Senin, 21 September 2015

TRUE MASKED RIDER : PROLOGUE [1992]

Yup, inilah ulasan pertama saya tentang tokusatsu (superhero Jepang). Mungkin bagi sebagian besar yang mengaku suka dengan tokusatsu, “Masked Rider” (Kamen Rider) tentunya salah satu serial yang sangat tidak asing. Bahkan bisa dikatakan bahwa “Masked Rider” memiliki fanbase paling besar jika dibanding dengan tokusatsu serupa, sebut saja seperti “Super Sentai”, “Ultraman”, “Metal Hero”, dan lain sebagainya. Khusus untuk “Masked Rider” yang akan diulas ini, saya mungkin tidak menjamin besar bahwa seri yang satu ini banyak diketahui oleh mereka yang mengaku menyukai “Masked Rider”. Mungkin ada yang tahu dari namanya, tapi sedikit yang mengenal lebih dalam dengan seri yang satu ini. Oke, langsung saja saya akan bahas termasuk maksud dari “prologue” dalam judulnya.

Seperti halnya “Masked Rider” lain yang dibuat pada era showa (klasik), eksperimen manusia masih merupakan konsep dasar dari seri yang satu ini. Dikisahkan bahwa Shin Kazamatsuri (Katsuhisa Ishikawa) menjadi bagian dari objek penelitian oleh ayahnya dan rekannya demi menyelamatkan umat manusia dari penyakit mematikan. Eksperimen itu membuat Shin memiliki kekuatan lebih dan kekebalan tubuh ekstra dengan inisial “Cyborg Soldier Level 3”. Alih-alih untuk umat manusia, eksperimen itu merupakan konspirasi yang dijalankan organisasi jahat bernama “The Syndicate”. Shin pun berusaha keras untuk membongkar kedoknya sekaligus menghancurkannya.
Sebelum saya menggali soal ceritanya, perlu diketahui bahwa “Masked Rider Shin” ini hanya dibuat untuk versi movie (ulang tahun franchise ke 20) dan tidak memiliki serial tv seperti para pendahulunya. Dibandingkan “MR” yang lain, “Shin” jelas memiliki perbedaan yang sangat mencolok terutama dari desain kostum dan pendekatan yang lebih ‘dewasa’ dan gelap. Jelas saja, penonton dewasa merupakan sasaran penjualan untuk seri yang satu ini sebab di dalamnya secara eksplisit banyak adegan gore berdarah-darah dan nudity. Melihat desain kostum yang murni terlihat seperti monster dan jauh dari kesan “MR” yang keren lengkap dengan motornya, jelas “Shin” mungkin tidak begitu banyak diminati oleh para penikmatnya. Namun bila saya amati lebih mendalam, sejatinya “Shin” memiliki konsep dasar yang kuat sebagai “MR” dan kandungan cerita yang sangat murni di dalamnya. Maka sudah sewajibnya bila mereka yang mengaku sebagai penggemar berat franchise ini, “Shin” harusnya ada di ‘daftar pertama’ untuk “MR” terfavorit. 

Lantas, apakah konsep dasar untuk “MR” karya Shotaro Ishinomori ini ?. Menilik sebagian besar serial klasiknya, “MR” bercerita mengenai remodelling human dengan dasar wujud serangga. Hasil dari remodelling itu sendiri akan ditempatkan di garda depan sebagai wakil dari organisasi kejahatan. Dengan berbagai alasan kuat, mereka yang menjadi bagian dari remodelling itu justru berkhianat dan berbalik menyerang organisasi jahat yang menciptakan mereka. Membawa pesan kedamaian di balik wujud aneka macam serangga, jelas itu merupakan konsep dasar yang dibuat oleh si tangan dingin Ishinomori. Di mana setelah kepergian beliau, “MR” semakin jauh dari konsep dasarnya demi ambisi rumah produksi yang ingin mengeruk keuntungan besar berikut lewat penjualan mainannya. Sialnya lagi, para pecinta “MR” justru begitu enggannya menonton versi ‘lawas’ yang dianggap kuno (atau mungkin jelek ?). Sungguh sangat disayangkan sekali bila salah satu dari mahakarya sang mangaka ini sangat diabaikan ketika gempuran versi modern makin menjadi jadi.

Dengan penjelasan singkat yang saya ungkapkan di atas, kata “prologue” menekankan bahwa “Shin” di sini akan menjelaskan konsep awal yang dimiliki oleh “MR”. Kata “Shin” sendiri selain digunakan untuk nama karakter, juga merujuk pada ‘kebenaran’ di balik “MR” dimana kata “Shin” dalam Bahasa Indonesia memiliki arti “kebenaran”. Kebenaran apakah yang dimaksud ?. Kebenaran bahwa Ishinomori menciptakan seluruh “MR” yang ada bukan terlahir sebagai superhero, melainkan sebaliknya. Banyak adegan kekerasan nan kejam yang ditampilkan hingga pembangunan atmosfir yang menyerupai film-film horror di sini, semakin menguatkan bila lahirnya “MR” berawal dari sesuatu yang bersifat jahat, kelam, dan sadis. Maka bila pandangan kebanyakan yang melihat “MR” sebagai bentuk awal dari pembela kebenaran yang cinta damai, terutama bagi anak-anak, saya rasa kuranglah tepat. Lewat film ini, Ishinomori mengungkapkannya dengan begitu jujur dari rahasia penciptaan “MR” dan pantaslah bila “Shin” disebut sebagai True Masked Rider.   

Tanpa disadari, rupanya dari tadi saya lebih banyak membedah rahasia di balik pembuatannya ketimbang bicara soal ceritanya. Mungkin tidak banyak yang akan saya tuliskan terkait cerita. Dengan pendekatan yang lebih kelam, “Shin” menghadirkan petualangan menarik dalam menikmati “MR” yang tidak seperti kebanyakannya. Seru, menegangkan, dan menyenangkan lewat cipratan-cipratan darahnya, “Shin” seakan membuat penonton lupa bahwa apa yang sedang ditontonnya adalah tokusatsu yang sampai sekarang masih dipandang sebagai tayangan untuk anak-anak. Mungkin banyak yang kecewa bila tidak menemukan gaya henshin (berubah) yang khas, desain kostum dan motor keren, hingga Rider Kick yang fenomenal itu di sini. Tapi percayalah jika Anda mengaku sebagai penggemar “MR”, “Shin” adalah seri yang wajib untuk ditonton. “Shin” merupakan bentuk kejujuran dan orijinalitas dari sang maestro untuk serial yang telah lama menjadi pop culture di Jepang dan diparodikan berkali-kali dalam anime maupun manga.   
7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !