Rabu, 27 Juli 2016

THE FLY [1986]

**FILM SUPER**
David Cronenberg paling diingat akan karyanya yang ber­genre body horror, dan “The Fly” adalah yang saya maksudkan. “The Fly” tidak hanya sukses secara komersial pada masanya. Film ini juga meraih critical acclaim lewat performa Jeff Goldblum, spesial efek (menang di Academy Award), serta pesan tentang AIDS yang terselip di dalamnya.

Mungkin mengulas kembali film lawas macam “The Fly” yang sudah terlalu dikenal tampak sebagai pengisi waktu luang belaka. Tapi saya merasa perlu melakukan ini. Perlu sekali. Saya ingin banyak dari Anda mengetahui bagaimana film legendaris seperti ini, bisa selalu dikenang. Dan tentu ini juga berlaku untuk legenda lainnya yang secara bertahap akan saya ulas. 

Kembali ke topik, membicarakan “The Fly” sama halnya membicarakan bagaimana para pecinta gore bisa terpuaskan. “The Fly” memiliki apa yang selalu diharapkan oleh pecintanya; mutasi tubuh, darah muncrat, daging terkoyak, dan masih banyak lagi. Unsur penting yang meraih hati dari film sejenis di masanya adalah pada efek itu sendiri. 

Practical effect saat ini hampir jarang digunakan. CGI yang lebih modern dan praktis, berhasil menggerusnya. Penggunaan praktikal semacam ini lebih terlihat nyata dan menantang, menimbulkan emosi yang berbeda setiap kali menontonnya. Saya pikir, ‘waktu’ juga beperan penting di sini. Seandainya practical effect dimanfaatkan di masa kini, tidak ada jaminan bisa kembali meraih kesuksesan yang sama. Terlihat goofy mungkin.

“The Fly” diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya George Langelaan. Pernah diadaptasi pula ke dalam film pada tahun 1958. Di sini saya tidak akan membandingkan keduanya, karena faktanya saya belum menonton versi orijinal. Untuk membandingkannya pun, saya yakin versi lebih klasik tidak mampu menyaingi versi Cronenberg hampir di semua lini. Tahapan transformasi creature—inilah yang tidak dimilikinya.
Di sini kita akan bertemu dengan Seth Bundle (Goldblum), ilmuwan yang penemuannya masih dirahasiakan. Wartawan dari Particle Magazine, Veronica Quaife (Geena Davis) berhasil mendekati Seth untuk mencari tahu apa yang terjadi. Kita tahu, pada akhirnya Seth dan Veronica adalah love-interest.

Seth Bundle adalah seorang pria canggung, nerdy, tidak percaya diri, dan semacamnya. Adakah gambaran ilmuwan yang normal dalam film? Semua ilmuwan tidaklah normal. Jika ia digambarkan normal, penonton akan sulit dalam memilah karakternya dengan karakter yang lain. Perlukah saya membicarakan karakter Seth cukup rinci di sini? Sangat perlu. Karakterisasinya memiliki substansi yang kuat dalam alur film. 

Cerita kemudian bergulir pada hubungan Seth dan Veronica lebih dalam. Seth lantas memperkenalkan penemuannya berupa mesin teleportasi bernama “Telepod.” Sukses memindahkan benda mati, Seth memiliki PR memindahkan makhluk organik. Dalam film-film science-fiction bertema invention, pokok permasalahan yang sering muncul adalah kegagalan percobaan. “The Fly,” tidak luput dari hal tersebut. Yang terjadi kemudian bukan lagi sebuah kegagalan. Tapi bencana!

Apa yang paling diingat orang pada “The Fly?” Tentu, sekuen transformasi Seth menjadi makhluk hybrid yang dikenal dengan “Bundlefly.” Chris Walas—yang kemudian menyutradarai sekuelnya, adalah kepala efek spesial di sini. Ia berhasil menciptakan creature yang tidak hanya menyeramkan, tapi pembuktian pula akan kemahirannya dalam meramu latex menjadi ‘mimpi buruk.’
Bagi saya pribadi, kuncinya adalah David Cronenberg sendiri. Ia jenius dalam mengatur timing. Ia tahu kapan saatnya memainkan tempo yang pelan, tahu pula kapan memberikan kejutan yang menggelegar. “The Fly” dibangun dengan slow building, membuat kita mengenal siapa saja karakter yang terlibat di dalamnya. Pengenalan karakter secara mendalam, penting juga bagi kita untuk memberi simpati dan menjadi bagian di dalamnya. Bahkan hingga dialog yang diujarkan, sangat menarik untuk disimak. Setiap kata yang terlontar tidak terasa sebagai omong kosong semata. 

“The Fly” tidak seperti horror kebanyakan dimana karakter berpondasi sangat kuat di sini. Performa Jeff Goldblum sebagai pria yang ‘kesakitan,’ dan chemistry dengan Geena Davis, membuat film ini seakan drama tragedi. Cinta, nafsu, kecemburuan; terangkum dengan sangat baik. Dan di saat itu pula kita lupa bahwa tengah menonton horror berefek disgusting. Hey, adakah horror lain dimana kita begitu peduli dengan karakternya? Adapula kah yang sesensual ini?       

Banyak yang berinterpretasi kalau “The Fly” menyiratkan soal AIDS. Cronenberg menyangkalnya dengan berpendapat bahwa ini tentang kematian; sebuah gerbang yang pasti dilalui makhluk hidup. Bagi saya, “The Fly” adalah metamorfosa. Sebuah keadaan dimana entitas menginginkan tingkatan sosial yang lebih tinggi, pola pikir, hingga emosi.

1 komentar:

  1. "Zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !