Senin, 14 September 2015

REAR WINDOW [1954]

**FILM SUPER**

Satu lagi karya besar dari seorang “Master of Suspense” yang wajib ditonton dan begitu dikenal luas ini. Sama dengan karya Alfred Hitchcock yang lainnya, “Rear Window” tentunya tidak lepas dengan unsur thriller dan suspense. Tidak hanya itu, film yang dibintangi aktor legendaris James Stewart ini bahkan memiliki ciri khas yang unik bila dibanding film-film Hitchcock lainnya terutama dari penggunaan set lokasi. Eksplorasi karakter yang menarik terutama dari relasinya dengan karakter yang lain membuat saya begitu menyukai film ini. Itu memang salah satu keahlian yang dimiliki oleh Hitchcock selain kelihaiannya dalam menciptakan atmosfir menegangkan bagi penonton hingga permainan dari sisi psikologis.

“Rear Window” bercerita mengenai seorang fotografer handal bernama L.B. Jefferies (James Stewart) yang harus menerima kenyataan bahwa kakinya patah saat pengambilan gambar. Ia habiskan waktu sekitar 6 bulan lamanya dalam apartemen dan hanya bisa duduk di atas kursi roda sembari mengawasi kegiatan tetangganya lewat jendela belakang apartemen. Suatu ketika, ia mendengar suara jeritan histeris dan mencurigai bahwa salah satu penghuni belakang apartemennya itu telah membunuh isterinya sendiri. Kecurigaannya semakin menjadi-jadi ketika ia sedikit demi sedikit mencoba mengumpulkan bukti dan meminta bantuan teman detektifnya, Thomas Doyle (Wendell Corey).

“Rear Window” sendiri adalah tipikal film slow burn yang mungkin tidak semua orang dapat menikmatinya. Khususnya di bagian awal lewat perkenalan para karakter dengan pace yang cukup lambat. Sejatinya bahwa bagian pembukaan itu dimaksudkan bagi penonton supaya lebih menyelami lebih dalam para karakter yang ada beserta problematika yang menghinggapinya. Di sini kita akan mengenal sosok L.B. Jefferies, seorang fotografer profesional spesialis tempat-tempat eksotis yang juga seorang petualang. Maka dengan permasalahan seperti yang saya tuliskan pada sinopsis di atas, Anda pastinya dapat merasakan betapa sulitnya apa yang kini dilalui oleh Jeff. Masa-masa sulit itu rupanya bertambah lewat hubungannya yang cukup rumit dengan sang kekasih dari kalangan sosialita, Lisa Fremont (Grace Kelly). Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda jauh dan sempat menjadi hambatan untuk menapaki masa depan. Hingga kemudian peristiwa misterius datang dari belakang apartemen itulah yang mempersatukan keduanya menjadi lebih erat.

Dari pendalaman karakter yang sanggup membuat rasa simpatik itu tidak lantas hanya tercurah pada karakter Jeff dan Lisa semata. Dengan hebatnya, Hitchcock mampu membuat karakter-karakter figuran lainnya menjadi spotlight dan tidak sekedar numpang lewat semata. Sebagai contohnya karakter Ny. Lonelyhearts yang seorang wanita kesepian pun mampu mengundang simpati saya sekalipun perannya sendiri hanya sebagai pelengkap. Karakter-karakter berporsi kecil itu menjadi lebih terfokus melalui karakter Jeff yang jika kita tilik lagi memang memiliki hobi mengintip (voyeurism), ataukah hanya sekedar pembunuh kebosanan semata ?. Tentunya sangat menarik sekali bila harus mengupas pendalaman karakter yang muncul dalam film ini, terutama pada Jeff itu sendiri. Entah hobi atau keisengannya, hal itulah yang kemudian mengantarkannya pada masalah yang lebih kompleks lagi. Yaitu meyakini adanya peristiwa pembunuhan meski ia sendiri tidak melihat secara pasti apa yang telah terjadi. Pastinya hanya ada dua jawaban terkait hal itu, bisa saja ia benar atau salah. 

