Selasa, 08 September 2015

EVERLY [2014]


“Everly” tidak ubahnya film female vigilante dengan aroma grindhouse seperti layaknya film-film milik Quentin Tarantino. Benar saja, “Everly” memiliki senyawa dari “Dwilogy Kill Bill” (2004) yang keduanya juga bercerita mengenai seorang wanita yang memberontak pada kelompok yang telah menaunginya. Joe Lynch mengusung kembali konsep tersebut ke dalam film ini namun tidak lantas mengulang sepenuhnya yang pernah ada. Dengan kreatifnya ia menggunakan single location berupa ruang apartemen sebagai battlefield untuk sekuen aksinya. Salma Hayek yang memiliki kharisma wanita seksi pun sangat pantas disematkan di posisi leading role.

Di sini Salma Hayek berperan sebagai Everly, seperti judulnya ia adalah seorang wanita penghibur yang bekerja pada pimpinan mobster dari Jepang, Taiko (Hiroyuki Watanabe). Merasa dikhianati, Taiko berencana membunuh Everly lewat tangan para wanita penghibur lainnya yang tidak bisa diremehkan kemampuan kombatnya. Merasa ibu dan anaknya terancam, Everly harus berjuang melawan setiap suruhan Taiko itu dan ia pun harus terjebak dalam ruang apartemen.

Saya tidak mengira bila “Everly” akan dibuat dengan sentuhan yang stylish seperti ini. Salah satunya adalah penggunaan set lokasi yang hanya berada di ruang apartemen. Berbagai aksi tembak-tembakan yang cukup seru dihadirkan Joe Lynch sejak menit-menit awal tersebut. Apa yang membuat bagian aksi tersebut terlihat seru adalah dipilihnya karakter-karakter wanita penghibur sebagai lawan tanding bagi Everly. Setiap satu musuh roboh, maka disusul yang lainnya hingga selesainya opening act ini. Tentunya sangat mengasyikkan sekali melihat para wanita ini saling menembak seperti orang kesetanan, bahkan sempat ada karakter yang menggunakan senjata tradisional Jepang. Para wanita simpanan mobster itu bukanlah wanita sembarangan, sebab mereka semua (termasuk Everly) telah dibekali dengan kemampuan bela diri dan jago tembak. Semua itu tidak lain adalah bentuk kesenangan Taiko yang menjadikan wanita-wanita itu semacam ‘mesin pembunuh’ berbalutkan tubuh seksi. Kemudian pace pun mulai melambat demi membiarkan penonton tenang sekejap untuk menarik nafas dalam-dalam.

Joe Lynch juga menyelipkan komedi hitam di beberapa momen dalam film ini. Sebagian memang lucu, namun sebagian juga membuat karakter yang ada menjadi terlihat bodoh. Jeda adegan adu tembak di awal tadi diisi dengan pertemuan antara Everly dengan ibu dan anaknya. Momen yang menjadi reuni bagi mereka setelah berpisah selama 4 tahun itu tidaklah dikemas dengan begitu dalam dan cenderung sangat membosankan. Boleh saja bila sebuah film diisi dengan aksi-aksi brutal nan kejam serasa tiada henti. Tapi sekalinya memasukkan drama ke dalamnya tentu diharapkan mampu dibuat lebih bagus lagi. Tidak ada kedekatan sama sekali antara Everly dengan anaknya, dan konyolnya ia justru meninggalkan anaknya dalam keadaan yang berisiko. Untung saja bagian ganjil itu segera mereda dan kemudian disusul dengan aksi tahap berikutnya. Sebagai kelanjutan aksi ‘penyiksaan’ bagi Everly, Joe Lynch menciptakan dua karakter yang cukup menarik bagi saya, yaitu The Sadist (Togo Igawa) dan The Masochist (Masashi Fujimoto).  

Pada bagian ini, saya mulai menyadari satu hal bahwa konsep dari “Everly” ini selain eksploitasi ala grindhouse ada juga erotic di dalamnya. The Sadist dan The Masochist memberi peranan yang besar di bagian itu lewat masochism. Pun dengan Taiko, saya melihat bahwa karakter ini menjadikan Everly sendiri sebagai pihak submissive seperti dalam seks lewat siksaan-siksaan yang membuat pihak dominant (Taiko) merasa senang. Dengan kata lain bahwa “Everly” ini bagaikan “Fifty Shades of Grey” (2015) yang minus aspek romantisnya. Kehadiran Salma Hayek di bagian leading role tentu bukanlah tanpa alasan selain memang imej ‘wanita seksi’ yang melekat dalam dirinya. Tentu saja ini adalah pemilihan cast yang sangat tepat melihat “Everly” dipenuhi erotic di banyak bagiannya. Selain memasukkan unsur erotic ke dalamnya, saya juga menyukai cara Joe Lynch menambahkan Japanese style ke dalamnya lewat kostum-kostum dan topeng tradisional Jepang seperti oni (setan) misalnya.        

Mungkin terlalu berlebihan pula bila kekurangan pada “Everly” dilimpahkan pada dramanya yang dangkal. Karena sejak awal sendiri memang film ini dikonsep untuk lebih banyak bagian full throttle daripada drama yang menyentuh antara ibu dan anak. Tapi mungkin jika bisa dipoles lagi setidaknya akan lebih ada unsur dramatis meski dari segi kualitas tidak sampai meningkat pesat. Satu hal lagi yang cukup disayangkan adalah nihilnya karakter rival dari pihak wanita penghibur sebagai penyeimbang untuk Everly. Sebagai contoh saya ambil “Kill Bill”, dimana Beatrix Kiddo bertarung dengan hebatnya melawan O-Ren Ishii sebelum tahap akhir melawan Bill. Karakter rival semacam itu seharusnya ada sebagai lawan yang tangguh dan menyulitkan bagi heroine di film ini. Di balik segala kekurangan yang ada, “Everly” masihlah cukup menghibur terutama dari aksi tembak-tembakannya dan penyelipan ero bercampur thriller di dalamnya. Dan Salma Hayek yang usianya hampir kepala 5 pun masih sanggup membuktikan bahwa kharismanya sebagai wanita seksi masihlah belum luntur.

6 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !