Rabu, 16 September 2015

TOP 5 MASTURBATION SCENE

<Mungkin Mengandung Spoiler>
Tulisan ini mungkin adalah bentuk dari bingungnya saya dalam mengisi postingan di blog khusus untuk hari ini. Hampir seharian ini belum ada film baru yang saya tonton. Atau mungkin lebih tepatnya adalah kehilangan mood dalam menonton film, padahal gairah dalam menulis sedang bagus-bagusnya. Dari koleksi film dalam “gudang persediaan” juga tidak ada yang sanggup menjadi mood-booster. Maka sekilas terpikirkanlah ide untuk melanjutkan TOP 5 yang sempat terbengkalai ini.

TOP 5 BENCH SCENE


Kira-kira dalam sebuah film, lokasi apa yang biasa terdapat adegan paling ikonik ?. Banyak, baik itu bar, kamar tidur, restoran, bahkan hingga toilet. Dari sekian lokasi yang sering digunakan dalam film, saya paling menyoroti mengenai bench (bangku) ini. Tidak sedikit memang saya menemukan beberapa film yang berisi adegan percakapan karakternya sambil duduk di atas bangku. Di antaranya juga sampai mendapat predikat paling ikonik sebab adegan itu seolah memiliki daya magis yang luar biasa.

TYRANNOSAUR [2011]

Jangan terjebak akan judul hingga poster dari film ini. Meski menggunakan nama salah satu dari dinosaurus, tapi film ini sama sekali tidak bercerita mengenai kadal besar tersebut. Semua akan kembali pada interpretasi penonton bagaimana menerjemahkan judulnya. Meski di dalamnya filmnya disebut beberapa kali, tapi saya pribadi lebih suka bila judulnya merupakan arti secara metafora. “Tyrannosaur” karya debut dari Paddy Considine ini sebetulnya merupakan drama yang bercerita mengenai pergolakan batin seorang manusia. Di mana ketika mereka menahan amarah hingga di ambang batas, hal-hal yang tidak terduga nyatanya mampu terjadi.

Senin, 14 September 2015

REAR WINDOW [1954]

**FILM SUPER**

Satu lagi karya besar dari seorang “Master of Suspense” yang wajib ditonton dan begitu dikenal luas ini. Sama dengan karya Alfred Hitchcock yang lainnya, “Rear Window” tentunya tidak lepas dengan unsur thriller dan suspense. Tidak hanya itu, film yang dibintangi aktor legendaris James Stewart ini bahkan memiliki ciri khas yang unik bila dibanding film-film Hitchcock lainnya terutama dari penggunaan set lokasi. Eksplorasi karakter yang menarik terutama dari relasinya dengan karakter yang lain membuat saya begitu menyukai film ini. Itu memang salah satu keahlian yang dimiliki oleh Hitchcock selain kelihaiannya dalam menciptakan atmosfir menegangkan bagi penonton hingga permainan dari sisi psikologis.

Sabtu, 12 September 2015

AWAL SUKA FILM

Bagi saya, dua hari tidak menulis merupakan waktu yang cukup lama, mengingat seringnya saya dengan hobi baru ini terhitung sejak membuat blog. Tidak tahu mengapa, saya merasa mulai nyaman sekali dengan tulis menulis, meskipun kualitasnya tidaklah sebagus blog ulasan film lainnya. Rasanya jari-jari ini gatal sekali bila sehari tidak menulis. Baik, cukuplah curhatan singkatnya. Dalam tulisan kali ini saya hanya sekedar ingin berceloteh mengenai awal perjalanan bisa mengenal film. Saya memang cukup sering menonton film, meski tidak bisa disebut juga sebagai freak, sebab jumlah yang saya tonton pun masihlah sedikit. Apalagi pengetahuan lebih rinci mengenai sejarahnya, orang-orang terkenal di baliknya, hingga judul-judulnya sendiri mungkin masih amat sangat sedikit.

Rabu, 09 September 2015

TED 2 [2015]

Sejak perkenalan pertama lewat si boneka beruang yang doyan mengumpat ini, saya langsung sangat menyukai karakter ini. Tidak tanggung-tanggung, tiga kali menonton filmnya pun masih membuat saya tertawa terbahak-bahak dengan ulah menggemaskan Ted. Tapi tidak untuk sekuel ini. Ya, saya memang masih tertawa di beberapa momennya, tapi saya akui malas untuk menontonnya lagi. Sekalipun jika harus mengunduh dengan cara gratisan. Melihat kesuksesan luar biasa dari seri pendahulunya (baik komersial maupun kritik), bukan tidak mungkin kalau Ted diharapkan sanggup menjadi ‘mesin pencetak uang’ lagi. Sayangnya, hasilnya adalah masih tetap sama dengan film pertama, dan yang berbeda hanya terletak pada penambahan angka “2” di judulnya dan hengkangnya Mila Kunis.

Selasa, 08 September 2015

EVERLY [2014]


“Everly” tidak ubahnya film female vigilante dengan aroma grindhouse seperti layaknya film-film milik Quentin Tarantino. Benar saja, “Everly” memiliki senyawa dari “Dwilogy Kill Bill” (2004) yang keduanya juga bercerita mengenai seorang wanita yang memberontak pada kelompok yang telah menaunginya. Joe Lynch mengusung kembali konsep tersebut ke dalam film ini namun tidak lantas mengulang sepenuhnya yang pernah ada. Dengan kreatifnya ia menggunakan single location berupa ruang apartemen sebagai battlefield untuk sekuen aksinya. Salma Hayek yang memiliki kharisma wanita seksi pun sangat pantas disematkan di posisi leading role.