Selasa, 29 Desember 2015

DRISHYAM [2015]

Selesai menonton “Drishyam”, tiada hentinya saya mengagumi thriller dengan tingkatan ekstra ini disertai sedikit rasa penyesalan. Penyesalan apakah itu ?. Yaitu penyesalan mengapa saya tidak beruntung menonton versi orijinalnya. Perlu Anda ketahui sebelumnya bahwa “Drishyam” yang rilis bulan Juli di tahun ini adalah versi remake dari film berjudul sama tahun 2013. Remake ini disutradarai oleh Nishikant Ramat, sedangkan Jeethu Joseph pada film orijinalnya sekaligus penulis naskahnya. Tidak tanggung-tanggung pula, “Drishyam” sendiri sudah pernah di-remake hingga tiga kali dan menggunakan bahasa yang berbeda. Malayalam di film orijinalnya; Kannada, Telugu, dan Hindi di bagian remake. Ini semua tidak lepas dari kebiasaan lama saya yang selalu memilih versi orijinal dalam sebuah film ketimbang menonton versi buatan ulang. Itulah alasannya.

Hero di film ini adalah Vijay Salgaonkar (Ajay Devgn), seorang pria kelas menengah yang bahkan tidak lulus sekolah dasar. Walau begitu, Vijay sukses menjalankan usaha servis TV kabel di Goa. “Mirage Cable” namanya. Ia tinggal dengan damai bersama istrinya, Nandini (Shriya Saran) serta kedua putrinya. Selain Vijay suka menonton film dan mengambil pelajaran penting dari dalamnya, ia juga terkenal sebagai pria santun dan taat hukum. Ia disukai banyak orang, kecuali sub-inspektur Gaitonde (Kamlesh Sawant) yang selalu membuat masalah dengannya. Entah mimpi apa malam harinya, Vijay sekeluarga tertimpa masalah besar dan sanggup menyeret mereka ke dalam penjara. Putri tertuanya secara tidak sengaja membunuh seorang pemuda yang tidak lain merupakan putra Inspektur Jendral Meera Deshmukh (Tabu). Apa yang terjadi selanjutnya ?.   

“Drishyam” memiliki beberapa hal pokok yang mengasyikkan untuk dibicarakan. Semua itu meliputi karakter, konflik, dan sedikit pesan yang disampaikan di bagian awal-awal. Tentunya saya tidak berusaha untuk membandingkannya dengan versi asli, karena belum menontonnya. Bisa saja tidak. Baik, kembali pada karakter utama di film ini, Vijay Salgaonkar. Ia bisa dikatakan seorang movie addict; hampir semua film ia tonton. Tapi yang sering saya lihat ia cukup sering menonton film-film action. Ia serap banyak pengetahuan lewat film-film tersebut, termasuk yang berhubungan dengan sisi teknikalnya. Ada sebuah sekuen dimana Vijay menolong pasangan lansia yang dijebak oleh oknum polisi korup, Gaitonde. Pasangan lansia tersebut sama sekali tidak mengerti hukum. Karena Vijay gemar menonton film, ia beberkan sedikit trik untuk membalas oknum polisi yang keji itu. 

Bicara soal karakter oknum polisi yang merupakan lawan tanding Vijay di sini, hal itu tidak lepas dari kritikan satir yang dilontarkan. Anda akan menemuinya di sepanjang film ini. “Drishyam” mencoba mengkritisi terkait tingkah oknum-oknum polisi yang tidak bertanggungjawab dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk menindas kaum yang lemah. Bahkan demi mengeruk kebenaran, mereka kerap menggunakan cara yang tidak berkeprimanusiaan. Pada bagian awal, “Drishyam” memang seolah menyuarakan bentuk protesnya tersebut. Tapi itu bukanlah secara keseluruhan apa yang coba Jeethu Joseph (penulis cerita aslinya) sampaikan dalam film “Drishyam” (berlaku untuk semua versi). 

Vijay adalah sosok yang mudah bergaul, temannya banyak, cerdas, dan humoris. Ia sangat dekat dengan keluarganya meskipun jarang pulang dan memilih menonton film di kantornya, “Mirage Cable”. Singkatnya, Vijay adalah sosok keluarga baik-baik yang tidak pernah membuat masalah dengan sekitar. Hingga kemudian konflik pun memuncak, membuat keluarganya secara tidak sengaja telah melakukan kriminal besar. Dari sinilah sang penulis naskah memberikan dilema pada karakter utamanya. Karakternya diberikan dua opsi, antara menghadapi dampak dari konfliknya atau memilih lari dari realita. Titik ini adalah letak kekuatan dari “Drishyam”. Filmnya mampu mengacak-acak pikiran; bukan karena rumitnya plot berjalan, melainkan “penghakiman” apa yang akan diterima oleh para karakter utamanya (Vijay sekeluarga). 

Mungkin saya sudah pernah menuliskan dalam ulasan bahwa saya seorang penggemar berat film-film India. Suami aktris Kajol ini adalah salah satu dari sekian aktor Bollywood yang cukup sering saya tonton filmnya di masa jayanya. Ajay Devgn selalu masuk dalam daftar tonton dari film-film lawas selain Mithun Chakraborty, Akshay Kumar, hingga Sanjay Dutt. Ada nilai plus yang saya dapatkan dari versi daur ulang ini daripada versi aslinya. Apalagi kalau bukan soal nostalgia dengan aksi Ajay Devgn di sini meskipun ia tidak tampil dengan karakter badass seperti di film-film terdahulu. Tidak mengapa, kerinduan tersebut sudah terobati yang mana mungkin tidak bisa saya dapatkan pada versi aslinya. 

Masalah performa, Ajay Devgn memang kurang maksimal di film ini. Karakter Vijay sangat menarik, tapi lemah pada bagian penggeraknya saja. Tabu sebagai Inspektur Jendral Meera lah yang menguasai film. Ia tampil dengan sangat baik sebagai seorang polisi wanita yang tegas; tidak jarang mengeluarkan aura mematikan yang begitu menyengat. Tatapan matanya dan ketelitian analisisnya sanggup membuat pelaku kriminal bertekuk lutut. Kemunculannya bisa dinilai cukup singkat, tapi lebih dari cukup demi membangkitkan aura ketegangan.  

Membicarakan soal performa dalam “Drishyam” memang sebuah keputusan yang tepat, mengingat apa yang membedakannya dengan remake lainnya adalah di bagian itu. Namun kembali lagi saya tidak berusaha mengkomparasikan keduanya. Dari referensi yang saya dapat, “Drishyam” versi Nishikant Kamat ini disebut terlalu mirip versi asli tanpa ada pengembangan sedikitpun. Maka tidak ada cara lain menilainya (bagi yang sudah menonton keduanya), selain lewat performa, pengarahan, maupun sinematografi. Tanpa dibayang-bayangi oleh film aslinya, “Drishyam” adalah thriller yang benar-benar thriller. Menegangkan, breathtaking, serta mengacaukan pemahaman kita antara siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebab, di akhir pun, “Drishyam” tidak mencoba mengadili para tokohnya.    

3 komentar:

  1. Tulisan yang menunjukkan keluwesan menulis dari penulisnya. Salut!

    BalasHapus
  2. baru nonton film ini tadi malam..
    bener-bener keren!

    BalasHapus
  3. Film yang bikin mules, dan tangan keringat dingin keren bgt

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !