Selesai
menonton “Guilty”, saya hanya bisa berbaring sembari menarik nafas dalam-dalam
dan mengeluarkannya pelan-pelan. Sesegera mungkin saya mengambil ponsel serta
mencari tahu kebenaran di balik “Noida Double Murder Case” yang menjadi dasar
dari ceritanya. Sudah lama saya tidak menonton film hingga memberikan efek yang
begitu besar pada saya. Kini saya menemukan “Guilty” arahan Meghna Gulzar;
membuat saya terjerat dalam alotnya kasus yang pernah menggemparkan India pada
tahun 2008 itu. Imbasnya adalah tiada hentinya saya memikirkan kasus pembunuhan
yang sangat rumit itu hingga terbawa mimpi. Mungkin saya terlalu berlebihan,
tapi itulah adanya. Hingga saya menulis ulasan ini pun, bayang-bayang kasus rumit
tersebut masih membekas kuat di kepala saya.
Selasa, 05 Januari 2016
Kamis, 31 Desember 2015
FILM TERBAIK 2015
Akhir tahun pun tiba. Seperti halnya blogger atau pun situs ulasan film lainnya, saya juga merasa wajib
untuk membuat daftar film-film terbaik (versi saya) di tahun ini. Jika lainnya
mungkin membuat 10 daftar, maka saya menyediakan 20 daftar film. Alasannya
tidak lain karena jumlah film bagus yang saya tonton tahun ini sangat banyak,
maka perlulah peningkatan kuota. Sepanjang tahun ini pun, saya sudah menonton
lebih dari 200 film (tidak termasuk rewatch). Ada yang sangat bagus, bagus, sedang, bahkan kriteria
sangat jelek pun juga ada.
Pada dasarnya, daftar yang saya buat ini murni penilaian pribadi;
dengan kata lain tidak bersifat mutlak. Mungkin saya menilai sebuah film dengan
kriteria “sangat bagus”, bisa saja film tersebut “lumayan” oleh blogger lainnya. Masih banyak pula
film-film bagus yang belum sempat saya tonton dan masuk ke dalam daftar ini,
seperti : Brooklyn, The Hateful Eight, The Revenant, Room, Spotlight, dan masih
banyak lainnya.
Selasa, 29 Desember 2015
DRISHYAM [2015]
Selesai menonton “Drishyam”, tiada hentinya saya mengagumi thriller dengan tingkatan ekstra ini
disertai sedikit rasa penyesalan. Penyesalan apakah itu ?. Yaitu penyesalan
mengapa saya tidak beruntung menonton versi orijinalnya. Perlu Anda ketahui
sebelumnya bahwa “Drishyam” yang rilis bulan Juli di tahun ini adalah versi remake dari film berjudul sama tahun
2013. Remake ini disutradarai oleh
Nishikant Ramat, sedangkan Jeethu Joseph pada film orijinalnya sekaligus
penulis naskahnya. Tidak tanggung-tanggung pula, “Drishyam” sendiri sudah
pernah di-remake hingga tiga kali dan
menggunakan bahasa yang berbeda. Malayalam di film orijinalnya; Kannada,
Telugu, dan Hindi di bagian remake. Ini
semua tidak lepas dari kebiasaan lama saya yang selalu memilih versi orijinal
dalam sebuah film ketimbang menonton versi buatan ulang. Itulah alasannya.
Sabtu, 26 Desember 2015
STAR WARS: THE FORCE AWAKENS [2015]
Saya mengakui bahwa saya bukanlah
penggemar berat dari “Star Wars”, walau saya sudah menonton kesemua filmnya.
Meski begitu, bukan berarti saya meremehkan franchise
yang terkenal seantero dunia ini. Saya datang untuk menontonnya dengan penuh
pengharapan besar bahwa “The Force Awakens” akan memiliki hasil yang sangat
memuaskan. Bahkan tidak terlintas sedikit pun dalam pikiran bila installment ketujuh ini bakal
mengecewakan. Saya tipikal penikmat film yang jarang mengikuti trailer sebuah film; selain karena
alasan lebih memilih kejutan. Namun itu tidak berlaku bagi “The Force Awakens”
yang sudah saya tonton teaser-nya
sejak satu tahun yang lalu; sebab godaan “Force-nya” begitu kuat memaksa saya. Hasilnya—film
arahan J. J. Abrams (Super 8, 2011) ini memang melebih ekspektasi saya.
Senin, 21 Desember 2015
TO KILL A MOCKINGBIRD [1962]
Beberapa
waktu lalu, saya sempat menggeledah isi dari external harddisk dengan recovery
software, berharap menemukan kembali film-film yang telah terhapus. Saya
ingat, ketika itu tengah krisis film untuk ditonton. Salah satu yang cukup
mengagetkan adalah temuan film “To Kill a Mockingbird” ini. Saya mencoba
kembali mengurai ingatan-ingatan lalu, sejak kapan saya pernah memiliki film
ini ?. Tidak pernah. Sampai kemudian saya teringat bahwa teman saya pernah
meminjam external harddisk dan
menyimpan film ini—lalu kemudian ia memindahkan dalam laptopnya. Tidak asing
lagi dengan judulnya, saya pun memastikan diri untuk menontonnya di saat yang
tepat. Inilah film yang memenangkan tiga Oscar (dari delapan nominasi), salah
satunya Best Picture meski kemudian
tumbang dari “Lawrence of Arabia”.
Minggu, 20 Desember 2015
GOOSEBUMPS [2015]
Pertama kali mengenal karya R.L. Stine
ini lewat adaptasi serial tv yang juga ditayangkan di salah satu stasiun tv di
negeri ini. Jika saya mencoba untuk mengingat-ingatnya lagi, saya lupa tahun
berapa. Hanya saja seingat saya, pemutarannya di waktu sore. Dengan keberadaan
serial tv “Goosebumps” itu, sore saya menjadi waktu paling menyenangkan
sepanjang hari. Hingga kini, sebagian besarnya telah lupa episode apa saja yang
pernah saya tonton. Di antara semuanya, mungkin episode “The Haunted Mask”
adalah yang paling membekas dalam pikiran. Masuk akal saja, sebab episode satu
itu terus berkelanjutan sampai beberapa episode berikutnya.
Sabtu, 19 Desember 2015
PSYCHO [1960]

Kali kedua menonton, “Psycho” masih
tetap membuat saya terpukau sebagai salah satu satu karya besar dalam dunia
sinema. Impresi saya tidaklah sebesar ketika pertama kali menontonnya memang,
tapi tetap saja “Psycho” terlalu sulit untuk diacuhkan pesonanya. Bila ingat
“Psycho”, maka pikiran ini tidak bisa dilepaskan dari; menegangkan, twist mengejutkan, gore tingkat ekstra, dan shower
scene yang legendaris itu. Saya merasa perlu untuk menulis ulasan tentang
film ini, sebab mungkin masih banyak yang belum menonton thriller klasik yang sangat terkenal ini. Terutama bagi Anda yang
sering menjadikan genre ini sebagai
tontonan favorit, “Psycho” masuk dalam daftar wajib tonton. Maka di sinilah
peran saya untuk memperkenalkannya kepada Anda.




