Selasa, 06 Oktober 2015

THE MARTIAN [2015]

Pastinya tidak bisa untuk tidak membicarakan “Gravity” (2013) dan “Interstellar” (2014) bila baru-baru ini banyak mata tertuju pada “The Martian”. Apalagi kalau bukan karena tema space adventure yang diusung berikut rentang waktu kemunculan yang sangat dekat/berurutan. Tanpa mencoba untuk membandingkannya, sejak awal “The Martian” memang tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk menjadi film yang kuat dari aspek dramanya. Namun apakah perlu ada drama yang katakanlah ‘menyentuh’, untuk bisa membuatnya menjadi bagus hingga mampu disejajarkan dengan dua film di atas ?. Saya rasa tidak, sebab bila diambil contoh, Ridley Scott sendiri sudah pernah membuat “Prometheus” (2011) yang luar biasa bagusnya (dimana banyak orang yang tidak menyukainya) tanpa perlu memperkuat aspek dramanya.
  

Kisah ‘orang Mars pertama’ ini dimulai ketika misi Ares III terpaksa dibatalkan karena munculnya badai yang bersiap menyapu daratan luas Mars. Keselamatan para awak terancam, komandan misi Melissa Lewis (Jessica Chastain) meminta segera untuk lepas landas dari Mars dan meninggalkan seorang awak, Mark Watney (Matt Damon) yang telah diasumsikan mati. Mengejutkan, Mark masih hidup namun kehilangan kontak dengan NASA. Sembari menunggu penjemputan lewat Ares IV yang tiba 3 tahun kemudian, ia bertahan hidup lewat keahliannya di bidang botani.

“The Martian” ternyata bukanlah tipikal film yang ‘membakar’ secara perlahan-lahan untuk bisa diresapi penontonnya. Hal itu dibuktikan oleh Ridley Scott dengan mengumbar adegan bombastis yang bahkan telah muncul di menit-menit awal. Sebuah adegan dahsyat nan mengerikan dengan intensitas tinggi yang cukup mampu untuk menggetarkan nyali para penontonnya. Tidak ingin puas hanya dengan drama lepas landas dalam skala yang epik tersebut, narasi kemudian mengisahkan seorang awak yang tertinggal dan tentunya menciptakan perasaan miris. Tertinggal sendiri di sebuah planet ‘tidak bertuan’, pastinya tidak ada hal lain selain ketakutan demi ketakutan yang tersisa. Melihat Mark Watney hanya bisa luntang lantung di tempat yang sepanjang mata memandang hanya ada gurun pasir merah dan perbukitan itu, menyiratkan bahwa apa yang dialami oleh Chuck Noland (Tom Hanks) dalam “Cast Away” (2000) masihlah belum ada apa-apanya. Tragis, penuh penderitaan, kesepian, dan ketakutan, seolah-olah apa yang dilakoninya bakal disajikan dengan begitu kelamnya. 

Sebagai kebalikannya, “The Martian” yang diangkat dari novel judul sama karya Andy Weir ini malah tampil dengan ‘berwarna’ terutama lewat banyak joke yang dilontarkan oleh Mark Watney. Melihatnya sebagai seseorang yang mengalami kesulitan tersial yang pernah ada, ia lantas tidak diciptakan sebagai karakter yang pasrah akan nasib namun sebaliknya ia memunculkan optimisme yang menarik. Berbekal keahlian botani yang dikuasainya, ia bahkan bisa menciptakan sumber pangan untuk bertahan hingga beberapa tahun ke depannya. Mungkin keambiguan karakter Mark ini sejatinya mampu membuat sisi realitanya menjadi lemah. Namun itu semua tidaklah menjadi masalah bila memang Ridley Scott sedari awal menggunakan pendekatan yang lebih ringan di film ini. Pengertian ‘ringan’ itu dapat dilihat dari bagaimana “The Martian” tidak banyak diisi oleh dialog-dialog scientific yang memusingkan dan mengejar nilai keakuratannya. Sebagai gantinya, ia sisipkan lelucon-lelucon efektif lewat karakter Mark dan beberapa kali memperdengarkan lagu-lagu disko yang asyik.

Beda di bumi, beda pula di Mars. Kembali lagi aspek humor itu banyak dihadirkan di sini lewat situasi yang terbangun di tempat yang berbeda. Ketika pihak NASA sampai beradu debat hingga panas terkait misi penyelamatan yang akan dilakukan untuk Mark, ia sendiri malah asyik mengkritisi lagu-lagu disko milik Melissa yang tertinggal dalam “Habitat”. Begitu juga ketika Melissa dan para awak yang tersisa masih diselimuti mendung duka dalam pesawat “Hermes”. Porsi humornya cukup banyak dan hal itu sangat ampuh sekali sebagai penghibur dan membantu penonton untuk melupakan sesaat penderitaan yang dialami oleh Mark. Tapi hal itu bukan berarti mengubah total film ini menjadi komedi renyah dengan melenyapkan aspek thrill-nya. Ketegangan lewat kejutan-kejutan tidak terduga tetap terus bermunculan. Bahkan, “The Martian” sendiri juga pintar sekali mempermainkan emosi, terkadang tone-nya cerah lewat lelucon-lelucon yang ada, dan kadang terasa pula sisi depresifnya ketika rencana-rencana karakter utama kita ini mengalami kegagalan.

Plotnya sangat sederhana sekali, secara garis besar “The Martian” bercerita tentang misi penyelamatan dan di bagian akhirnya akan menyisakan pertanyaan apakah misi tersebut sukses ataukah gagal. Plot yang sederhana itu dikembangkan dengan baik sehingga apa yang awalnya terlihat ‘mudah tertebak’ itu akhirnya menjadi sajian yang mengasyikkan untuk diikuti. Dialog-dialog yang ada pun juga terasa ‘membumi’ bila dibanding sci-fi sejenisnya, sehingga mudah terserap oleh mayoritas penonton yang tidak banyak tahu soal sains sekalipun. Walau sebelumnya saya katakan bahwa tidak ada drama yang membuat tersentuh, namun Ridley Scott tetap berhasil mengisinya dengan sisi humanism yang kuat. Hal tersebut dibuktikan lewat penceritaan tentang bersatunya berbagai pihak (hingga berbagai keahlian manusia) dan lambaian tangan penduduk bumi demi menyelamatkan satu orang dari “planet merah” tersebut. Sisi itu sekali lagi muncul untuk menegaskan tentang “memanusiakan manusia”, sekalipun ada ‘harga mahal’ yang harus dibayar.

Dari area marketing, jelaslah bila “The Martian” memiliki momen yang sempurna untuk peluncurannya di saat NASA sendiri mengkonfirmasi penemuan air di Mars. Secara tidak langsung, tentunya itu merupakan kesuksesan tersendiri berupa daya tarik besar bagi orang-orang untuk menontonnya. Ataukah mungkin ada konspirasi antara Ridley Scott dengan NASA seperti rumor terdahulu dengan Stanley Kubrick lewat “2001 : A Space Odyssey (1968) ?. Untuk hal ini saya harap Anda tidak menanggapi serius pernyataan saya ini.
8 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !