Minggu, 03 Mei 2015

SHUTTER ISLAND [2010]

Seorang Martin Scorsese dikenal dengan karya-karyanya berupa film bertemakan gangster Itali penuh dengan adegan kekerasan, sebut saja seperti Goodfellas (1990), Taxi Driver (1975), The Departed (2007), dan masih banyak lagi. Saya salah satu penikmat film yang paling sering memfavoritkan film-film Martin Scorsese. Tapi tidak jarang pula beberapa film dari Scorsese lepas dari trademark tersebut. Hugo (2011) yang bisa dibilang sebagai film terlembut dari seorang Scorsese, dan Shutter Island yang dirilis setahun sebelumnya yang begitu menegangkan dan mind-blowing.

Di Shutter Island, Leonardo DiCaprio berperan sebagai seorang marshal bernama Teddy Daniels. Bersama partnernya, Chuck Aule (Mark Ruffalo), ia mendapat permintaan dari Dr. Cawley (Ben Kingsley) untuk memecahkan misteri menghilangnya salah satu pasien rumah sakit jiwa Ashecliffe di Pulau Shutter. Menghilangnya pasien yang bernama Rachel Solando sangat misterius dan tidak masuk akal. Tidak ada satupun saksi yang sempat melihatnya di detik-detik menghilangnya. Dr. Cawley sebagai penanggung jawab RS jiwa tersebut menyarankan Teddy dan Chuck untuk tinggal sementara di pulau sembari menunggu badai di pulau tersebut mereda.

Keeseokan harinya, ditemukan lah secarik kertas berisikan catatan yang tertinggal di kamar Rachel Solando. Namun, dengan bantuan Dr. Cawley sekalipun masih belum ditemukan tanda-tanda kemana menghilangnya Rachel Solando. Sedikit demi sedikit bayang-bayang masa lalu dari Teddy pun terungkap meski masih terlihat samar-samar. Masa lalunya sebagai tentara Amerika ketika perang Normandia serta pembantaian terhadap tentara Jerman dan “penampakan” isterinya dengan menyebut nama pria misterius, Andrew Laeddis, masih menjadi misteri yang bertumpukan. Hingga akhirnya Teddy menyadari ada yang terasa janggal dengan RS jiwa Ashecliffe. Ia teringat dengan seorang pria bernama George Noyce yang menjadi korban eksperimen di RS jiwa tersebut. Dari situ lah Teddy merasa bahwa ia dengan Chuck telah dijebak untuk kemudian dijadikan korban berikutnya. Ketika Teddy merasa semua misteri yang awalnya samar tiba-tiba semakin jelas, maka tiba-tiba Rachel Solando akhirnya ditemukan. Lalu, bagaimana dan di mana Rachel Solando melarikan diri ?
Gelap, menegangkan, dan membuat bertanya-bertanya. Itulah kesan pertama hingga pertengahan ketika menonton Shutter Island. Banyak misteri yang dimunculkan sedari awal termasuk masa lalu Teddy menambah semakin banyaknya beban yang dirasakan penonton untuk menyusun misteri tersebut menjadi satu kesatuan jawaban. Keberadaan Chuck di sini membuat saya di ambang keraguan. Apakah dia benar-benar orang yang terlibat di sini atau kah hanya sekedar decoy? Semua karakter pendukung di sini memiliki peranan penting sendiri-sendiri, termasuk seorang dokter Jerman, Dr. Naehring (Max von Sydow). Penambahan efek CGI ternyata juga banyak digunakan pada film ini. Hal tersebut bisa dikatakan mempengaruhi beberapa film Scorsese berikutnya.

Secara keseluruhan Shutter Island memiliki tempo penceritaan yang lumayan cepat. Ending twist di sini memang dijadikan Martin Scorsese sebagai alat pamungkas. Semua dialog dari menit-menit awal jika dicermati dengan sangat baik sebenarnya merujuk jawaban akhir dari film ini. Memang perlu menonton lebih dari satu kali untuk membuktikannya. Shutter Island memang mengingatkan saya kepada salah satu mahakaryanya Alfred Hitchcock, Vertigo (1958). Ending twist dan jawaban yang membuat mind-blowing menjadi sedikit kemiripan keduanya. Perbedaannya adalah jika Shutter Island dibangun dengan banyak menebar misteri di sana sini, maka Vertigo berjalan lebih tenang tanpa membuat penontonnya tahu bahwa ada misteri yang disebar. Well, saya tidak akan membahas banyak mengenai Vertigo. Overall, saya sangat menikmati Shutter Island. Sajian yang luar biasa meski bukan karya terbaik dari seorang Martin Scorsese. 
ATAU
8,5 / 10

7 komentar:

  1. apakah ini semacam film horor?

    BalasHapus
  2. jujur saya udah beberapa kali nonton tapi tetep ga ngerti hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut ku jawabannya di balikin ke penonton. teddy daniels benar" gila n ngebuat fantasi cerita di alam fikirannya. atau dia terjebak di sana di jadiin pasien

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. kalau menurut aku sih menonton film ini cuman buang-buang waktu dan uang.
    sama dengan sinetron indonesia berputar-putar gak jelas. mending nontom naruto 😂

    BalasHapus
  5. Intinya si 'leonardo'ini,..korban dari konspirasi besar,..yang berada d pulau tsb.(dokter,polisi,kepala rumah sakit,..bahkan rekannya sendiri) sudah mnjebaknya,..

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !