Selasa, 26 Juli 2016

THE FAMILY FANG [2015]


Mari kita bicarakan ‘seni.’ Saya percaya, setiap individu memiliki sudut pandang berbeda. Menganggap bahwa seni itu menangkap sebuah gambar yang beremosi, mereka memilih fotografi. Menganggap bahwa seni itu menangkap sebuah gerak obyek, mereka memilih film. Menganggap bahwa foto tidaklah realistis, mereka memilih melukis. Dan masih banyak lainnya. Bagi saya sendiri, seni itu menyoal ‘kejujuran.’

Beberapa tahun lalu, saya sempat kecanduan YouTube sebagai obat insomnia. Di sana saya menemukan jutaan video yang sangat menghibur. Yang paling sering saya tonton adalah video tentang fail dan prank. Saya menyukainya karena lucu dan tanpa rekayasa. 

Waktu berjalan. YouTube terus menanjak sebagai wadah masyarakat demi mempopulerkan jati dirinya. Untuk bisa menarik perhatian, tentu dibutuhkan sebuah karya yang bagus. Masalahnya terletak pada ambisi yang besar ke sana, kadang tidak dibarengi dengan kejujuran berkarya. Desas desus bahwa banyak video prank hasil rekayasa, meninggalkan pertanyaan. Masihkah disebut sebagai karya seni? 

Keluarga Fang yang terdiri dari Caleb (Jason Butler Harner), Camille (Kathryn Hahn), dan dua anak mereka, Annie dan Baxter, kerap membuat sensasi di publik. Mereka membuat semacam video prank untuk menarik atensi khalayak ramai yang tanpa sadar meyeret mereka ke dalamnya. Ada kepuasan tersendiri ketika masyarakat secara emosional terjatuh dalam skenario mereka. Keluarga Fang menyebutnya dengan ‘seni.’
Keluarga Fang merasakan sebuah ketenaran akibat ulahnya itu. Tidak jarang, kontroversi meliputinya. Tapi kini, Annie dan Baxter telah dewasa. Annie (Nicole Kidman) menjadi aktris, sedangkan Baxter (Jason Bateman) seorang novelis. Mereka kini hidup di ‘dunia’ masing-masing. Tak lagi ingin ternaungi bayang-bayang kedua orangtuanya (Christopher Walken dan Maryann Plunkett berperan sebagai versi tua), Annie dan Baxter menganggap bahwa seni yang diajarkannya hanyalah semu.

Keluarga fenomenal ini sekarang hanya tinggal sejarah. Annie dan Baxter tak ingin lagi melanjutkan apa yang dahulu melambungkan nama mereka. Kini mereka hidup terpisah. Tapi sebuah insiden yang dialami Baxter, membuat dirinya dan Annie bertemu lagi dengan orangtuanya. Tentu ada sebuah kekhawatiran di sini. “Anggap saja sebuah reuni,” mungkin pikir Baxter dan Annie.

“The Family Fang” diawali sebagai drama berbalut komedi. Lantas di pertengahan, film ini berubah menjadi misteri tatkala Caleb dan Camille menghilang dalam sebuah kecelakaan. Polisi setempat menduga bahwa ini adalah kasus pembunuhan. Ada dua jawaban berbeda di kubu Annie dan Baxter. Annie yakin bahwa hilangnya mereka adalah bagian skenario. Namun tidak dengan Baxter, ia menduga ada unsur kriminal menimpa orangtuanya. 

Film ini berhasil menarik perhatian saya bahkan sedari sekuen awal. Dengan anteng, saya ingin mengikuti tingkah polah keluarga unik ini. Mereka membuat video prank bukan? Tapi apakah mereka melakukannya demi popularitas? Tidak. Mereka memiliki idealisme tinggi dengan menyebutnya seni. Ini semua soal seni. Klasifikasinya dijelaskan secara personal lewat Keluarga Fang di sini, namun secara esensi bersifat universal.
Saya sangat menyukai film ini. Menyukainya dari awal, tengah, hingga akhir. Naskah dari David Lindsay-Abaire, dengan mengadaptasi novel berjudul sama karya Kevin Wilson, membuat saya bisa masuk ke dalam narasi. Saya seolah menjadi saksi akan kenyentrikan Keluarga Fang. Di satu sisi, saya juga merasakan personalitas tiap karakternya, khususnya pada Annie dan Baxter. Memahami kegundahan mereka yang ingin terlepas dari ‘permainan’ kedua orangtuanya.

Pada bagian ini, saya melihat adanya permasalahan lazim dalam sebuah struktur keluarga. Orangtua, biasa merefleksikan buah pikirnya ke dalam anaknya, menghasilkan kepribadian bentukan. Masalah muncul ketika sang anak memiliki ideologi tersendiri dan jalan yang dipilih pun berbeda. Saat itulah, anak merasa bahwa selama ini didikte dan dikendalikan. 

“The Family Fang” adalah film tentang disfungsional dalam keluarga. Ini juga tentang orangtua yang overbearing. Caleb dan Camille adalah contoh kekuasaan absolute orangtua pada anaknya. Dimana, anak menjadi korban penanaman ideologinya. Ingat, anak tak harus seperti orangtuanya.

Jason Bateman sendiri yang menyutradarai “The Family Fang,” tanpa disangka mampu mengarahkan film yang sukses pula mengarahkan saya ke dalamnya. Ini film yang kompleks. Ini soal seni sebagai pandangan bebas setiap manusia. Ya, manusia bebas memilih seni sesuai kehendak mereka. Ini juga soal bagaimana manusia memilih hidupnya, bukan bagian kendali dari pihak lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !