biasanya diisi dengan keambiguan karakter dan motivasi seksual karakternya, seperti beberapa film-filmnya Alfred Hitchcock (agak mirip dengan crime). Noir sendiri dinyatakan sudah punah dan terakhir kali tercatat di akhir 50-an (kalau tidak salah), makanya filmnya berwarna hitam-putih. Jadi kalau ada film (khususnya yang baru) kalau di-shot pake hitam putih tidak bisa seenaknya disebut dengan noir.

9.       Remake dan Restore
Ada yang bingung ?. Ini mudah sekali. Dalam istilah film, kalau remake itu artinya dibuat ulang, baik dari cast dan crew yang berbeda dan bisa saja alur cerita yang sedikit berbeda. Sedangkan restore adalah film lama yang diperbaiki dari sumber aslinya (reel) baik dari segi kualitas gambar (menghilangkan bercak-bercak) maupun dengan menjernihkan suaranya.

10.   Film superhero Marvel = Marvel Cinematic Universe
Yang terakhir ini juga termasuk sering saya temui karena banyak yang menganggap bahwa semua film super hero yang berasal dari komik Marvel merupakan bagian dari Marvel Cinematic Universe. Hehehe....tidak seperti itu ya. Jadi MCU itu terbatas hanya film-film Marvel yang tergabung dalam satu semesta dan dibagi menjadi 3 fase dan masing-masingnya dikumpulkan dalam movie “The Avengers (1, 2, dan 3)”. Pokoknya kalau ada nama Kevin Feige di kursi produser, berarti film itu masuk dalam MCU. Hingga saat ini sudah ada 12 film dalam MCU yang diawali oleh “Iron Man” (2008) sampai yang terbaru “Ant-Man” (2015). Jadi kalau waralaba “X-Men” dan “Fantastic Four” misalnya, itu bukan termasuk dalam MCU. 

Oke, cukup sekian tulisan saya dan semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah, saya dengan senang hati menerima perbaikan serta semoga kalau ada “bagian kedua” nanti, saya bisa menghadirkan tulisan yang lebih baik lagi. Terima kasih.

3 komentar:

  1. Horror kan nggak harus hantu masbro hehe

    Nambahin miskonsepsi yang ngetren di Indonesia "nyamain film Indonesia yang bener-bener tayang (official selection) di Cannes sama yang dibawa kesana cuman buat jualan di lapak"

    BalasHapus
  2. kirain, noir tuh film yang ceritanya naratif dan ngambil sudut pandang pemain utama, kaya film watchmen atau fight club

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !