Sabtu, 19 September 2015

I'LL SEE YOU IN MY DREAMS [2015]

Film sederhana ini semakin meyakinkan saya bahwa tiada waktu yang terbaik selain meluangkannya dengan orang-orang yang dicintai. Sekiranya itulah yang mungkin saya dapatkan dari senior romance atau apapun Anda menyebut film ini. “I’ll See You in My Dreams” adalah drama romance yang menyenangkan, fresh, ada momen lucunya juga, dan momen sedih bila Anda mengharapkan itu. Film yang disutradarai Brett Haley ini memiliki nilai keunikannya lewat fokus karakter dengan problematika saat melewati usia tengah baya. Dan hey...ini bukan hanya film romansa biasa yang berisi kencan semata di dalamnya. Tapi lebih dari itu, ada nilai-nilai persahabatan juga yang dikandung lewat interaksi yang menarik dari tiap karakternya. Sangat manis lewat penuturan dialognya hingga tiada terasa juga menyelipkan rasa haru di dalamnya.

Film bercerita mengenai Carol (Blythe Danner), janda dan pensiunan guru yang tinggal sendiri di rumahnya dan hanya bertemankan dengan anjing kesayangannya, Hazel. Tidak lama Hazel pun mati dan semakin membawa duka di saat ia harus tinggal sendiri walau ia tidak ingin banyak larut dalam kesedihan itu. Seorang pembersih kolam, Lloyd (Martin Starr), menggantikan temannya yang sebelumnya langganan membersihkan kolam Carol, lantas menjadi teman baiknya. Banyak waktu dihabiskan Carol bersama Lloyd meski sekedar teman minum dan karaoke hingga kemudian ia jalani hubungan ‘spesial’ dengan Bill (Sam Elliott).
Persahabatan antara Carol dengan Lloyd jelas bukanlah persahabatan biasa. Perbedaan usia yang mencolok seakan mengatakan bahwa mereka tidak pernah bisa dekat satu sama lain. Namun semua itu bisa dibantah lewat ‘keintiman’ mereka berdua yang sering ditampilkan lewat momen-momen mengasyikkan seperti sekedar minum di bar hingga berkaraoke ria. Jelas terlihat bila Carol adalah pribadi yang kesepian dan membutuhkan teman yang enjoyable untuk mengobrol sementara putrinya kini tinggal di tempat yang jauh. Lloyd adalah sosok yang terbuka, mudah diajak mengobrol, dan memiliki kesukaan yang sama dengan Carol. Dia adalah tipikal teman yang hangat serta menyenangkan dan seperti itulah apa yang diinginkan Carol. Pertemuan pertama Lloyd saat membersihkan kolam milik Carol memang tidak dinyana-nyana akan berlanjut sebegitu dekatnya. Saya sebagai penonton pun juga ikut merasakan kedekatan itu lewat chemistry mereka yang terbangun dengan sangat bagus sekali.

Carol adalah sosok yang kesepian namun bukan dalam artian ia tidak memiliki teman untuk menghabiskan waktu sehari-harinya. Ia memiliki tiga teman yang akrab dan mereka kerap kali berkumpul bersama seperti bermain kartu misalnya. Tapi nampak jelas sekali bila acara kumpul-kumpul itu hanyalah rutinitas pembunuh waktu senggang dan Carol masihlah merasakan hampa. Sebab kesepian yang dialami oleh Carol lebih ke arah membutuhkan seseorang yang mampu mengerti dirinya, membuatnya nyaman, merasa tenang, dan itu jujur. Bahkan speed dating yang dianjurkan teman-temannya pun juga berakhir menjadi sekedar omong kosong belaka. Maka dengan kedatangan Lloyd jelas merupakan semacam ‘obat’ bagi rasa sepi dan sunyi yang terus mengusik. Dan sepertinya Lloyd juga menemukan sosok ibu yang dirindukan itu pada Carol dimana sebelumnya diceritakan hubungannya sedikit merenggang dengan ibunya. 

Konflik yang ditengahkan oleh Brett Haley dalam film ini adalah masa krisis yang umum dialami oleh mereka yang tengah menginjak usia senja. Sebuah masa dimana ketika seseorang sudah pada level tersebut cenderung saja mengalami banyak kesulitan dan salah satunya adalah jauh dari orang-orang yang dicintai (keluarga). Dan satu-satunya penghiburan yang bisa didapat adalah keberadaan teman yang sanggup mengisi kekosongan meski hanya lewat obrolan-obrolan kecil. Karakter Lloyd di sini bukanlah satu-satunya yang hadir mengisi hari-hari yang kosong milik Carol. Kemunculan Bill yang menjadi love-interest bagi Carol tentunya sangat vital dan berhasil menggali sisi romantis di antara mereka berdua. Bill pun juga tengah mengalami masa-masa seperti yang juga dialami oleh Carol. Sisi romantis yang hadir dari dua pasangan sepuh tersebut dibangun dengan sangat bagus sehingga tidak kalah dengan karakter-karakter muda dalam film-film lainnya. Chemistry yang kuat di antara keduanya ternyata juga mampu membuat saya tersenyum-senyum ditambah iringan musik yang catchy sangat efektif meningkatkan mood.

“I’ll See You in My Dreams” memang seperti romkom mainstream lainnya, hanya bedanya ia berada di level yang jauh lebih tinggi. Ini bukan sekedar kisah romansa yang di dalamnya banyak dibumbui dengan dating atau sex semata. Hal-hal simple seperti ngobrol dari hati ke hati rupanya terbukti ampuh menghangatkan suasana dan pengusir rasa sepi. Karakterisasi menarik yang hadir pada sosok Carol dan Lloyd lewat cara mereka dalam menghabiskan waktu bersama sungguh membuat saya terkesan dan terasa sekali begitu asyiknya mereka dengan ‘keintiman’ tersebut. Seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa apa yang saya rasakan di sini adalah tentang menikmati masa-masa yang terbaik itu dengan orang-orang yang kita sayangi dan cintai. Mungkin tidak semua, tapi seringnya memang kebanyakan manusia akan melewati fase-fase seperti yang tengah dialami oleh Carol dan Bill. Dan di saat seperti itulah, kehadiran seseorang untuk mengisi lubang yang kosong itu amatlah diperlukan. “I’ll See You in My Dreams” pun ditutup dengan begitu manisnya saat Carol mendapatkan ‘teman baru’ lagi yang akan memberikan warna-warna terang dalam hidupnya.
7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !