Kamis, 24 September 2015

MONSTER HUNT [2015]


Melihat posternya yang dipenuhi deretan monster berwarna warni yang terlihat begitu menarik, “Monster Hunt” yang disebut-sebut sebagai film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Tiongkok ini memiliki banyak pengharapan untuk ditonton. Dari tampilan luarnya, pastinya banyak action menarik yang bisa ditonton. Melihat desain para monster-nya, unsur komedi pastilah ada di dalamnya. Syarat-syarat tersebut kemudian disempurnakan lewat pendapatan besar yang tentunya merupakan bukti bila film ini sangat menjanjikan. Mungkin sudah terbaca bila substansi ceritanya tidaklah begitu kuat, namun balutan visual ditambah koreografinya yang menarik tentulah diharapkan bisa menambal kekurangan tersebut. Raman Hui selaku sutradara memang sadar diri membuat “Monster Hunt” sebagai film yang style over substance, jadi bila penonton merasa tidak sampai terikat ke dalam kisahnya memang bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan lagi.

Sesuai judulnya, “Monster Hunt” diawali dengan legenda pemburu monster yang mengusir para monster bila sampai melewati batas menuju daerah manusia. Setelah terusir, para monster mencari wilayah sendiri untuk bersembunyi. Ternyata di dalamnya terjadilah kudeta untuk menggulingkan raja lama dengan dipimpin oleh calon raja baru. Merasa terancam, permaisuri dari raja lama lantas menitipkan anak yang ‘dikandungnya’ pada pemuda pemilik kedai bernama Song Tianyin (Boran Jing). Anak raja monster itupun juga menjadi bahan incaran para pemburu monster lainnya dan salah satunya adalah Huo Xiaolan (Baihei Bai) yang kemudian menjalin love-hate relationship bersama Tianyin.  

Selesai saya tuliskan sinopsisnya, mari sedikit saya jelaskan lebih rinci mengenai dua karakter utama di sini. Pertama adalah Tianyin, ayahnya adalah seorang pemburu monster hebat dan berkebalikan dengan ia yang seorang lemah dan penakut. Atas kepergian ayahnya ia mendapat warisan sebilah pedang meski ia sendiri tidaklah jago beladiri namun ahli memasak dan menjahit. Kedua adalah Xiaolan, seorang wanita pemburu monster yang berwatak keras namun di dalamnya terpancar sifat kelembutannya. Dari deskripsi singkat tersebut, makin jelaslah bila “Monster Hunt” memiliki sisi cerita yang terasa sangat ringan dan klise. Dimulai dari kisah tentang from zero to hero hingga romansa yang menjadi muara dari karakter utama di sini. Bahkan hingga kemunculan monster bayi bernama Wuba yang akan menjadi tali pengikat antara Tianyin dan Xiaolan juga mudah dicerna oleh penonton ke mana arah berikutnya. Semuanya dengan begitu mudahnya tertebak sedari awal. Menariknya, sisi klise dalam materi yang disajikan itu tidak sampai merusak filmnya sendiri. 

Kelebihan yang utama dalam film ini tentu saja aspek visualnya yang menarik lewat desain aneka monster yang lebih ke arah cartoonish daripada realis layaknya monster dalam film-film epik semacam trilogi “The Lord of The Rings”. Monster hasil rekaan studio Base FX tersebut bukan tanpa alasan dibuat sedemikian rupa kalau bukan karena alasan komedi dan pendekatan cerita yang ringan. Tentu saja juga karena menyesuaikan bujet yang ada. Para monster-nya sendiri banyak dimunculkan dalam momen-momen komedik yang sanggup memancing tawa, disamping memang bentuknya yang bisa dibilang menggemaskan daripada menyeramkan. Keefektifan komedinya bukan saja melalui tingkah kocak para monster saja melainkan lewat ensemble cast para komedian yang wajahnya sering muncul dalam film-film Hong Kong seperti Eric Tsang dan Sandra Ng misalnya. Keduanya memberikan kontribusi besar dalam sektor tersebut. Perannya memang bukan yang terbaik, tapi masihlah menghibur di saat karakter komikal lainnya gagal membuat saya tertawa.

Bila ditanya siapa karakter yang paling menarik perhatian, tentunya saya akan memilih Wuba. Desainnya lucu dan menggemaskan berikut tingkahnya yang berkali-kali memancing saya untuk tertawa. Kepolosannya layaknya seorang bayi manusia menjadikannya karakter yang likable dan saya juga senang ketika Raman Hui tidak membuatnya menjadi annoying di sini. Wujudnya saya akui banyak mengingatkan pada Baby Beel dalam anime dan manga berjudul “Beelzebub” yang sama-sama bayi dari raja iblis/monster, berambut hijau, dan keduanya juga telanjang. Unsur kemiripannya yang lain juga ditunjukkan pada kedekatannya dengan seorang laki-laki (Tianyin) layaknya hubungan Baby Beel dengan Tatsumi Oga dan masih cukup banyak kemiripan lainnya. Entah itu meniru atau murni kebetulan, saya tidak tahu pastinya bila mengingat si penulis naskah (Alan Yuen) yang katanya banyak menyadur dari literatur kuno Tiongkok. Terlepas dari kemiripan atau semacamnya, saya menaruh perhatian lebih pada karakter ini walau belum total tergali dengan baik.

Melihat bagaimana film ini diakhiri, jelas sangat potensial sekali untuk dibuatnya sekuel. Apalagi pendapatan yang fantastis tersebut bisa menjadi dorongan projek yang pastinya akan lebih besar. Bila hal itu kelak terwujud, harapan besar bila karakter Wuba mampu dimaksimalkan dan karakter-karakter villain baru akan banyak diperkenalkan. Nah, selesai menonton pun sekiranya benar adanya bila “Monster Hunt’ sanggup meraup sebegitu besarnya keuntungan tersebut kalau bukan lewat pengemasannya yang begitu menarik. Untuk lingkup film Tiongkok, “Monster Hunt” adalah blockbuster yang berhasil mendobrak hal baru dalam menyajikan hiburan yang begitu menawan dari berbagai aspek yang ada seperti CGI (utama), aksi, hingga komedi. Lupakan mengenai karakter yang dangkal, plot hole, dan kekurangan lain di bagian substansi cerita bila ternyata ia memiliki daya magis begitu besar untuk membuat setiap penonton menyukainya. Maka dengan ini layaklah bila “Monster Hunt” mencatatkan diri sebagai all time highest-grossing film in China !.   

6,5 / 10

5 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !