Ada beribu-ribu kesenangan yang akan
Anda dapatkan dalam “Turbo Kid” ini. Mulai dari musik-musik retro 80-an yang
membangkitkan nostalgia hingga adegan perkelahian ‘tak berotak’ yang sayang
untuk dilewatkan. Segmented memang,
tapi tidak bisa dipungkiri “Turbo Kid” banyak menampilkan kegilaan-kegilaan
yang menyenangkan dan diharapkan pula untuk disukai oleh mereka yang notabene
bukan penyuka genre ini. Selama 92
menit ke depan, “Turbo Kid” sukses memancing tawa dengan berbagai sajian di
luar logika tapi tidak lantas membuatnya secara keseluruhan menjadi sebuah film
yang bodoh. “Turbo Kid” bagaikan franchise
“Mad Max” dengan versi sepeda BMX, ia kecil dari skala tapi memberikan impact yang besar khususnya bagi yang
merindu dengan gore di era 80-an.
Kamis, 08 Oktober 2015
Selasa, 06 Oktober 2015
THE MARTIAN [2015]
Pastinya tidak bisa untuk
tidak membicarakan “Gravity” (2013) dan “Interstellar” (2014) bila baru-baru
ini banyak mata tertuju pada “The Martian”. Apalagi kalau bukan karena tema space adventure yang diusung berikut
rentang waktu kemunculan yang sangat dekat/berurutan. Tanpa mencoba untuk
membandingkannya, sejak awal “The Martian” memang tidak pernah terlintas dalam
pikiran untuk menjadi film yang kuat dari aspek dramanya. Namun apakah perlu
ada drama yang katakanlah ‘menyentuh’, untuk bisa membuatnya menjadi bagus
hingga mampu disejajarkan dengan dua film di atas ?. Saya rasa tidak, sebab
bila diambil contoh, Ridley Scott sendiri sudah pernah membuat “Prometheus”
(2011) yang luar biasa bagusnya (dimana banyak orang yang tidak menyukainya)
tanpa perlu memperkuat aspek dramanya.
Jumat, 02 Oktober 2015
WHAT WE DO IN THE SHADOWS [2014]
Apa jadinya bila kehidupan para vampir diekspos lebih mendalam,
meliputi bagaimana cara mereka mencari korban, hubungan romansa hingga
persahabatannya dengan sangat detil ?. Mungkin semua itu bisa ditemukan dalam mockumentary asal Selandia Baru karya
Taika Waititi dan Jemaine Clement ini. Tapi tenang saja, karena ini mockumentary, para vampirnya pun tampil
menggemaskan dan komedinya siap mengocok perut Anda. Meski film yang merupakan feature dari short movie tahun 2006 dengan judul sama ini terlihat konyol, namun
komedi hitamnya tidak lantas membuatnya terlihat bodoh dan kacau. Malahan tiap
lelucon yang ada diracik dengan begitu cerdas dan si pembuatnya pun tahu timing dalam menempatkannya. Maka
jadilah sebuah mockumentary yang mengangkat
tema yang tabu dan juga serius namun sukses memancing tawa bagi siapapun yang
menontonnya.
Kamis, 01 Oktober 2015
ME AND EARL AND THE DYING GIRL [2015]
Lihat saja judulnya, apa
kira-kira yang bisa ditangkap hanya dari judulnya tersebut ?. Sebuah coming-of-age drama yang terasa depresif
dan cenderung diselipi tearjerker
agar mudah diminati penonton ?. Untung saja filmnya tidak se-depresif judulnya
meski memang ada pemicu sebagai tearjerker,
tapi tidak sampai melodramatic hingga
mengucurkan berliter-liter air mata. “Me and Earl and The Dying Girl” tampil
begitu berwarna dan stylish, dapat
dilihat mulai dari pemilihan filter warnanya, skoring, hingga storytelling yang terasa kekinian. Walau
ada embel-embel kata “dying” di judulnya itu, film yang diadaptasi dari novel berjudul
sama karya Jesse Andrews (juga debut penulis naskah di sini) malahan terasa berenergi
dan bagai penggerak mood khususnya di
bagian musik ambient hasil racikan
Brian Eno yang membuat suasana bagaikan dreamlike.
Rabu, 30 September 2015
THE MURDER CASE OF HANA AND ALICE [2015]
“The Murder Case of Hana and
Alice” adalah prekuel dari “Hana and Alice” yang dibuat tahun 2004. Bedanya
untuk prekuel ini, Shunji Iwai yang sebelumnya juga menyutradarai sekuel
tersebut kini menggunakan media animasi untuk menuangkan ide cerita yang juga ia
tulis sendiri. Uniknya lagi, Anne Suzuki (Initial-D, 2005) dan Yū Aoi (Honey & Clover dan Rurouni Kenshin) yang
sebelumnya bermain di versi 2004 tersebut kini kembali hadir untuk menyuarakan
karakter Hana dan Alice yang dulu mereka perankan. Dengan cerita berbumbu
misteri, prekuel ini bisa dibilang cukup menarik perhatian bila dibanding
sekuelnya yang lebih ke arah teenage
romcom. Lingkup high school yang
digunakan pun mengisyaratkan bahwa sajian yang satu ini bakal terasa seru, ringan,
dan kocak di dalamnya.
Senin, 28 September 2015
CREEP [2014]
Apakah Anda salah satu dari sekian yang sudah jenuh dengan film found footage ?. Jika “ya”, berarti kita
sama. Namun apakah film semacam itu sudah tidak memberikan kepuasan lagi bagi
penontonnya, terutama dalam ranah horror ?.
Sedikitnya mungkin masih ada yang memuaskan dengan kualitas bagus. Contohnya
kemarin “Unfriended” (2014) tetap memberikan tontonan yang menyegarkan dan
menghibur meski di beberapa bagiannya ada ide lama yang masih dibawa. “Creep”
ternyata juga salah satu dari kesekian found
footage baru-baru ini yang tampil tidak ‘murahan’ meski filmnya jelas
berbiaya murah. Filmnya sendiri dikemas dengan begitu rapi penuh nuansa yang
mencekam meski hanya berdurasi 82 menit.
Sabtu, 26 September 2015
'71 [2014]
Alangkah menariknya bila karakter
dalam suatu film mampu menjerat penonton ke dalamnya sehingga ia juga merasakan
apa yang juga dirasakan oleh karakter tersebut. Salah satu komponen favorit
saya dalam sebuah film tersebut dihadirkan dengan sangat apik oleh Yann Demange
lewat film yang berlatarkan sejarah ini. Sebagai penonton, saya begitu terikat
sekali dengan karakter utama dalam film bertajuk “71” ini. Segala rasa sakit
yang dialami baik itu fisik maupun psikis hingga rasa takut berimbas traumatik,
seakan-akan juga menimpa pada saya. “71” rupanya tidak hanya memberikan impact yang besar di bagian ‘luka’ itu
saja melainkan juga pembangunan atmosfir yang menegangkan lewat peristiwa
kerusuhan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.






