Selasa, 15 Desember 2015

THE HARVEST [2013]

John McNaughton sudah dikenal lama dengan karya-karyanya di ranah horror dan thriller. Saya mengakui bahwa “The Harvest” adalah film pertamanya yang baru saya tonton. Impresi pertama saya adalah bahwa sutradara yang sudah memiliki imej kuat dengan horrorthriller ini memang patut diakui kecerdikannya dalam meramu materi menjadi sajian yang mengundang ngeri. Tentunya, tidak lupa film terbarunya ini (rilis dua tahun lalu) memberikan hiburan yang menyenangkan. Karena belum pernah sekalipun menikmati film-film McNaughton sebelumnya, jadi bagaimana karakteristik penyutradaraannya masih belum familiar dalam otak saya. Di antara semuanya, ada satu judul yang tidak asing bagi saya, yaitu “Henry : Portrait of a Serial Killer” (1986). Anda sudah pernah menontonnya ?

Seorang remaja terbaring di atas kasurnya sembari mengusir burung yang mengusik pohon jagung yang ditanamnya dari balik jendela. Mengapa ia tidak mencoba keluar ?. Remaja tersebut mengalami kelumpuhan sedari kecil dan membuatnya terasing dari dunia luar. Ia adalah Andy (Charlie Tahan, pengisi suara Victor Frankenstein di “Frankenweenie”, 2012). Satu-satunya temannya adalah Maryann (Natasha Calis), yang baru saja pindah selepas meninggalnya ayahnya. Persahabatan keduanya tidak berjalan mulus. Ibu Andy, Katherine (Samantha Morton) menentangnya dengan alasan demi penyembuhan kemampuan berjalan Andy. Suatu ketika, Maryann menemukan fakta mencengangkan di dalam basemen rumah Andy. Apa yang ada di dalamnya ?.

“The Harvest” berisi formula yang dimiliki oleh sebagian besar coming-of-age drama. Seorang remaja kesepian karena terbentur kekurangan, terkurung sendiri dalam kamar, dan mengharapkan teman bermain. Andy mengalami hal sedemikian rupa, home schooling dengan ibu yang over-protective, semakin disempurnakan dengan fisiknya yang rapuh dan pucat. Cara bicaranya yang terkadang terbata-bata, memberikan kesan kuat dan Charlie Tahan patut diapresiasi dengan aktingnya tersebut. Di sisi lain ada Maryann, gadis seumurannya yang masih dalam tahap ‘penyembuhan’ atas duka pasca ditinggal ayahnya. Maryann tipikal gadis tomboy dan periang. Sayangnya, lingkungan baru kurang begitu bersahabat. Maka, Andy adalah penyelamat masa sepi bagi Maryann.

Sebelum meyakinkan diri bahwa apa yang tengah saya tonton adalah horror – thriller, “The Harvest” (rilis di Inggris dengan judul “Can’t Come Out to Play”, sesuai tagline-nya) berjalan dengan cukup pelan sebelum adegan di besmen. Ya, adegan di besmen. Salah satu elemen wajib yang biasanya muncul dalam film-film bergenre serupa dengan memanfaatkan haunted house sebagai tema utama. Besmen yang gelap gulita nan pengap, menyimpan banyak misteri di dalamnya. Hantu masa lalu dari era Victoria, monster hasil eksperimen, dan berbagai macam creature contohnya. “The Harvest” memilikinya, termasuk seting rumah khas farmhouse dengan kesan eerie meski dari penampakan luarnya saja. 

Yang perlu diketahui adalah bahwa John McNaughton tidak akan menunjukkan hantu pada Anda di sini. Tapi ia akan mempermainkan psikologi Anda dengan kenyataan pahit sampai sedikit gory yang membuat rasa ngilu. Di sini, McNaughton tidak ubahnya M. Night Shyamalan yang doyan bermain dengan twist. Masih tetap membuat kaget, walau saya yakin sebagian besar dari Anda sudah terbiasa dengan pembelokan karakter semacam ini. Asal tahu saja, sebelum saya menonton “The Harvest”, saya sempat menonton “The Visit” (2015) yang disebut sebagai ucapan “selamat datang kembali” bagi M. Night Shayamalan. Hasilnya ?—sangat mengecewakan. Kekecewaan tersebut sampai membuat saya enggan untuk menuangkannya dalam tulisan. Tapi sudahlah. Saat ini saya hanya ingin fokus dengan “The Harvest”. 

Ada empat cast utama yang memberikan energi kuat dalam film. Charlie Tahan dan Natasha Calis yang belum terlalu dikenal luas ternyata sanggup memberikan performa yang menawan. Chemistry keduanya kuat untuk menghidupkan masing-masing karakter. Samantha Morton juga mampu mewakili peran seorang ibu yang begitu menyayangi putranya tanpa terasa melewati batasan menjadi terlalu protective. Saya sengaja menyimpan satu nama lagi di bagian akhir. Dia adalah Michael Shannon, banyak dikenal dengan peran-perannya sebagai karakter bad guy. Saya ambil contoh di “Premium Rush” (2012) sebagai oknum polisi korup atau yang paling mudah diingat dalam “Man of Steel” (2013) sebagai General Zod. Di film ini, Shannon membuktikan kelayakannya memerankan karakter-karakter kalem (atau cenderung lemah ?) yang berbeda dari kebanyakan. Jangan salah juga, Shannon juga apik dengan peran serupa sebagai pria kalem dalam “Take Shelter” (2011).  

Naskah yang ditulis oleh Stephen Lancellotti memiliki momen-momen mengejutkan yang tidak tampil bodoh dalam film serupa. Tapi, Lancellotti kurang menjembatani dengan kuat motivasi beberapa karakternya. Alhasil, karakterisasi menjadi lemah dan nampak kurang bernyawa. Pertanyaan-pertanyaan semacam “mengapa ia lebih memilih ini ?” atau “mengapa ia tidak melakukan ini?” akan banyak hadir dalam benak Anda selama menyaksikannya. Itu tidak lain akibat naskah yang masih terasa tipis  dan enggan digali lebih mendalam. Saya mencoba menutup mata dengan banyak kekurangan itu. Sepenuhnya saya terima. Sebab, secara keseluruhan “The Harvest” telah menghibur saya sebagai tontonan yang mengasyikkan.
7 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !