Rabu, 16 September 2015

TYRANNOSAUR [2011]

Jangan terjebak akan judul hingga poster dari film ini. Meski menggunakan nama salah satu dari dinosaurus, tapi film ini sama sekali tidak bercerita mengenai kadal besar tersebut. Semua akan kembali pada interpretasi penonton bagaimana menerjemahkan judulnya. Meski di dalamnya filmnya disebut beberapa kali, tapi saya pribadi lebih suka bila judulnya merupakan arti secara metafora. “Tyrannosaur” karya debut dari Paddy Considine ini sebetulnya merupakan drama yang bercerita mengenai pergolakan batin seorang manusia. Di mana ketika mereka menahan amarah hingga di ambang batas, hal-hal yang tidak terduga nyatanya mampu terjadi.

Kesal karena masalah judi, seorang pria paruh baya yang hobi mabuk, Joseph (Peter Mullan) menendang anjing kesayangannya hingga tewas seketika. Joseph adalah tipikal pria yang mudah naik darah dan tidak segan melukai siapa saja yang membuatnya marah. Suatu ketika setelah memukuli beberapa pemuda, ia lalu bersembunyi di sebuah toko kecil milik Hannah (Olivia Colman). Siapa sangka pertemuan awal tersebut merupakan awal pertemanan baik mereka berdua. Di balik Joseph, Hannah berlindung dari kekerasan yang dilakukan oleh suaminya.

Joseph dan Hannah, sebelumnya diperlihatkan bahwa karakter mereka berdua sangatlah berbeda jauh. Joseph seorang pemabuk yang mudah marah dan suka memukul, sedangkah Hannah adalah wanita kalem yang sangat relijius. Dua karakter yang berbeda jauh itu rupanya mampu berjalan dengan baik seiring berjalannya waktu. Tentunya untuk menuju ke arah tersebut bukanlah melalui jalan yang mudah. Sebab awal perkenalan mereka sendiri masihlah dipenuhi perbedaan terutama dari pihak Joseph yang pernah memaki-maki dan membuat sakit hati Hannah. Mungkin Joseph tidaklah seburuk itu. Ia masih tahu diri untuk meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya pada Hannah. Kejadian sebelumnya ketika Joseph memukuli beberapa pemuda pun berakhir dengan kesadaran dan ada secercah rasa bersalah atas apa yang diperbuatnya. Meski Joseph mudah naik darah, rupanya ia juga tipe orang yang amarahnya cepat mereda.

“Tyrannosaur” menyoroti konflik yang dialami dalam diri manusia. Sebuah konflik yang mempertanyakan mengenai apakah yang akan dilakukan oleh manusia ketika mereka dalam keadaan tertentu, seperti marah, sedih, sakit, atau bahagia. “Tyrannosaur” mengambil beberapa contoh tersebut lewat dua karakter sentral yang digambarkan di sini. Ketika sedang marah, apakah yang dilakukan oleh Joseph ?. Oh, ternyata ia memukuli orang yang membuatnya marah tersebut atau mungkin merusak beberapa barang-barangnya. Ketika sedang marah, apakah yang dilakukan oleh Hannah ?. Oh, rupanya ia lampiaskan amarahnya itu dengan melemparkan benda-benda sehingga terkadang tampak sedikit menurunkan nilai relijiusnya. Karakter-karakter tersebut digambarkan dengan begitu realistis karena apa yang dilakukan keduanya memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Paddy Considine dengan bagusnya menggali lebih mendalam antara dua karakter tersebut. Tentu saja itu juga didukung oleh performa yang outstanding dari Peter Mullan dan Olivia Colman.

Setiap manusia pada dasarnya memiliki inner demon-nya masing-masing. Terkadang sisi paling dalam tersebut memang tidak pernah terlihat dari luar. Manakala manusia dihadapkan dalam keadaan seperti marah atau kesal contohnya, mereka diberikan dua pilihan untuk menahannya kuat-kuat atau mungkin justru dilampiaskan dengan hal-hal yang bersifat destruktif. Kesemuanya pun turut ‘bertarung’ melawannya demi mengharapkan hasil yang berdampak positif. Tapi sayangnya tidak semua manusia mampu melawannya dan bahkan mungkin cenderung menurutinya. Hal tersebut lantas dituangkan ke dalam dua karakter yang berbeda watak ini walau kemudian kita ketahui bahwa dari keduanya memiliki sisi lain yang jauh berbeda. Keduanya mewakili secara garis besar karakter manusia yang bahwasanya manusia memanglah sulit ditebak. Ya, hal itu juga berlaku untuk Joseph dan Hannah yang sedari awal mungkin tidak kita sadari bagaimana sisi terdalam dari mereka berdua. 

Sebetulnya naskah yang ditulis oleh Paddy Considine mungkin teramat predictable. Tapi kekurangan kecil tersebut mampu ditutupi dengan baik oleh pendalaman karakter, performa yang sangat bagus, dan pengemasan yang menarik. Kekurangan itupun lantas seakan tidak memberikan pengaruh berarti pada nilai keindahan dari keseluruhan film. Peter Mullan memang sanggup membuat saya terpaku oleh penampilan apik yang dibawakannya. Ia sukses memerankan seorang Joseph yang tidak memberikan empati pada lawannya, tapi mampu membuat saya mencurahkan simpati padanya. Considine juga dengan begitu lihainya menyelipkan twist menjelang konklusinya. Sebuah twist yang sebenarnya tidaklah terlalu menggetarkan, tapi terbukti efektif untuk memperkuat karakter yang ada. Berdasarkan ulasan sederhana ini, saya rasa Anda sudah memahami betul makna dari kata Tyrannosaur yang menjadi judul film ini. Serta apa makna yang terkandung di balik posternya lewat gambar rangka Tyrannosaur yang terkubur dalam-dalam di bawah tanah.
7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !