Senin, 27 Juli 2015

CONFESSIONS [2010]


Dalam film bertemakan balas dendam, kebanyakan cara terakhir yang digunakan untuk membalas perlakuan lawan adalah dengan membunuhnya. Sebagian besar penikmat film thriller akan menganggap cara tersebut sudah final dan tidak ada pilihan lain. Singkat, tapi kurang memuaskan. Begitulah kira-kira deskripsi dari saya terhadap kebanyakan film thriller bertemakan balas dendam. Tapi tidak dengan film yang diangkat dari novel tahun 2008 karya Kanae Minato ini. Membunuh dianggap terlalu mudah dan tidak memberikan hukuman berat pada lawan. Lalu dengan cara apa ?. Siksaan psikologis sehingga membuat lawan menderita seumur hidupnya, itulah cara dan premis yang ditawarkan dalam film ini. Serupa dengan karya dari Chanwook Park yang berjudul Oldboy (2003), kejam dan brutal. Tapi tidak mengurangi nilai keindahannya.
  
Di hari yang mendung, seorang guru SMP bernama Yuko Moriguchi (Takako Matsu), membuat banyak pengakuan sebelum kemudian ia mengumumkan pengunduran dirinya. Dari sekian banyak yang ia ungkapkan, satu yang paling utama adalah terkait meninggalnya anak semata wayangnya, Manami (Mana Ashida), karena dibunuh oleh dua siswa dalam kelas tersebut. Hanya dengan memberi inisial siswa A dan B, Bu Moriguchi mengatakan bahwa ia telah memasukkan darah yang terkontaminasi HIV ke dalam susu yang telah diminum oleh dua siswa tersebut. Dengan tujuan agar mereka berdua mengakui kejahatannya dan mulai belajar menghargai kehidupan.

Awalan berisi pengakuan-pengakuan Bu Moriguchi dihadirkan dengan begitu datar, tapi aura mencekam dan mematikan sungguh begitu terasa. Apalagi, ekspresi Bu Moriguchi dalam menceritakan setiap pengakuannya juga begitu tenang dan cenderung dingin. Atmosfir yang gelap dengan sentuhan pengambilan gambar slow motion banyak mewarnai adegan awal, sehingga tidak hanya terasa menegangkan, tapi juga melodramatis. Perkenalan pertama melalui pengakuan Bu Moriguchi disajikan dengan durasi yang cukup panjang, hingga mencapai 30 menit. Tapi sama sekali tidak menciptakan perasaan bosan, melainkan semakin asyik untuk diikuti. Sebab, dari pengakuan yang panjang tersebut maka satu persatu misteri yang terpendam semakin tergali.

Confessions yang berarti “pengakuan”, tidak hanya melibatkan Bu Moriguchi selaku pembalas dendam saja, tetapi juga siswa A dan kekasihnya, serta siswa B dengan ibunya. Sebagai tambahan, ada karakter guru pengganti yang bersifat menengahi permasalahan. Dari karakter yang berjumlah enam orang tersebut, semua memainkan peranannya sendiri dengan begitu kompleks, tanpa ada yang hanya sekedar tempelan semata. Oleh karena itu, latar belakang mereka satu persatu juga dibeberkan dengan sudut pandang berbeda terkait kematian Manami. Perbedaan sudut pandang tersebut rupanya melahirkan karakter-karakter yang terkesan abu-abu. 

Bicara soal pembalasan dendam Bu Moriguchi, memang terasa begitu kejam dan tidak manusiawi. Namun semua setimpal dengan apa yang diderita oleh Bu Moriguchi atas kematian anaknya yang tidak berdosa. Jika mau, mungkin saja Bu Moriguchi dengan cepat akan membalas dendam dengan membunuh dua siswa tersebut. Tapi apa untungnya, sebab nanti Bu Moriguchi juga akan diadili atas perbuatannya. Sedangkan, dua siswa yang telah membunuh putrinya tetap menghirup udara bebas karena dibentengi Undang Undang Perlindungan Anak. Maka tercetuslah ide mencampur darah kontaminasi HIV tersebut. Tapi hukuman tidak berakhir di situ saja, efek berantai berupa hukuman yang lebih sadis dan mengerikan terus muncul untuk menghantui siswa A dan B. 

Dari aspek cerita, jika tujuan akhir balas dendam hanya untuk ‘membunuh’ memang terasa klise, dangkal, dan tentunya mudah tertebak. Sebagai penonton pun, sisi emosional tidak akan bangkit hanya dengan melihat lawan dibunuh begitu mudah, dan semuanya selesai dalam sekejap. Itulah mengapa, Tetsuya Nakashima selaku sutradara yang merangkap penulis naskah, memberikan ‘permainan’ lewat punishment yang cukup rumit, dialog berbobot, serta banyak twist hadir di setiap perbedaan sudut pandang lewat pengakuan para karakternya. Sesekali kita mungkin akan membenci karakternya, tapi kemudian beralih iba, dan kembali lagi membencinya. Cerdas mempermainkan persepsi, begitulah kehebatan Tetsuya Nakashima dalam meramu film ini. 

Satu hal yang bisa saya tarik dalam film ini adalah bercerita mengenai obsesi. Ya, semua karakter dalam film ini memiliki obsesi yang besar dalam hidupnya, seperti Bu Moriguchi yang terobsesi untuk menghukum kedua siswanya. Selain itu, adapula siswa A yang terobsesi diakui akan kejeniusannya dan siswa B yang terobsesi demi mendapat pengakuan dari siswa A. Naasnya, obsesi dari siswa A dan B tersebutlah yang menjadi pemicu tewasnya Manami. Kekasih siswa A, ibu siswa B, dan guru pengganti Bu Moriguchi masing-masingnya juga diberikan jatah dengan ‘obsesi’ tersebut. Kesemua obsesi dari mereka itu tidak sekedar sebagai pelengkap tanpa meaning, sebab dari situlah sumber dari segala chaostic dalam film ini.

Sangat komplit dan padat, itulah yang saya rasakan dalam “Confessions” ini. Tidak hanya mengenai pembalasan dendam lewat cara psikologis saja yang menjadi fokus utama, melainkan juga menyinggung hal-hal lainnya, termasuk obsesi yang saya jelaskan sebelumnya. “Confessions” juga menyerempet isu-isu dalam permasalahan anak remaja di Jepang yang meliputi bullying, kenakalan akibat kurang kasih sayang dari orangtua, hingga kasus bunuh diri masal. Semua disajikan dengan begitu cerdas, rapi, dan tidak lupa meninggalkan unsur menegangkan hingga bagian akhir film. Saya pun turut memberikan confess, bahwa saya sempat ternganga di seperempat akhir film berjalan. Itulah wujud katarsis saya dalam menikmati kepuasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh Bu Moriguchi, setelah berhasil membalaskan dendam.

9 / 10

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !