Kamis, 18 Juni 2015

INCENDIES [2010]


Saya selalu menyukai film yang menggunakan setting nyata dari sebuah peristiwa bersejarah, karena dari situ saya mendapat nilai tambah untuk mempelajarinya lebih lanjut. Film Kanada-Perancis garapan sutradara Denis Villeneuve ini sedikit mengingatkan saya pada film Argentina, The Secret in Their Eyes (2009). Bukan karena alur ceritanya memang, melainkan karena keduanya sama-sama menggunakan setting sebuah konflik/krisis yang terjadi di suatu daerah dan keduanya pun juga mengedepankan aspek misteri yang kuat. Incendies diangkat dari teatrikal drama karya Wajdi Mouawad pada tahun 2003, dan pada tahun 2011 berhasil masuk nominasi di Academy Awards untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.   

Nawal Marwan (Lubna Azabal) melalui notarisnya, Jean Lebel (Réemy Girard) menyampaikan permintaan terakhirnya pada anak kembarnya, Jeanne (Mélisa Désormeaus-Poulin) dan Simon (Maxim Gaudette) agar menemukan ayah dan saudaranya yang lain di negara tempat kelahirannya. Awalnya, Jeanne dan Simon meyakini bahwa ia tidak punya saudara lagi dan yang ia tahu bahwa ayahnya juga sudah meninggal selama perang di kota Daresh. Karena Simon enggan, akhirnya Jeanne memutuskan sendiri datang ke negara di daerah Timur Tengah tempat lahir ibunya, untuk mencari lokasi tempat ayahnya berada. Sedangkan Simon mendapatkan bagian untuk mencari keberadaan saudara mereka. Chapter pertama ini diberi judul Les Jumeaux atau yang berarti Si Kembar.

Chapter kedua berjudul “Nawal”, menceritakan masa lalu Nawal saat memiliki hubungan terlarang dengan pemuda muslim bernama Wahab (Hamed Najem). Namun naas, Wahab yang seorang pengungsi itu akhirnya tewas dibunuh oleh saudara Nawal. Nawal yang dianggap membawa kesialan pada keluarga, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan dibantu oleh neneknya. Bayi laki-laki itu kemudian dititipkan pada panti asuhan di Kfar Kout. Nawal lalu pindah ke kota bernama Daresh untuk melanjutkan studi Bahasa Perancis. Ia juga aktif dalam menentang partai Nasionalis di saat perang sipil antara kubu Muslim dan Kristen pecah. Setelah bertahun-tahun berlalu, Nawal kembali untuk menjemput anaknya. Tapi apa yang terjadi, panti asuhan tempat anaknya berada telah dihancurkan oleh kaum milisi.
Adegan pertama diawali dengan seorang anak laki-laki yang dicukur rambutnya, menatap dengan matanya yang seolah menyalakan api penuh dendam dan kebencian yang mendalam. Anak inilah yang akan menjadi kunci dari misteri yang tersebar dalam film ini. Sejak Jeanne mempertanyakan mengenai kenyataan terkait ayah dan saudaranya yang berlawanan dengan permintaan terakhir ibunya, saya sudah merasa bahwa ada unsur misteri yang siap untuk diikuti selama film berlangsung. Misteri berupa teka-teki keberadaan sekaligus kenyataan mengenai ayah si kembar itu, mengantarkan Jeanne ke sebuah negara ‘antah berantah’ di Timur Tengah, karena sama sekali negara tersebut tidak pernah dijelaskan namanya di sepanjang film. Dengan bersumber referensi yang saya cari, banyak yang mengaitkan negara yang menjadi setting dari Incendies ini adalah Lebanon. Di negara tersebut, memang pernah pecah perang sipil antara kubu Muslim dengan Kristen antara tahun 1975-1990. Semua nama kota yang digunakan dalam film inipun juga murni fiksi.   

