Senin, 08 Februari 2016

CREED [2015]

Seorang remaja belasan tahun terlibat perkelahian hingga membuat orang-orang dewasa memisahkannya. Dari tempatnya, bisa diidentifikasi bila tempat kejadian ada di penjara anak dan remaja. Salah satu dari remaja tersebut mengaku bernama Adonis “Donnie” Johnson (Alex Henderson). Tidak lama, datanglah seorang wanita menjenguknya. Ia bernama Mary Anne Creed (Phylicia Rashad). Kedatangannya adalah untuk mengajak Donnie tinggal di rumahnya dan memulai hidup yang lebih baik.

Belasan tahun berlalu, Donnie (Michael B. Jordan) kini bekerja di sebuah perusahaan dengan posisi bagus. Namun gairahnya ternyata lebih banyak tertuju pada olahraga tinju. Ia memilih resign. Wajar saja, dia adalah anak biologis dari Apollo Creed, karakter petinju dalam franchise “Rocky” (kemunculannya pada “Rocky” pertama [1976] hingga “Rocky IV” [1985]. Dengan banyak kemunculannya di sebagian besar seri “Rocky,” menasbihkan Apollo Creed sebagai lawan tangguh bagi Rocky Balboa. Darah tinju dari Apollo pun mengalir deras pada Donnie.

Donnie bertekad berlatih pada Rocky Balboa (Sylvester Stallone), seseorang yang ia tahu telah mengalahkan Apollo Creed. Meski memiliki darah Apollo, Donnie tidak lantas ingin mendompleng nama besar ayah yang tidak pernah dikenalnya itu. Ia ingin membesarkan namanya sendiri lewat nama peninggalan ibu kandungnya yang tidak lain adalah selingkuhan dari Apollo. Tagline dari “Creed” sebenarnya sudah menjawab apa yang akan Donnie lakukan selanjutnya. Sebab kita tahu pada akhirnya, Donnie tetap dikenal dan bahkan kelak memakai nama “Creed.”

Rocky kini sudah menjauh dari dunia tinju dan sasana. Ia membuka usaha restoran. Apakah yang terjadi bila seorang legenda yang telah pensiun dimintai melatih seseorang yang masih pemula? Sudah pasti ditolak. Untung saja penolakan tidak lama. Rocky pun bersedia melatih, walau kemudian semua diserahkan sepenuhnya pada Donnie. Keputusan Rocky untuk melatih Donnie memang terasa terlalu cepat. Apa yang melatar belakanginya? Apakah itu juga karena passion dalam dirinya? Apakah karena Donnie adalah figur ‘anak yang hilang’ darinya? Apakah semua karena creed (keyakinan)? Ataukah karena Creed?

“Creed” disutradarai oleh Ryan Coogler yang sebelumnya membidani “Fruitvale Station” (2013) dan dibintangi pula oleh Michael B. Jordan. Naskahnya ia tulis bersama Aaron Covington. Saya merasa, “Creed” sendiri adalah upaya Sylvester Stallone kembali menghidupkan karakter legenda Rocky Balboa yang telah membesarkan namanya. Stallone sendiri sepertinya juga tidak bisa dipisahkan dengan imej karakter petinju. Tengok saja “Grudge Match” (2013) saat ia beradu peran dengan Robert De Niro yang dikenal lewat perannya sebagai petinju Jake La Motta di “Raging Bull” (1980).

“Creed” adalah installment ketujuh dari franchise “Rocky” sekaligus sebagai spin-off. Tidak terbantahkan bila akhirnya “Creed” ini menjadi semacam fan-service bagi pecinta seri “Rocky.” Apalagi menghidupkan kembali sosok Apollo Creed yang legendaris meski hanya menjadi bayangan dari Donnie. Jujur saja saya yang tidak terlalu mengikuti perjalanan Rocky Balboa. Tapi saya harus mengakui bahwa “Creed” adalah film yang benar-benar bagus. Mulai naskah, akting, penyutradaraan, hingga musik menjadi bagian yang vital. 

Saya juga tidak pernah antusias dengan olahraga tinju (ayah saya sangat menyukainya), tapi “Creed” membuat saya meyakini bila tinju adalah salah satu cabang olahraga yang penting. Ini olahraga yang keras dan berisiko tinggi. Nyawa bisa menjadi pertaruhannya. Saya tahu itu. Tapi ini semua tentang passion. Tentang ideologi. Tentang impian. Saya melihat “Creed” dari sudut pandang itu. 

Di film ini Rocky dikisahkan telah pensiun dari dunia tinju. Ia bahkan menjauhkan diri dari semua hal yang berbau tinju. Tapi lain lagi bila bicara soal gairah. Saya percaya dalam hati kecilnya, Rocky masih mencintai dunia tinju. Keputusannya menerima Donnie sebagai anak asuh boleh jadi karena Donnie memiliki apa yang tidak anak kandungnya miliki. Itulah mengapa saya menyebut Donnie sebagai ‘anak yang hilang.’ Dan Donnie telah menganggap Rocky sebagai figur ayah yang tidak pernah ia miliki.

Bagian klimaks dari “Creed” menghadirkan pertarungan final antara Donnie dengan petinju dari Inggris, Ricky Conlan (diperankan oleh Anthony Bellew yang juga seorang petinju profesional). Pertandingan keduanya sangatlah seru. Editing cepat dan berenergi dari Michael P. Shawver dan Claudia Costello mengimbangi pertarungan keduanya. Saya pun begitu intens memerhatikan keduanya yang terlibat adu jotos. Rasanya tidak sedetik pun mata ini melepas pandangan. Maka dengan ini “Creed” lewat tangan Coogler dan sentuhan Stallone, sukses kembali membangkitkan nama Rocky Balboa meski hanya sebagai karakter pendukung.

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !