Sabtu, 12 Desember 2015

GETT: THE TRIAL OF VIVIANE AMSALEM [2014]


“Perceraian”, kata ini memang momok bagi pasangan suami istri baik yang pernikahannya telah berusia puluhan tahun maupun yang masih seumur jagung. Bagaimana tidak, karena pada hakikatnya perceraian itu memisahkan dua insan yang jauh sebelumnya telah mengikat janji suci untuk bersama selamanya. Ada beberapa hal yang menjadikannya alasan, bisa berupa kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, ataupun meredupnya rasa cinta. Shlomi dan Ronit Elkabetz, dua bersaudara yang menulis naskah dan menyutradarai “Gett, The Trial of Viviane Amsalem” menceritakan betapa alotnya perceraian hingga memakan waktu 5 tahun, sebab salah satu pihak mencoba dengan keras mempertahankan keutuhannya. Sebab masih mencintai kah ?. Keras kepala kah ?.

Seperti judulnya, film ini bercerita tentang Viviane Amsalem (Ronit Elkabetz) yang menuntut bercerai dari suaminya. Elijah (Simon Abkarian), sang suami, menolak untuk menceraikan wanita yang telah memberikannya 4 anak tersebut dengan alasan masih mencintainya. Beberapa kali Elijah menolak untuk datang dalam persidangan, meskipun akhirnya ia berhasil dibujuk dengan paksaan. Dalam persidangan perceraian itu, Elijah dibantu oleh kakaknya, Shimon (Sasson Gabai). Sedangkan di pihak Viviane, ada pengacara Carmel Ben-Tovim (Menashe Noy) sebagai pembela. Jika Elijah bersikukuh untuk menolak bercerai dengan alasan yang kuat, lantas apa yang melatar belakangi Viviane ?.

“Gett”, saya cukup menuliskannya dengan singkat, berasal dari kata “get” dalam Bahasa Ibrani yang berarti dokumen perceraian yang diatur dalam Agama Yahudi. Dipimpin oleh 3 orang pemuka agama (Rabbi), saya berasumsi bahwa sidang perceraian semacam ini didasarkan dalam aturan-aturan yang ada sesuai dengan sudut pandang agama. Dengan dasar aturan agama, biasanya perceraian harus memiliki dasar yang kuat agar bisa berjalan lancar. Alasan pun harus dijelaskan secara gamblang. Salah satunya adalah bila ada salah satu pihak yang merasa tersakiti sebagai landasan kuat perceraian tersebut. “Gett” sedikit mengingatkan saya pada “A Separation” (2011), perceraian berjalan begitu rumit karena alasan yang terlalu ‘lemah’ untuk dijadikan dasar.

Apa yang terjadi dengan “Gett” juga seperti itu. Perceraian antara Viviane dan Elijah juga terkendala karena salah satu pihak (Elijah) menolak keras. Hakim dari 3 Rabbi bahkan telah menyarankan mereka berdua untuk kembali bersatu. Elijah seorang pria paruh baya yang tidak pernah mengkasari Viviane atau bahkan berselingkuh. Para saksi yang mengenalnya juga mengatakan bahwa Elijah adalah seorang pria yang baik. Tapi, Viviane dengan tegas mengatakan bahwa sudah tidak mencintai Elijah lagi atas bentuk diamnya itu. Perbedaan pendapat itupun membuat sidang perceraian menjadi alot dan harus tertunda berkali-kali sampai menginjak tahun kelima semenjak Viviane menuntut cerai. 

“Gett”, adalah bagian ketiga dari sebuah trilogi yang diawali dari “To Take a Wife” (2004) lalu dilanjutkan “Shiva” (2008). Keduanya juga ditulis dan disutradarai oleh Elkabetz bersaudara. Saya memang belum menonton kedua film tersebut, tapi saya bisa mendeskripsikan singkat bila ketiga film tersebut secara bertahap bercerita tentang pernikahan seorang wanita (Viviane) yang tidak membahagiakan. Ketiga filmnya berhubungan, dimulai dari proses pernikahannya, kehidupan setelah menikah, dan diakhiri dengan perceraian lewat “Gett” ini. 

Saya hanya tidak habis pikir saja ada seseorang yang sebegitu menderitanya akibat pernikahan (tidak bahagia) yang dijalaninya. Pastinya ada banyak sekali di luar sana selain karakter Viviane ini. Hanya bedanya bila apa yang dialami oleh Viviane ini jauh lebih ruwet daripada kasus-kasus perceraian yang marak terjadi. Setidaknya dari sejauh ini yang saya ketahui. Kebanyakan diakibatkan karena masalah kekerasan, ekonomi, atau masih banyak lainnya. Semua permasalahannya jelas. Pernikahan Viviane tampak baik-baik saja, dari pengakuan beberapa karakter yang menjelaskan sedikit flashback. Namun, ‘kenihilan’ yang mungkin saja sebagian besar dianggap masyarakat masih dalam tahap ‘aman’, rupanya memberikan dampak yang besar bagi psikologi seorang Viviane. 

Karakter Viviane yang notabene seorang wanita, pantaslah membuat saya bersimpati. Tapi hal itu tidak lantas juga membuat saya menyalahkan pihak suami. Naskah yang ditulis oleh duo Elkabetz memanglah cerdas berikut sentuhan komedi hitamnya, ia membuat saya terombang-ambing di antara karakter Viviane dan Elijah. Haruskah saya membela Viviane ?.Oh, bisa saja Elijah yang benar. Rupanya, duo Elkabetz tidak menginginkan saya sebagai penonton untuk membela salah satunya. Mungkinkah mereka berdua sama-sama keras kepala ?. Saya juga tidak tahu. Sebab jika diperhatikan dengan baik, khususnya bagi Elijah, tidak ada istilah keras kepala bagi seseorang yang menginginkan pernikahannya tetap utuh. Kalau begitu, apa yang ingin coba disampaikan oleh duo Elkabetz lewat “Gett” ?.

Ini bukan masalah siapa yang benar maupun salah. Ini juga bukan masalah berhasil atau tidaknya Viviane bercerai dari Elijah. Bagian paling utama adalah sebuah proses bagaimana “Gett” memaparkan keputusan dan cinta. Keputusan tepat di saat yang tepat pula. Terus, apa hubungannya dengan ‘cinta’ yang terasa ambigu dengan tema dari court drama ini ?. Tidak, karena pada dasarnya “Gett” juga menyenggol masalah itu. Salah satu teman saya bercerita bahwa pada dasarnya sebuah perceraian lebih disebabkan pada masalah duniawi. Bukan karena saling membenci atau tidak cinta lagi sehingga berpisah. Semua kembali lagi pada besarnya ego yang menutupi cinta itu. Walau bercerai sekalipun, bukan tidak mungkin cinta masih tumbuh di hati mereka.

“Gett” begitu kompleksnya bahkan juga menyentil sidang perceraian di Israel. Viviane mencoba membandingkannya dengan yang ada di Amerika. Bahwa bila di sana seorang suami mangkir hingga sampai dipenjara, maka sidang perceraian dinyatakan selesai dan kedua belah pihak bisa resmi berpisah. Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Viviane, bisa saja perbedaan dari dua negara ini disebabkan pada dasar yang digunakan. Selesai menonton “Gett” pun, saya mencoba bertanya dalam diri. Jika bukan Viviane dan Elijah, mungkinkah 3 hakim itu yang keras kepala dan kolot ?.

9 / 10

3 komentar:

  1. Halo Mas Iza, saya juga sudah nonton film ini. Kudu ekstra sabar karena greget kok ini gak selesai2 bahkan samapai 5 tahun. Dan saya jg baru tahu ternyata film ini trilogi. Di rotten tomatoes, film ini dapat rate 100% loh. Yang saya masih bingung, atas dasar perspektif yg sperti apa ya sampai2 rotten bisa kasih 100%?

    BalasHapus
  2. Halo Mas Iza, saya juga sudah nonton film ini. Kudu ekstra sabar karena greget kok ini gak selesai2 bahkan samapai 5 tahun. Dan saya jg baru tahu ternyata film ini trilogi. Di rotten tomatoes, film ini dapat rate 100% loh. Yang saya masih bingung, atas dasar perspektif yg sperti apa ya sampai2 rotten bisa kasih 100%?

    BalasHapus
  3. saya sudah nonton film ini tapi masih bertanya2 kisah akhirnya. apa sebenarnya syarat yang diminta alisha (suami) agar vivian dapat surat cerai? saya ulangi menonton mungkin ada scene yang terlewat tapi tetap saya tidak menemukan jawabannya. apakah kematian vivian yg diminta? tolong yang tahu di share. terima kasih.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !