Kamis, 08 Oktober 2015

TURBO KID [2015]


Ada beribu-ribu kesenangan yang akan Anda dapatkan dalam “Turbo Kid” ini. Mulai dari musik-musik retro 80-an yang membangkitkan nostalgia hingga adegan perkelahian ‘tak berotak’ yang sayang untuk dilewatkan. Segmented memang, tapi tidak bisa dipungkiri “Turbo Kid” banyak menampilkan kegilaan-kegilaan yang menyenangkan dan diharapkan pula untuk disukai oleh mereka yang notabene bukan penyuka genre ini. Selama 92 menit ke depan, “Turbo Kid” sukses memancing tawa dengan berbagai sajian di luar logika tapi tidak lantas membuatnya secara keseluruhan menjadi sebuah film yang bodoh. “Turbo Kid” bagaikan franchise “Mad Max” dengan versi sepeda BMX, ia kecil dari skala tapi memberikan impact yang besar khususnya bagi yang merindu dengan gore di era 80-an.

Selasa, 06 Oktober 2015

THE MARTIAN [2015]

Pastinya tidak bisa untuk tidak membicarakan “Gravity” (2013) dan “Interstellar” (2014) bila baru-baru ini banyak mata tertuju pada “The Martian”. Apalagi kalau bukan karena tema space adventure yang diusung berikut rentang waktu kemunculan yang sangat dekat/berurutan. Tanpa mencoba untuk membandingkannya, sejak awal “The Martian” memang tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk menjadi film yang kuat dari aspek dramanya. Namun apakah perlu ada drama yang katakanlah ‘menyentuh’, untuk bisa membuatnya menjadi bagus hingga mampu disejajarkan dengan dua film di atas ?. Saya rasa tidak, sebab bila diambil contoh, Ridley Scott sendiri sudah pernah membuat “Prometheus” (2011) yang luar biasa bagusnya (dimana banyak orang yang tidak menyukainya) tanpa perlu memperkuat aspek dramanya.

Jumat, 02 Oktober 2015

WHAT WE DO IN THE SHADOWS [2014]


Apa jadinya bila kehidupan para vampir diekspos lebih mendalam, meliputi bagaimana cara mereka mencari korban, hubungan romansa hingga persahabatannya dengan sangat detil ?. Mungkin semua itu bisa ditemukan dalam mockumentary asal Selandia Baru karya Taika Waititi dan Jemaine Clement ini. Tapi tenang saja, karena ini mockumentary, para vampirnya pun tampil menggemaskan dan komedinya siap mengocok perut Anda. Meski film yang merupakan feature dari short movie tahun 2006 dengan judul sama ini terlihat konyol, namun komedi hitamnya tidak lantas membuatnya terlihat bodoh dan kacau. Malahan tiap lelucon yang ada diracik dengan begitu cerdas dan si pembuatnya pun tahu timing dalam menempatkannya. Maka jadilah sebuah mockumentary yang mengangkat tema yang tabu dan juga serius namun sukses memancing tawa bagi siapapun yang menontonnya.

Kamis, 01 Oktober 2015

ME AND EARL AND THE DYING GIRL [2015]


Lihat saja judulnya, apa kira-kira yang bisa ditangkap hanya dari judulnya tersebut ?. Sebuah coming-of-age drama yang terasa depresif dan cenderung diselipi tearjerker agar mudah diminati penonton ?. Untung saja filmnya tidak se-depresif judulnya meski memang ada pemicu sebagai tearjerker, tapi tidak sampai melodramatic hingga mengucurkan berliter-liter air mata. “Me and Earl and The Dying Girl” tampil begitu berwarna dan stylish, dapat dilihat mulai dari pemilihan filter warnanya, skoring, hingga storytelling yang terasa kekinian. Walau ada embel-embel kata “dying” di judulnya itu, film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jesse Andrews (juga debut penulis naskah di sini) malahan terasa berenergi dan bagai penggerak mood khususnya di bagian musik ambient hasil racikan Brian Eno yang membuat suasana bagaikan dreamlike.  

Rabu, 30 September 2015

THE MURDER CASE OF HANA AND ALICE [2015]


“The Murder Case of Hana and Alice” adalah prekuel dari “Hana and Alice” yang dibuat tahun 2004. Bedanya untuk prekuel ini, Shunji Iwai yang sebelumnya juga menyutradarai sekuel tersebut kini menggunakan media animasi untuk menuangkan ide cerita yang juga ia tulis sendiri. Uniknya lagi, Anne Suzuki (Initial-D, 2005) dan Yū Aoi (Honey & Clover dan Rurouni Kenshin) yang sebelumnya bermain di versi 2004 tersebut kini kembali hadir untuk menyuarakan karakter Hana dan Alice yang dulu mereka perankan. Dengan cerita berbumbu misteri, prekuel ini bisa dibilang cukup menarik perhatian bila dibanding sekuelnya yang lebih ke arah teenage romcom. Lingkup high school yang digunakan pun mengisyaratkan bahwa sajian yang satu ini bakal terasa seru, ringan, dan kocak di dalamnya.  

Senin, 28 September 2015

CREEP [2014]

Apakah Anda salah satu dari sekian yang sudah jenuh dengan film found footage ?. Jika “ya”, berarti kita sama. Namun apakah film semacam itu sudah tidak memberikan kepuasan lagi bagi penontonnya, terutama dalam ranah horror ?. Sedikitnya mungkin masih ada yang memuaskan dengan kualitas bagus. Contohnya kemarin “Unfriended” (2014) tetap memberikan tontonan yang menyegarkan dan menghibur meski di beberapa bagiannya ada ide lama yang masih dibawa. “Creep” ternyata juga salah satu dari kesekian found footage baru-baru ini yang tampil tidak ‘murahan’ meski filmnya jelas berbiaya murah. Filmnya sendiri dikemas dengan begitu rapi penuh nuansa yang mencekam meski hanya berdurasi 82 menit.

Sabtu, 26 September 2015

'71 [2014]

Alangkah menariknya bila karakter dalam suatu film mampu menjerat penonton ke dalamnya sehingga ia juga merasakan apa yang juga dirasakan oleh karakter tersebut. Salah satu komponen favorit saya dalam sebuah film tersebut dihadirkan dengan sangat apik oleh Yann Demange lewat film yang berlatarkan sejarah ini. Sebagai penonton, saya begitu terikat sekali dengan karakter utama dalam film bertajuk “71” ini. Segala rasa sakit yang dialami baik itu fisik maupun psikis hingga rasa takut berimbas traumatik, seakan-akan juga menimpa pada saya. “71” rupanya tidak hanya memberikan impact yang besar di bagian ‘luka’ itu saja melainkan juga pembangunan atmosfir yang menegangkan lewat peristiwa kerusuhan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.