Selasa, 19 Juli 2016

THE LOVED ONES [2009]

“The Loved Ones,” film indie Australia, diawali dengan adegan seorang remaja SMA yang mengendarai mobil bersama ayahnya. Remaja SMA itu bernama Brent (Xavier Samuel), terlihat sangat akrab dengan ayahnya. Untuk ukuran pelajar SMA, tentu Brent belum memiliki SIM. Tapi sosok ayah yang dekat—bak seorang teman, mengijinkannya mengemudi.

Mereka banyak mengobrol, bercanda, dan tertawa di sepanjang jalan. Si ayah tampak memiliki jiwa yang lebih muda dari usianya. Kemudian, konsentrasi Brent yang tengah menyetir seketika buyar tatkala seorang pemuda bersimbah darah, berjalan pelan di tengah jalanan. Brent membanting stir. Mobil berhasil menepi, tapi naas! Sebuah pohon besar menghentikan lajunya.

Narasi bertolak pada “enam bulan kemudian.” Di sekolah, tepatnya di samping loker, Brent bersama sahabatnya, Jamie (Richard Wilson), tengah membicarakan pasangan untuk dansa. Pembicaraan mereka juga menjadi ajang transaksi ganja. 

Brent telah memutuskan bersama dengan Holly (Victoria Thaine), kekasihnya, sebagai pasangan dansa. Jamie telah diterima pula ajakannya dengan Mia (Jessica McNamee), gadis gotik yang ternyata putri seorang polisi sekitar sana. Tak lama, seorang gadis lugu mendekati untuk mengajaknya. Tentu Brent menolak. Saya yakin bukan karena ia telah memiliki Holly, akan tetapi gadis yang bernama Lola itu (Robin McLeavy), bukan tipenya.

Kembali ke adegan awal, sejatinya adegan tersebut memiliki sinkronisasi dengan karakter dan film keseluruhan. Peristiwa kecelakaan tersebut, membuat Brent menjadi sosok yang pendiam dan menyalahkan diri sendiri. Tidak jarang ia memilih menyendiri di tempat sepi. Tidak dinyana, kebiasaan itu justru malah mencelakainya. 

Seorang pria misterius membekapnya dengan obat bius. Saat itu, Brent tengah menikmati kesendiriannya di sebuah bukit. Siapa pria itu? Jika Anda menontonnya, saya yakin Anda tidak akan terkejut. Sudah bisa ditebak, jika Lola ada di balik rencana jahat itu. Dengan alasan apa? Tentunya karena penolakan Brent atas ajakan dansa.

“The Loved Ones” yang diawali dari drama tentang depresi akan masa lalu, lantas berubah menjadi torture porn. Ya, Brent menjadi korban kekejian jiwa psikopat Lola bersama ayahnya yang juga maniak (diperankan oleh John Brumpton). Dengan gaun berwarna merah muda, Lola melampiaskan segenap kegilaannya pada Brent yang diikat di atas kursi. 

Siksaan tahap pertama adalah Brent dipaksa masturbasi tanpa menggunakan bantuan apa pun. Tangannya diikat, kakinya juga diikat, bayangkan betapa sulitnya hal itu. Saya sendiri tidak menduga, siksaan yang tampak ringan ini ternyata berat juga jika dibayangkan. Saya tidak akan menuliskan kelanjutannya, karena berpotensi jadi spoiler. Yang pastinya, Anda bisa memikirkan kelanjutannya.

“The Loved Ones” disutradarai oleh Sean Byrne sebagai karya debut. Naskahnya juga ia tulis sendiri. Sebagai film yang mengeksploitasi torture porn, “The Loved Ones” cukup sukses menghibur saya. Beberapa adegan penyiksaannya lumayan membuat ngilu, walau penyajian dalam screentime-nya masih kurang. Saya pikir, kekurangan dalam memainkan ritme juga berpengaruh mengurangi enerji film ini sendiri. Akibatnya, intensitas keseruan menjadi tidak stabil.

Memaksa film bertema torture seperti “The Loved Ones” menjadi sempurna, tidaklah mudah. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah film seperti ini? Sebelum menonton pun, audien sudah bisa memperkirakan alurnya dari konfrontasi hingga resolusi. Tapi dengan pengembangan yang sulit untuk dilakukan, Sean Byrne ternyata masih memperhatikan soal karakterisasi. Ia tidak ingin karakter di sini hanya sekedar pengisi alur cerita yang tidak berotak.

Saya ambil contoh karakter Lola, yang mana paling menarik dari lainnya. Ia bukan sekedar psikopat berkedok gadis lugu semata. Karakter ini adalah manifestasi dari electra complex—lawan dari oedipus complex, yaitu wanita yang menyukai sosok ayahnya dan merasa berkompetisi dengan si ibu. Sean Byrne tidak asal menciptakan karakter ini. Ia membuatnya berbobot; menakutkan tapi juga mengenang. Lewat film ini, pesan saya hanya satu: “Jangan pernah menolak ajakan dansa seorang gadis!”

1 komentar:

  1. "Zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !