Bahwasanya
bila fairytale tidak selalu berakhir
dengan bahagia memang ada benarnya juga. Saya pun terkadang juga berfikir
seperti itu. Dewasa ini fairytale pun
sudah tidak lagi identik dengan dunia anak-anak yang menyenangkan. Bahkan jauh
dari bayangan kebanyakan anak-anak bahwa fairytale
dipenuhi dengan aneka macam keindahan, yang ada adalah justru setiap bagiannya
berisikan kesedihan, kekejaman, dan nuansa yang kelam. Mungkin itulah yang
sedikit saya tangkap dari karya Guillermo del Toro berjudul “Pan’s Labyrinth”
(2006). Senada dengan film tersebut, karya sutradara Itali Matteo Garrone
bertajuk “Tale of Tales” ini setidaknya juga mempergunakan premis menarik
tersebut.
Rabu, 16 September 2015
TOP 5 MASTURBATION SCENE
<Mungkin Mengandung Spoiler>
Tulisan ini mungkin adalah bentuk dari bingungnya saya
dalam mengisi postingan di blog khusus untuk hari ini. Hampir seharian ini
belum ada film baru yang saya tonton. Atau mungkin lebih tepatnya adalah
kehilangan mood dalam menonton film,
padahal gairah dalam menulis sedang bagus-bagusnya. Dari koleksi film dalam
“gudang persediaan” juga tidak ada yang sanggup menjadi mood-booster. Maka sekilas terpikirkanlah ide untuk melanjutkan TOP
5 yang sempat terbengkalai ini.
TOP 5 BENCH SCENE
Kira-kira dalam sebuah film, lokasi apa yang biasa terdapat
adegan paling ikonik ?. Banyak, baik itu bar, kamar tidur, restoran, bahkan hingga
toilet. Dari sekian lokasi yang sering digunakan dalam film, saya paling
menyoroti mengenai bench (bangku) ini.
Tidak sedikit memang saya menemukan beberapa film yang berisi adegan percakapan
karakternya sambil duduk di atas bangku. Di antaranya juga sampai mendapat
predikat paling ikonik sebab adegan itu seolah memiliki daya magis yang luar
biasa.
TYRANNOSAUR [2011]
Jangan terjebak akan judul hingga
poster dari film ini. Meski menggunakan nama salah satu dari dinosaurus, tapi
film ini sama sekali tidak bercerita mengenai kadal besar tersebut. Semua akan
kembali pada interpretasi penonton bagaimana menerjemahkan judulnya. Meski di
dalamnya filmnya disebut beberapa kali, tapi saya pribadi lebih suka bila
judulnya merupakan arti secara metafora. “Tyrannosaur” karya debut dari Paddy Considine
ini sebetulnya merupakan drama yang bercerita mengenai pergolakan batin seorang
manusia. Di mana ketika mereka menahan amarah hingga di ambang batas, hal-hal
yang tidak terduga nyatanya mampu terjadi.
Senin, 14 September 2015
REAR WINDOW [1954]

Satu lagi karya besar dari seorang
“Master of Suspense” yang wajib ditonton dan begitu dikenal luas ini. Sama
dengan karya Alfred Hitchcock yang lainnya, “Rear Window” tentunya tidak lepas
dengan unsur thriller dan suspense. Tidak hanya itu, film yang dibintangi
aktor legendaris James Stewart ini bahkan memiliki ciri khas yang unik bila
dibanding film-film Hitchcock lainnya terutama dari penggunaan set lokasi. Eksplorasi
karakter yang menarik terutama dari relasinya dengan karakter yang lain membuat
saya begitu menyukai film ini. Itu memang salah satu keahlian yang dimiliki
oleh Hitchcock selain kelihaiannya dalam menciptakan atmosfir menegangkan bagi
penonton hingga permainan dari sisi psikologis.
Sabtu, 12 September 2015
AWAL SUKA FILM
Bagi saya, dua hari tidak menulis
merupakan waktu yang cukup lama, mengingat seringnya saya dengan hobi baru ini
terhitung sejak membuat blog. Tidak tahu mengapa, saya merasa mulai nyaman
sekali dengan tulis menulis, meskipun kualitasnya tidaklah sebagus blog ulasan
film lainnya. Rasanya jari-jari ini gatal sekali bila sehari tidak menulis. Baik,
cukuplah curhatan singkatnya. Dalam tulisan kali ini saya hanya sekedar ingin
berceloteh mengenai awal perjalanan bisa mengenal film. Saya memang cukup
sering menonton film, meski tidak bisa disebut juga sebagai freak, sebab jumlah yang saya tonton pun
masihlah sedikit. Apalagi pengetahuan lebih rinci mengenai sejarahnya,
orang-orang terkenal di baliknya, hingga judul-judulnya sendiri mungkin masih
amat sangat sedikit.
Rabu, 09 September 2015
TED 2 [2015]
Sejak perkenalan pertama lewat si
boneka beruang yang doyan mengumpat ini, saya langsung sangat menyukai karakter
ini. Tidak tanggung-tanggung, tiga kali menonton filmnya pun masih membuat saya
tertawa terbahak-bahak dengan ulah menggemaskan Ted. Tapi tidak untuk sekuel
ini. Ya, saya memang masih tertawa di beberapa momennya, tapi saya akui malas untuk
menontonnya lagi. Sekalipun jika harus mengunduh dengan cara gratisan. Melihat
kesuksesan luar biasa dari seri pendahulunya (baik komersial maupun kritik),
bukan tidak mungkin kalau Ted diharapkan sanggup menjadi ‘mesin pencetak uang’
lagi. Sayangnya, hasilnya adalah masih tetap sama dengan film pertama, dan yang
berbeda hanya terletak pada penambahan angka “2” di judulnya dan hengkangnya
Mila Kunis.