Atmosfir menegangkan yang dibangun bukanlah lewat mengumbar adegan-adegan kekerasan seperti dalam film-film thriller pada umumnya. Melainkan lebih pada argumen-argumen yang dimiliki oleh Jeff untuk meyakinkan terjadinya pembunuhan. Suasana tegang itupun dihidupkan lewat peminimalisiran penggunaan skoring musik agar terasa lebih nyata. Bagaimana proses Jeff mengumpulkan fakta-fakta hingga beradu pendapat dengan Detektif Doyle merupakan bagian dari unsur thrill itu sendiri. Kelemahan yang dialaminya lewat patah kaki itupun mengisyaratkan bahwa tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk membongkar kasus tersebut. Maka di sinilah peran besar Lisa dan seorang perawat, Stella (Thelma Ritter) amat sangat dibutuhkan. Stella yang tampil komikal dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos itu mampu mendinginkan suasana tegang dan cukup menghibur. Pun begitu dengan Lisa, sungguh menyenangkan melihat ia tidak berakhir sebagai karakter yang annoying dengan gaya busananya. Justru ia menjadi penyempurna setiap rencana yang tidak sanggup dilakukan oleh Jeff.  

Dalam peristiwa misterius tersebut, Jeff begitu yakin dan bersikukuh bahwa kecurigaannya selama ini benar adanya. Penonton pun diajak untuk masuk ke dalam karakter Jeff dan merasakan pula apa yang ia rasakan. Perasaan yakin, penasaran yang sangat, hingga takut ketahuan pun ikut mampir dalam benak penonton. Untuk menghidupkan kesan itu, “Rear Window” banyak mengambil gambar jarak dekat seolah-olah penonton adalah Jeff yang menggunakan telephoto lens atau teropong. Hal itu juga ditunjang dengan penggunaan set lokasi berupa dua apartemen yang cukup sempit. Meski sebagian besar gambar diambil di dalam studio yang telah disulap menjadi apartemen, tapi sempitnya lokasi itu makin meningkatkan perasaan yang mendebarkan, was-was, dan ‘tidak nyaman’ (in a positive way). Hingga pada akhirnya, “Rear Window” tidaklah berbicara mengenai benar atau salahnya argumen milik Jeff. “Rear Window” adalah bentuk eksplorasi karakter dimana kita turut ambil bagian atas kepercayaan yang dimiliki oleh karakter tersebut. Entah orang yang dicurigai tersebut pembunuh atau bukan, semua itu tidaklah penting.

Sekali lagi film ini adalah bukti kejeniusan dari seorang Alfred Hitchcock. Ia pandai mempermainkan emosi penonton untuk turut ambil bagian dalam permasalahan yang ada. Berbagai karakterisasi yang sangat menarik turut Hitchcock campur baurkan di sini. Berjalan sangat lambat di awal dan diakhiri dengan klimaks yang meningkat dan penuh ketegangan. Sebagai tambahan, kejelian mata Anda akan ditantang untuk mencari cameo  legendaris dari sang “Master of Suspense” di sini.   

9,5 / 10

3 komentar:

  1. Film kaya alfred hitchcock memang luar biasa..
    rear window salah satu film favorite saya.. dari sudut jendela mengungkap kasus pembunuhan berencana...

    BalasHapus
  2. ya! benar, film2 Hitchcock memang luar biasa.
    Kalo karya Hitchcock favorit saya adalah Vertigo (1958)

    Terima kasih mas Irwan sudah mampir ke blog jelek ini ^_^

    BalasHapus
  3. film yang bagus ... tahun 1954 di buat tapi seakan melihat tahun 80an di indonesia hehe... 9 dech poin gw buat nie film.
    jangan lupa berkunjung ke blog saya di herilovemetallica.blogspot.com ya...all

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !