Kamis, 08 Oktober 2015

TURBO KID [2015]


Ada beribu-ribu kesenangan yang akan Anda dapatkan dalam “Turbo Kid” ini. Mulai dari musik-musik retro 80-an yang membangkitkan nostalgia hingga adegan perkelahian ‘tak berotak’ yang sayang untuk dilewatkan. Segmented memang, tapi tidak bisa dipungkiri “Turbo Kid” banyak menampilkan kegilaan-kegilaan yang menyenangkan dan diharapkan pula untuk disukai oleh mereka yang notabene bukan penyuka genre ini. Selama 92 menit ke depan, “Turbo Kid” sukses memancing tawa dengan berbagai sajian di luar logika tapi tidak lantas membuatnya secara keseluruhan menjadi sebuah film yang bodoh. “Turbo Kid” bagaikan franchise “Mad Max” dengan versi sepeda BMX, ia kecil dari skala tapi memberikan impact yang besar khususnya bagi yang merindu dengan gore di era 80-an.

Bersettingkan post-apocalyptic di tahun 1997, seorang pemimpin tirani bernama Zeus (Michael Ironside) mampu mengekstrak tubuh manusia menjadi air, elemen yang sangat langka ketika itu. Banyak para manusia tiba-tiba diculik untuk diadu dengan para jagoannya dan yang kalah akan berakhir sebagai tetesan air dalam gelasnya. Seorang anak ingusan, sebut saja The Kid (Munro Chambers), bertekad untuk menghancurkan kekejaman Zeus dan membalaskan kematian kedua orangtuanya dengan dibantu sang side-kick, Apple (Laurence Leboeuf) dan juara panco bertangan buntung, Frederic (Aaron Jeffery). Dengan senjata canggih bernama Turbo Glove, The Kid lantas mengubah namanya menjadi Turbo Kid.

Menonton “Turbo Kid” banyak sekali mengingatkan pada action - sci-fi era 80-an seperti “Tron” (1982) atau yang bernuansakan horror dengan sentuhan gore seperti “Criters” (1986) dan tentunya masih banyak lagi lainnya. Sebagai homage untuk film-film di masa tersebut, jelaslah film yang diarahkan oleh François Simard ini layaknya mesin waktu yang mengajak penontonnya untuk kembali mencicipi asyiknya berpetualang dalam film di masa itu. Demi memperkuat kesan itu, musik-musik retro banyak diusung berikut di dalamnya properti dan kostum yang digunakan. Tidak tanggung-tanggung, hal detail meliputi desain poster pun tidak luput terkena jatah. Semua ditata dengan rapi oleh sang sutradara dan aksi-aksi gilanya turut menciptakan tawa yang tidak terbendung selama film berjalan. Satu hal lagi yang membuat film ini begitu unik adalah penggunaan setting masa depannya yang berbeda dengan film post-apocalyptic lainnya. Bila yang lain menggunakan era di atas 2000-an untuk penggambarannya, maka sebaliknya “Turbo Kid” justru menggunakan tahun yang telah lama lewat.

Plot filmnya sangatlah ringan, yaitu tentang pembalasan dendam pada penguasa jahat dengan sentuhan from zero to hero. Kita akan diperkenalkan pada The Kid, seorang geek penakut yang jatuh cinta pada figur dan komik dari superhero bernama Turbo Rider. Tanpa banyak berfikir, pastinya kita sudah bisa menebak bila The Kid kelak menjadi sosok yang kuat dan mampu mengalahkan karakter-karakter musuh di sini. Tanpa perlu jauh memikirkan bagaimana klimaks dari filmnya, dengan serunya kita akan menikmati petualangan The Kid berupa kejar-kejaran ‘berdarah’ dari anak buah Zeus. Sepeda BMX yang juga merupakan signature era itu, kini digunakan sebagai kendaraan untuk aksi kejar-kejarannya jika pada umumnya desain mobil sangar dipakai untuk film semacam ini. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, “Turbo Kid” itu ibaratnya adalah “Mad Max” yang menggunakan sepeda BMX. Mungkin terdengar lebih ‘ramah’, tapi bila yang mengejarnya kawanan freak bersenjata mematikan seperti gergaji mesin, akan lain lagi ceritanya.

Untuk menciptakan karakter The Kid yang berawal dari seorang pecundang menuju pahlawan, maka dibutuhkanlah sebuah transformasi untuk menjadikannya masuk akal. Maka dari itu, François Simard (muncul juga sebagai cameo di sini) menjadikan karakter The Kid bertransformasi menjadi sang idola, Turbo Rider, melalui naskah yang juga ia tulis. Pada proses transformasi seorang The Kid menjadi Turbo Kid itu pastinya akan dirasakan keganjilan dan penuh tanda tanya. Pada awalnya saya pun juga merasa kebingungan seperti itu. Namun kemudian saya menyadari bila François Simard rupanya menyelipkan semacam ‘impian liar’ seorang bocah geek untuk berubah menjadi pahlawan idolanya. Apa yang dilakukan François Simard di sini adalah cara dia untuk menuturkan tentang anak-anak di generasi tersebut dalam bermain dengan imajinasi terhebat mereka. Tentu saja cara yang dilakukan oleh François Simard adalah mengaburkan batasan-batasan antara realita dengan imajinasi, sehingga diperlukan ‘kepekaan’ lebih untuk bisa memahaminya.

Bagi Anda yang kurang familiar dengan film ataupun pop-culture lainnya dalam rentang era 80-90an, “Turbo Kid” akan berakhir sebagai B-Movie yang hanya bisa mengumbar adegan gore dan kekerasan brainless, tanpa meninggalkan kesan yang mendalam. Sebagai kebalikannya, “Turbo Kid” malah akan membangkitkan kembali memori lama yang terpendam lewat segala keseruan yang dihadirkannya. Baik itu meliputi musik, setting dan properti, hingga ide cerita yang ditanamkan. Bagi saya pribadi, François Simard jelas telah sukses menghidupkan kembali momen-momen indah itu lewat film berbujet rendah namun ‘cantik’ ini. Singkatnya, “Turbo Kid” adalah film tentang anak-anak yang tengah bergelut dengan imajinasi tertingginya. Meluapkannya. Lalu muncullah kesenangan-kesenangan tidak berujung yang disayangkan hal itu telah menjadi sesuatu yang langka untuk anak-anak di generasi kini. Di bagian ini, makin nampaklah secara halus bila François Simard mencoba untuk mengkritisi anak-anak zaman sekarang yang mulai kehilangan daya imajinasinya.

“Turbo Kid” adalah kegilaan nyata dalam imajinasi dan impian setiap anak yang terbungkus dalam B-Movie. François Simard lewat “Turbo Kid” ini ibaratnya Hayao Miyazaki dengan semua karya-karyanya. Keduanya menuturkan tentang keindahan imajinasi dalam kehidupan anak-anak. Bedanya bila Miyazaki begitu kalem dan melankolis, sebaliknya Simard menampilkannya dengan sadis dan gila. Apapun treatment yang digunakan, keduanya indah dengan caranya masing-masing.

8 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !