Rabu, 16 Desember 2015

VICTORIA [2015]

Tanpa membaca sinopsis, tanpa menonton trailer-nya terlebih dahulu; begitulah apa yang saya lakukan sebagai bentuk persiapan dalam menonton film berjudul “Victoria” ini. Apa yang menguatkan saya untuk menontonnya tidak lain karena rating yang bisa dibilang cukup tinggi. Cukup beralasan. Bukan pertama kalinya saya melakukan hal ini. Kerap kali tanpa clue dan modal lainnya, sebuah film akan saya tonton dengan senang hati. Satu fakta menarik dari film arahan Sebastian Schipper ini adalah dibuatnya film ini dengan teknik one-take. Bukan hal yang baru, tapi tetap bisa meningkatkan nilai tambah dalam film. Tanpa saya sadari, sebenarnya “Victoria” telah menunjukkan jati dirinya dalam tagline di posternya, “One Girl-One City-One Night-One Take”. Saya paling tertarik dengan frase pertamanya.

Selasa, 15 Desember 2015

THE HARVEST [2013]

John McNaughton sudah dikenal lama dengan karya-karyanya di ranah horror dan thriller. Saya mengakui bahwa “The Harvest” adalah film pertamanya yang baru saya tonton. Impresi pertama saya adalah bahwa sutradara yang sudah memiliki imej kuat dengan horrorthriller ini memang patut diakui kecerdikannya dalam meramu materi menjadi sajian yang mengundang ngeri. Tentunya, tidak lupa film terbarunya ini (rilis dua tahun lalu) memberikan hiburan yang menyenangkan. Karena belum pernah sekalipun menikmati film-film McNaughton sebelumnya, jadi bagaimana karakteristik penyutradaraannya masih belum familiar dalam otak saya. Di antara semuanya, ada satu judul yang tidak asing bagi saya, yaitu “Henry : Portrait of a Serial Killer” (1986). Anda sudah pernah menontonnya ?

Senin, 14 Desember 2015

THE LITTLE PRINCE [2015]

“The Little Prince” diangkat dari novella tahun 1943 karya Antoine de Saint-Exupéry. Novella ini bercerita tentang seorang Penerbang yang terjatuh di gurun dan bertemu dengan seorang Pangeran Kecil dari sebuah asteroid. Film animasi dan stop-motion dari Perancis ini memang tidak secara menyeluruh mengadaptasi dari novella tersebut, akan tetapi menjadi bagian kecil dari plot utamanya. Untuk memberikan sentuhan yang berbeda (unik), sang sutradara Mark Osborne memisahkannya menjadi dua bentuk. Animasi komputer untuk plot utama dari film dan stop-motion untuk plot dari bagian adaptasi novella. Sang Penerbang disuarakan oleh Jeff Bridges (termasuk narator), sedangkan Pangeran Kecil oleh Riley Osborne yang juga muncul di bagian plot utama film.  

Sabtu, 12 Desember 2015

GETT: THE TRIAL OF VIVIANE AMSALEM [2014]


“Perceraian”, kata ini memang momok bagi pasangan suami istri baik yang pernikahannya telah berusia puluhan tahun maupun yang masih seumur jagung. Bagaimana tidak, karena pada hakikatnya perceraian itu memisahkan dua insan yang jauh sebelumnya telah mengikat janji suci untuk bersama selamanya. Ada beberapa hal yang menjadikannya alasan, bisa berupa kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, ataupun meredupnya rasa cinta. Shlomi dan Ronit Elkabetz, dua bersaudara yang menulis naskah dan menyutradarai “Gett, The Trial of Viviane Amsalem” menceritakan betapa alotnya perceraian hingga memakan waktu 5 tahun, sebab salah satu pihak mencoba dengan keras mempertahankan keutuhannya. Sebab masih mencintai kah ?. Keras kepala kah ?.

Jumat, 11 Desember 2015

BAJRANGI BHAIJAAN [2015]

Terhitung sejak menulis ulasan ini, saya sudah menonton “Bajrangi Bhaijaan” hingga tiga kali. Bukan tanpa alasan bahwa Bajrangi Bhaijaan” sebagai feel good movie memang mudah menarik perhatian, ceritanya ringan, lucu, dan tidak membosankan. Dengan mengedepankan isu sosial sebagai bahan dalam memperkuat ceritanya, pantas saja bila film yang disutradarai oleh Kabir Khan ini banyak meraih pendapatan luar biasa hingga disebut sebagai film India terlaris kedua setelah “PK” (2014). Ketertarikan pada film ini dimulai pada pertengahan November lalu ketika teman saya sedang menontonnya dalam laptop dan saya pun mengikutinya meski tidak secara keseluruhan. Baru setelah itu saya memutuskan untuk menonton ulang dan menikmati keasyikan dari petualangan bercampur komedinya.

Selasa, 08 Desember 2015

ROSEMARY'S BABY [1968]

“Rosemary’s Baby” adalah contoh film horror yang sukses dalam menggabungkan elemen supernatural kuno dalam balutan seting di era modern. Menggunakan pendekatan psikologi, “Rosemary’s Baby” menakut-nakuti lewat teror alam bawah sadar dan meninggalkan rasa tidak nyaman bagi penonton. Kegelisahan yang dialami oleh karakter utama dapat menular dengan mudah dan penonton pun terjebak dalam situasi yang sama. Ada perasaan yang ‘aneh’ seperti pada beberapa bagian surealis, membuat merinding tapi tidak akan sampai membuat menjerit. Roman Polanski, sang sutradara, meracik film ini dengan penceritaan yang terbilang lambat, namun mencengkeram tanpa perlu ‘meledak-ledak’.

Kamis, 03 Desember 2015

THE ASSASSIN [2015]

“The Assassin” adalah contoh langka bagaimana martial arts dikemas dengan sentuhan film arthouse. Mungkin yang muncul dalam benak adalah bagaimana film-film yang mengedepankan aksi tangan kosong maupun senjata tradisional ini akan dibuat lebih minimalis, mengingat film-film arthouse lebih banyak menggunakan penceritaan dengan tempo yang lambat. Kenyataannya memang Hou Hsiao-Hsien lewat “The Assassin” ini memang banyak meminimalisir adegan-adegan pertarungannya tapi tetap tidak kehilangan bagian keindahannya. Daya tarik terbesarnya adalah bagaimana film martial arts satu ini dibuat lebih terasa unsur seninya dari paduan tata visualnya.