Selain dibalut dengan unsur misteri yang menjadikan daya tariknya, Incendies juga kaya dengan karakternya yang kuat. Jeanne dan Simon, si kembar laki-laki dan perempuan ini memiliki watak yang cukup berseberangan. Jeanne terlihat lebih dewasa dan tenang dalam menangani setiap masalah. Sedangkan Simon lebih mudah naik darah dan selalu pesimis dalam masalah yang dihadapi. Masa lalu mereka berdua memang tidak dijelaskan secara rinci, tapi saya berasumsi bahwa mereka awalnya tidaklah dekat satu sama lain. Tapi, dengan wasiat berupa ‘petualangan’ pencarian dari ibunya ini, mereka mulai nampak akrab dan menunjukkan perasaan saling membutuhkan satu sama lain. Dari jajaran cast, saya menyukai pemilihan Mélisa Désormeaus-Poulin dan Maxim Gaudette yang keduanya memiliki kemiripan wajah untuk berperan sebagai saudara kembar.

Karakter Nawal sendiri digambarkan sebagai seorang wanita yang kuat, tegar, dan berpendirian ‘kokoh’. Dengan beraninya, ia membunuh pimpinan Partai Nasionalis yang radikal meski mereka memiliki kesamaan agama, karena apa yang diinginkan oleh Nawal tidak lain adalah perdamaian bagi kedua belah pihak, antara Muslim dengan Kristen. Tapi sering pula Nawal dimunculkan dalam keadaan diam dan tertegun cukup lama setiap ia tertimpa sebuah hal yang membuatnya begitu sedih dan terluka. Salah satunya adalah ketika adegan bus yang berisi warga Muslim yang ditembali milisi Kristen, dan Nawal tidak berhasil menyelamatkan seorang gadis kecil (adegan ini merupakan adegan paling menyayat hati dan membuat saya speechless). Segala pahit getir rasanya tidak pernah lepas dari hidupnya, dan itulah yang mengasahnya menjadi pribadi yang tangguh. Karakter Nawal Marwan ini berhasil mengambil hati saya dan benar-benar membuat terkesan.

Apa yang membuat saya begitu menyukai Incendies selain kehadiran misterinya yang seru untuk diikuti adalah penggunaan setting berupa konflik nyata dalam sejarah. Dalam hal ini adalah perang sipil akibat gesekan agama yang berbeda, meskipun tidak ditampilkan secara eksplisit. Adegan chaostic juga berhasil dibangun dengan cukup baik seperti pengungsi yang berlarian ke sana kemari dan tank-tank yang siap menyerbu, semakin menambah suasana yang mencekam di tengah-tengah peperangan. Cerita semakin seru dan mendebarkan ketika proses pencarian tersebut sempat melibatkan salah satu pemimpin milisi tertinggi. Tapi justru dari sanalah jawaban akan segala misteri mengenai ayah dan saudara si kembar berhasil didapatkan. Incendies ditutup dengan twist ending yang membuat breathtaking dan cukup membuat pikiran blowing. Denis Villeneuve telah berhasil menghadirkan sebuah sajian luar biasa dengan tone yang lambat di awal tapi meledak di akhir. Incendies berasal dari Bahasa Perancis yang memiliki arti “api”, api yang berkobar selama perang sipil, api kemarahan Nawal pada kaum Nasionalis, serta api yang membakar emosi penonton ketika menyaksikannya.       

ATAU 
9 / 10

4 komentar:

  1. beberapa kali sya mereewind beberapa adegan dan mendpati ending yg sanagt tragis dn memilukan,, tdk ada celah layak oscar

    BalasHapus
  2. bru mau nonton, semoga memang endingnya oke seperti film inception(meski beda genre), tapi yg diharapkan adalah sama sama twist ending

    BalasHapus
  3. kalau mau film yg berat lagi, saya recommendasikan Donnie Darko, Itu ending nya Top bgt, Cult Movie Fenomenal.

    BalasHapus
  4. Wow. Q baru aja selesai nonton inj film. Mind blowing. Kalo cuma liat plot garis besarnya kayaknya biasa. Tp setelah nonton... G usah nton. Liat plot ceritanya aja bagi yg suka genre gini pasti pengen nton. Dan nggak ngecewain. Sayang pendapatan mereka nggak melebihi pengeluaran. Tp cukup knowledge banyak dpt penghargaan. Recommend ini film bagi yg belum nonton and suka genre misteri dg setting gini 😀.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !