Rabu, 09 September 2015

TED 2 [2015]

Sejak perkenalan pertama lewat si boneka beruang yang doyan mengumpat ini, saya langsung sangat menyukai karakter ini. Tidak tanggung-tanggung, tiga kali menonton filmnya pun masih membuat saya tertawa terbahak-bahak dengan ulah menggemaskan Ted. Tapi tidak untuk sekuel ini. Ya, saya memang masih tertawa di beberapa momennya, tapi saya akui malas untuk menontonnya lagi. Sekalipun jika harus mengunduh dengan cara gratisan. Melihat kesuksesan luar biasa dari seri pendahulunya (baik komersial maupun kritik), bukan tidak mungkin kalau Ted diharapkan sanggup menjadi ‘mesin pencetak uang’ lagi. Sayangnya, hasilnya adalah masih tetap sama dengan film pertama, dan yang berbeda hanya terletak pada penambahan angka “2” di judulnya dan hengkangnya Mila Kunis.

Melanjutkan film sebelumnya, Ted (Seth MacFarlane) kini menikahi kekasihnya yang juga rekan kerjanya di minimarket, Tami-Lynn (Jessica Barth). Sayangnya, perasaan gembira itu justru berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh sahabatnya, John (Mark Wahlberg) yang telah bercerai dengan Lori (sebelumnya diperankan Mila Kunis). Masalah pun datang ketika Ted menginginkan seorang anak dan keputusannya tersebut ditentang oleh pemerintah setempat yang menganggapnya hanya ‘properti’. Dengan bantuan pengacara muda, Sam (Amanda Seyfried) Ted berusaha mendapatkan haknya sebagai manusia dan memperoleh anak.

Apa, Ted ingin memiliki anak ?. Benar, tapi semua penonton tentunya sudah tahu jika itu memang merupakan salah satu lelucon dari film yang kembali dinahkodai oleh Seth MacFarlane ini. Langkah yang Ted tempuh bersama sahabat masa kecilnya, John, tentulah dipenuhi dengan kekonyolan-kekonyolan yang tidak masuk akal. Salah satunya saya sebutkan di sini adalah meminta sumbangan ‘sperma’ dari Sam J. Jones/Flash Gordon, yang sekali lagi ia muncul di sini. Tentu saja saya tidak akan menjelasakan dari sudut mana hal itu bisa konyol, karena pastinya Anda sudah mengetahuinya. Seperti yang saya kemukakan di bagian awal, bahwasanya “Ted 2” merupakan ‘daur ulang’ dari film pertamanya. Masih dipenuhi lelucon dewasa yang menyerempet porno, pot, umpatan-umpatan kasar, dan lelucon slaptick nan jorok lainnya. Tidak lupa MacFarlane juga turut mengundang beberapa cameo yang meski bukan hal baru lagi, tapi masih terlihat bagus daripada lelucon lamanya. 

Apakah lelucon tersebut masih efektif mengundang tawa ?. Untuk saya pribadi, ‘sebagian kecil’ masih membuat saya tertawa dan sisanya hanyalah lelucon brainless yang membosankan. Ingat, hanya sedikit sekali yang sanggup membuat saya tertawa. Karena apa yang saya lihat tidak lain masih perihal rebutan minuman keras dan aksi saling tonjok antara Ted dan John. Komedi yang sebagian besar gagal membuat tertawa itu diperparah dengan beberapa guyonan yang terasa hyperbolis dan cheesy. Naskah yang turut pula ditulis oleh MacFarlane ini sama sekali tidak memberikan sesuatu yang baru dan benar-benar menghibur bagi penonton. Akibatnya, karakter yang ada pun menjadi kelewat bodoh daripada ketika pertama kali kita kenal di film pertamanya. Tentu saja kebodohan semacam itu sengaja diciptakan oleh MacFarlane dengan harapan masih membangkitkan tawa penonton yang sayangnya gagal total dalam pelaksanaannya. Kesan ‘daur ulang’ itupun semakin terasa lagi ketika sang musuh (Giovanni Ribisi) kembali dimunculkan di sini. 

Dari segala banyak kekurangan yang saya tulis di atas, adakah nilai plus dalam film ini ?. Jika saya pikir lagi, mungkin unsur drama mengenai perjuangan Ted dalam mendapatkan haknya untuk diakui sebagai manusia, masihlah sedikit menyelamatkan film ini. Sayangnya kembali lagi, emosi di bagian ini memang benar-benar hilang dan terasa sangat hambar. Saya katakan bahwa hingga akhir film pun, hampir tidak ada momen-momen yang terasa dramatis dan menyentuh, bila kita mencoba sedikit untuk membandingkan dengan kelebihan prekuelnya. Bukan masalah sebenarnya bila memasukkan banyak guyonan kasar di sepanjang film (walaupun garing), tapi setidaknya berikanlah sesekali ‘hati’ di sini. Paling tidak penonton bisa kembali mencintai sosok “Teddy pengumpat” yang amat menggemaskan itu. Terlebih, tidak habis pikir pula bila MacFarlane membuat konklusi film ini menjadi terlihat sangat buruk dan terlalu dipaksakan. Karakter “bos Hasbro” yang sebenarnya cukup berpotensi menjadi villain baru pun tidak dimanfaatkan dengan baik alias numpang lewat saja.  

“Ted 2” mungkin dapat dianalogikan sebagai selembar tisu, jika ia selesai maka sudah seharusnya dibuang. Membersihkannya lagi untuk dapat digunakan kembali tentulah hal yang tidak mungkin. “Ted 2” pun juga begitu, ia serasa sudah game over sejak film pertamanya. Tidak ada pengembangan cerita lagi dari naskah yang juga ditulis oleh Alec Sulkin dan Wellesley Wild. “Ted 2” mungkin saja dapat berakhir sebagai film yang menyenangkan dan memorable jika sekuel ini tidaklah harus dibuat. Namun mau bagaimana lagi, selama masih bisa mencetak lembaran-lembaran dollar meski harus merusak apa yang pernah ada, tentulah tetap dilakukan. Tidak sampai membuatnya disebut garbage memang, tapi “Ted 2” masihlah sebuah film yang amat sangat mengecewakan. Banyak potensi yang terbuang (termasuk di dalamnya juga Amanda Seyfried), pengulangan yang tiada habisnya (lagunya “Tiffany – I Think We’re Alone Now” juga kembali hadir), dan disempurnakan dengan konklusi yang buruk juga.         
5 / 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !