“Dendam masa lalu akibat bullying”. Sebuah pernyataan standar untuk mengawali ulasan ini dan
menjadi semakin klise ketika tema serupa kembali diangkat ke ranah film. Klise
dalam ide bukan berarti akan berakhir menjadi sebuah film yang buruk jika mampu
dikemas menjadi sajian yang menarik. Kembali ke tema “pembalasan dendam”, ada 2
macam treatment yang bisa digunakan,
pendekatan yang lebih ‘keras’ melibatkan fisik yang dianiaya atau permainan
secara psikologis. “The Gift” merupakan debut penyutradaraan dari Joel Edgerton
yang menggunakan psikologis dalam menciptakan teror-terornya demi menyiutkan
nyali, tanpa perlu memberikan hantaman keras di bagian klimaksnya. Meski tidak
banyak bermain dengan siksaan berdarah-darah, nyatanya “The Gift” sanggup
menghadirkan kengerian bahkan dari hal yang sifatnya sederhana tanpa ancaman.
Jumat, 20 November 2015
TANGERINE [2015]
Film karya sutradara Sean S. Baker ini hampir keseluruhannya diambil
dengan menggunakan 3 smartphone iPhone
5s. Berbekal beberapa aplikasi tambahan, maka jadilah film sederhana yang
didominasi saturasi warna jingga kekuningan layaknya sebuah jeruk (tangerine). “Tangerine” sederhana dari
segi pengemasannya, tapi memiliki kompleksitas cerita dengan kejujuran dari
caranya bertutur. Penuh umpatan dan makian, membuat “Tangerine” yang naskahnya
ditulis oleh Chris Bergoch dan Sean S. Baker sendiri ini semakin menonjol dari
penceritaannya yang tanpa perlu ditutupi dengan kepalsuan. Vulgar dan bebas,
tapi tidak membuat risih bagi penontonnya sebab begitu memukau dan
menggemaskannya apa yang akan kita lihat dan dengar dalam lika-liku ceritanya.
Rabu, 18 November 2015
GOODNIGHT MOMMY [2014]
Sejak kali pertama membaca
sinopsisnya, ada perasaan ngeri yang tervisualisasi dalam pikiran, disusul rasa
ingin tahu yang begitu besar untuk menonton film yang berjudul asli “Ich Seh,
Ich Seh” ini. Dari luarnya saja, film ini tampak sebagai arthouse
bertempo lambat yang merupakan tipikal film kegemaran saya. Dengan suntikan horror-thriller ke dalamnya, “Goodnight Mommy” sudah bagaikan ‘pembunuh’ yang di tahap
pertamanya merayu dengan lembut, menarik secara perlahan, dan menusuk sadis di
bagian akhir. Rayuan lembut namun mematikan itu bahkan sudah muncul sedari awal
ketika sebuah vintage footage Jerman berisikan paduan suara
menyanyikan “Brahm’s Lullaby –Good Evening, Good Night”. Kontennya sederhana
memang, tapi kesan creepy itu begitu
kuat terpancar dari footage yang
sudah dipenuhi bercak hitam itu.
Senin, 16 November 2015
MR. HOLMES [2015]
Sudah tidak terhitung berapa
kali adaptasi dari detektif paling ikonik asal Inggris ini. Tidak hanya lewat
film maupun serial tv, nama besarnya juga sering digaungkan dalam serial
animasi. Masih segar dalam ingatan, ketika nama “Sherlock Holmes” mulai masuk
perbendaharaan kata saya melalui serial “Detective Conan”, khususnya pada salah
satu versi filmnya yang berjudul “The Phantom of Baker Street” (2002). Sejak
saat itu, detektif yang dikenal dengan image
bertopi pemburu dan menghisap pipa rokok ini mulai melekat cukup kuat dalam
pikiran saya. Apalagi yang cukup fenomenal ketika dibawakan oleh Robert Downey
Jr. meskipun saya akui pembawaannya sedikit lebih ‘ringan’. “Mr. Holmes” karya
sutradara Bill Condon ini tidak menggunakan dasar cerita utama ketika Sherlock
Holmes masih aktif menjadi detektif, tapi sebaliknya ketika ia sudah pensiun
dan menginjak usia 93 tahun dalam keterasingan.
Jumat, 30 Oktober 2015
YANG (MUNGKIN) SERING KELIRU
Kali ini, tulisan saya tidak berisikan dengan ulasan film, melainkan
hal-hal yang sebagian besar salah dimengerti oleh kebanyakan orang khususnya di
ranah film. Kali ini saya membatasi hingga 10 pernyataan saja dari fakta-fakta
yang sering saya temukan di lapangan. Sebagian besar berasal dari orang-orang
sekitar maupun yang saya peroleh dari komentar-komentar di sebuah forum atau
sejenisnya. Nah sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak mencoba
untuk ‘sok tahu’ dengan membuat tulisan ini, melainkan hanya sebagai media sharing dan belajar bersama. Sebab, saya
sendiri juga masih sering melakukan kesalahan pemahaman pada istilah-istilah
dalam film. Tidak lain dan tidak bukan karena saya memang masih tergolong
‘penonton awam’ yang masih butuh banyak belajar.
Kamis, 29 Oktober 2015
GÜEROS [2015]
Jika Anda adalah salah seorang yang kerap kali mengikuti film-film
bergenre road-trip, maka dengan
mudahnya Anda akan ketahui hal esensial apa yang selalu ditawarkan di dalamnya.
Sebuah perjalanan yang sifatnya tidak hanya perpindahan dari suatu tempat ke
tempat lain, melainkan sudah pada ranah spiritual yang kelak mengubah watak
para karakter dalam film genre
tersebut. Debut penyutradaraan Alonso Ruizpalacios lewat Güeros yang notabene juga merupakan road-trip
dengan sentuhan coming-of-age inipun
pastinya tidak lepas dari tranformasi karakter tersebut. Rupanya, Alonso
Ruizpalacios tidak hanya sekedar mengisi filmnya dengan liku-liku semangat muda
(keluarga, persahabatan, cinta, dan revolusi) di dalamnya melainkan juga telah
menyentuh sektor lain seperti isu sosial yang pernah terjadi di Meksiko pada
tahun 1999.
Sabtu, 24 Oktober 2015
KNOCK KNOCK [2015]
“Jangan sekali-kali percaya dengan orang asing apalagi sampai
menawarkan tempat tinggal dalam keadaan sendiri di sepinya malam”. Mungkin
itulah premis yang ditawarkan oleh “Knock Knock”, film home invasion terbaru dari Eli Roth. Sangat sederhana karena tema
yang diangkat sendiri sudah terlalu mendasar. Namun dalam keadaan ataupun
alasan tertentu, kehadiran orang asing semacam itu masihlah menimbulkan
kebimbangan, khususnya ketika mereka sedang meminta pertolongan. Akankah
percaya dengan menolongnya ataukah sebaliknya. Hal itulah yang dialami oleh
Evan Webber (Keanu Reeves) dalam film yang merupakan remake dari film berjudul “Death Game”.





