Tanpa
membaca sinopsis, tanpa menonton trailer-nya
terlebih dahulu; begitulah apa yang saya lakukan sebagai bentuk persiapan dalam
menonton film berjudul “Victoria” ini. Apa yang menguatkan saya untuk
menontonnya tidak lain karena rating
yang bisa dibilang cukup tinggi. Cukup beralasan. Bukan pertama kalinya saya
melakukan hal ini. Kerap kali tanpa clue
dan modal lainnya, sebuah film akan saya tonton dengan senang hati. Satu fakta
menarik dari film arahan Sebastian Schipper ini adalah dibuatnya film ini
dengan teknik one-take. Bukan hal
yang baru, tapi tetap bisa meningkatkan nilai tambah dalam film. Tanpa saya
sadari, sebenarnya “Victoria” telah menunjukkan jati dirinya dalam tagline di posternya, “One Girl-One
City-One Night-One Take”. Saya paling tertarik dengan frase pertamanya.
Rabu, 16 Desember 2015
Selasa, 15 Desember 2015
THE HARVEST [2013]
John McNaughton sudah dikenal lama
dengan karya-karyanya di ranah horror
dan thriller. Saya mengakui bahwa
“The Harvest” adalah film pertamanya yang baru saya tonton. Impresi pertama
saya adalah bahwa sutradara yang sudah memiliki imej kuat dengan horror – thriller ini memang patut diakui kecerdikannya dalam meramu materi
menjadi sajian yang mengundang ngeri. Tentunya, tidak lupa film terbarunya ini
(rilis dua tahun lalu) memberikan hiburan yang menyenangkan. Karena belum
pernah sekalipun menikmati film-film McNaughton sebelumnya, jadi bagaimana
karakteristik penyutradaraannya masih belum familiar
dalam otak saya. Di antara semuanya, ada satu judul yang tidak asing bagi saya,
yaitu “Henry : Portrait of a Serial Killer” (1986). Anda sudah pernah
menontonnya ?
Senin, 14 Desember 2015
THE LITTLE PRINCE [2015]
“The
Little Prince” diangkat dari novella tahun 1943 karya Antoine de Saint-Exupéry.
Novella ini bercerita tentang seorang Penerbang yang terjatuh di gurun dan
bertemu dengan seorang Pangeran Kecil dari sebuah asteroid. Film animasi dan stop-motion dari Perancis ini memang
tidak secara menyeluruh mengadaptasi dari novella tersebut, akan tetapi menjadi
bagian kecil dari plot utamanya. Untuk memberikan sentuhan yang berbeda (unik),
sang sutradara Mark Osborne memisahkannya menjadi dua bentuk. Animasi komputer
untuk plot utama dari film dan stop-motion
untuk plot dari bagian adaptasi novella. Sang Penerbang disuarakan oleh Jeff
Bridges (termasuk narator), sedangkan Pangeran Kecil oleh Riley Osborne yang
juga muncul di bagian plot utama film.
Sabtu, 12 Desember 2015
GETT: THE TRIAL OF VIVIANE AMSALEM [2014]
“Perceraian”, kata ini memang momok
bagi pasangan suami istri baik yang pernikahannya telah berusia puluhan tahun
maupun yang masih seumur jagung. Bagaimana tidak, karena pada hakikatnya
perceraian itu memisahkan dua insan yang jauh sebelumnya telah mengikat janji
suci untuk bersama selamanya. Ada beberapa hal yang menjadikannya alasan, bisa berupa
kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, ataupun meredupnya rasa cinta. Shlomi
dan Ronit Elkabetz, dua bersaudara yang menulis naskah dan menyutradarai “Gett,
The Trial of Viviane Amsalem” menceritakan betapa alotnya perceraian hingga
memakan waktu 5 tahun, sebab salah satu pihak mencoba dengan keras
mempertahankan keutuhannya. Sebab masih mencintai kah ?. Keras kepala kah ?.
Jumat, 11 Desember 2015
BAJRANGI BHAIJAAN [2015]
Terhitung sejak menulis ulasan ini,
saya sudah menonton “Bajrangi Bhaijaan” hingga tiga kali. Bukan tanpa alasan bahwa
Bajrangi Bhaijaan” sebagai feel good
movie memang mudah menarik perhatian, ceritanya ringan, lucu, dan tidak
membosankan. Dengan mengedepankan isu sosial sebagai bahan dalam memperkuat
ceritanya, pantas saja bila film yang disutradarai oleh Kabir Khan ini banyak
meraih pendapatan luar biasa hingga disebut sebagai film India terlaris kedua
setelah “PK” (2014). Ketertarikan pada film ini dimulai pada pertengahan
November lalu ketika teman saya sedang menontonnya dalam laptop dan saya pun
mengikutinya meski tidak secara keseluruhan. Baru setelah itu saya memutuskan untuk
menonton ulang dan menikmati keasyikan dari petualangan bercampur komedinya.
Selasa, 08 Desember 2015
ROSEMARY'S BABY [1968]
“Rosemary’s Baby” adalah contoh film
horror yang sukses dalam menggabungkan elemen supernatural kuno dalam balutan seting di era modern. Menggunakan
pendekatan psikologi, “Rosemary’s Baby” menakut-nakuti lewat teror alam bawah
sadar dan meninggalkan rasa tidak nyaman bagi penonton. Kegelisahan yang
dialami oleh karakter utama dapat menular dengan mudah dan penonton pun
terjebak dalam situasi yang sama. Ada perasaan yang ‘aneh’ seperti pada
beberapa bagian surealis, membuat merinding tapi tidak akan sampai membuat menjerit.
Roman Polanski, sang sutradara, meracik film ini dengan penceritaan yang terbilang
lambat, namun mencengkeram tanpa perlu ‘meledak-ledak’.
Kamis, 03 Desember 2015
THE ASSASSIN [2015]
“The Assassin” adalah contoh langka bagaimana martial arts dikemas dengan sentuhan
film arthouse. Mungkin yang muncul
dalam benak adalah bagaimana film-film yang mengedepankan aksi tangan kosong
maupun senjata tradisional ini akan dibuat lebih minimalis, mengingat film-film
arthouse lebih banyak menggunakan
penceritaan dengan tempo yang lambat. Kenyataannya memang Hou Hsiao-Hsien lewat
“The Assassin” ini memang banyak meminimalisir adegan-adegan pertarungannya
tapi tetap tidak kehilangan bagian keindahannya. Daya tarik terbesarnya adalah
bagaimana film martial arts satu ini
dibuat lebih terasa unsur seninya dari paduan tata visualnya.






