Melihat
posternya yang dipenuhi deretan monster
berwarna warni yang terlihat begitu menarik, “Monster Hunt” yang disebut-sebut
sebagai film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Tiongkok ini memiliki
banyak pengharapan untuk ditonton. Dari tampilan luarnya, pastinya banyak action menarik yang bisa ditonton. Melihat
desain para monster-nya, unsur komedi
pastilah ada di dalamnya. Syarat-syarat tersebut kemudian disempurnakan lewat
pendapatan besar yang tentunya merupakan bukti bila film ini sangat
menjanjikan. Mungkin sudah terbaca bila substansi ceritanya tidaklah begitu
kuat, namun balutan visual ditambah koreografinya yang menarik tentulah diharapkan
bisa menambal kekurangan tersebut. Raman Hui selaku sutradara memang sadar diri
membuat “Monster Hunt” sebagai film yang style
over substance, jadi bila penonton merasa tidak sampai terikat ke dalam
kisahnya memang bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan lagi.
Kamis, 24 September 2015
Rabu, 23 September 2015
SHARKNADO 3 : OH HELL NO! [2015]
Dalam lingkup B-Movie, mungkin hingga kini belum ada yang sampai menyamai
‘kehebatan’ dan ‘kemustahilan’ yang dimiliki oleh franchise “Sharknado” ini. Film yang menjadi ‘perkawinan’ antara
“Jaws” dengan “Twister” ini nyatanya mampu menarik perhatian khalayak untuk
menontonnya dan jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung bila mengingat ini adalah
film dengan grade rendah. Bahkan pada
salah satu channel di Youtube pun,
film ini pernah menjadi bahan olok-olokan, baik lewat CGI maupun kualitas
aktingnya. Namun itu semua hanya dimaksudkan untuk bahan candaan semata karena
kita semua juga tahu bahwa “Sharknado” sedari awal murni dibuat sebagai hiburan
ringan. Dari sub-judul yang berbunyi “Oh Hell No!”, jelas sekali installment ketiga ini menawarkan
sesuatu yang jauh lebih konyol, lebih bodoh, dan tentunya di luar logika
manusia normal.
Senin, 21 September 2015
TRUE MASKED RIDER : PROLOGUE [1992]
Yup,
inilah ulasan pertama saya tentang tokusatsu
(superhero Jepang). Mungkin bagi sebagian besar yang mengaku suka dengan tokusatsu, “Masked Rider” (Kamen Rider)
tentunya salah satu serial yang sangat tidak asing. Bahkan bisa dikatakan bahwa
“Masked Rider” memiliki fanbase
paling besar jika dibanding dengan tokusatsu
serupa, sebut saja seperti “Super Sentai”, “Ultraman”, “Metal Hero”, dan lain
sebagainya. Khusus untuk “Masked Rider” yang akan diulas ini, saya mungkin
tidak menjamin besar bahwa seri yang satu ini banyak diketahui oleh mereka yang
mengaku menyukai “Masked Rider”. Mungkin ada yang tahu dari namanya, tapi
sedikit yang mengenal lebih dalam dengan seri yang satu ini. Oke, langsung saja
saya akan bahas termasuk maksud dari “prologue”
dalam judulnya.
Sabtu, 19 September 2015
LA SAPIENZA [2014]
Saya
tahu kalau “La Sapienza” memang film yang sangat sulit untuk diikuti dan
dipahami keseluruhan alur ceritanya. Saya pula amat sangat awam bila
berhubungan dengan art dan sejarahnya
serta memaknai definisi film yang bagus itu sendiri. Namun dengan kacamata awam
yang saya miliki, saya melihat bahwasanya “La Sapienza” adalah film yang sangat
bagus sekali, indah, dan luar biasa. Eksplorasi karakter adalah salah satu hal
yang selalu saya favoritkan dalam setiap film dan itu juga turut menjadi bagian
dalam film garapan Eugène Green ini. Butuh dua kali menontonnya bagi saya untuk
kemudian dituangkan dalam ulasan ini. Tentunya saya juga yakin bila belum
sepenuhnya memahami film ini namun ‘sedikitnya’ telah membuat saya
terkagum-kagum. Rupanya saya telah kehilangan ‘pegangan’ sewaktu pertama kali
hingga tidak tahu cara menikmatinya.
I'LL SEE YOU IN MY DREAMS [2015]
Film
sederhana ini semakin meyakinkan saya bahwa tiada waktu yang terbaik selain
meluangkannya dengan orang-orang yang dicintai. Sekiranya itulah yang mungkin
saya dapatkan dari senior romance
atau apapun Anda menyebut film ini. “I’ll See You in My Dreams” adalah drama romance yang menyenangkan, fresh, ada momen lucunya juga, dan momen
sedih bila Anda mengharapkan itu. Film yang disutradarai Brett Haley ini
memiliki nilai keunikannya lewat fokus karakter dengan problematika saat
melewati usia tengah baya. Dan hey...ini bukan hanya film romansa biasa yang
berisi kencan semata di dalamnya. Tapi lebih dari itu, ada nilai-nilai
persahabatan juga yang dikandung lewat interaksi yang menarik dari tiap karakternya.
Sangat manis lewat penuturan dialognya hingga tiada terasa juga menyelipkan rasa
haru di dalamnya.
Kamis, 17 September 2015
SELF/LESS [2015]
Setelah karya terbaiknya yang rilis
sekitar 9 tahun yang lalu, “The Fall” (2006), Tarsem Singh tampaknya masih
belum kembali memaksimalkan potensi lewat kekreatifitasan yang ia miliki. Dua
film setelahnya itupun juga gagal untuk menarik hati meskipun bila dikatakan
‘buruk’ juga tidaklah tepat. Namun setidaknya ia masihlah menghadirkan film
dengan kelebihan di bagian aspek visual yang begitu indah meski lemah di
substansi cerita. Lantas bagaimana dengan film terbarunya ini ?. Dengan
mengusung tema sci-fi – thriller ditambah konsep cerita yang
lumayan bagus, sangat diharapkan bila karya terbarunya ini dapatlah memikat bagi
mereka yang kini sudah rindu akan Tarsem Singh yang dulu.
Rabu, 16 September 2015
TALE OF TALES [2015]
Bahwasanya
bila fairytale tidak selalu berakhir
dengan bahagia memang ada benarnya juga. Saya pun terkadang juga berfikir
seperti itu. Dewasa ini fairytale pun
sudah tidak lagi identik dengan dunia anak-anak yang menyenangkan. Bahkan jauh
dari bayangan kebanyakan anak-anak bahwa fairytale
dipenuhi dengan aneka macam keindahan, yang ada adalah justru setiap bagiannya
berisikan kesedihan, kekejaman, dan nuansa yang kelam. Mungkin itulah yang
sedikit saya tangkap dari karya Guillermo del Toro berjudul “Pan’s Labyrinth”
(2006). Senada dengan film tersebut, karya sutradara Itali Matteo Garrone
bertajuk “Tale of Tales” ini setidaknya juga mempergunakan premis menarik
tersebut.






