Sabtu, 25 Juni 2016

THE INVITATION [2015]

Ketika kita menonton film bertemakan craziest night, hal yang perlu menjadi perhatian ada pada temponya. Kebanyakan, film seperti ini memiliki tempo yang lambat. Untuk yang tidak terbiasa, film dengan tempo lambat memang cenderung membuat bosan. Sangat disayangkan jika filmnya tidak berhasil memikat sampai akhir, padahal memiliki eksekusi bagus.

Pembangunan tone di awal memang penting, khususnya dalam memperkuat pemahaman kita pada karakter. Jika harus disajikan dengan pacing lambat, maka si pembuat harus piawai menyiasatinya dengan berbagai cara. Mungkin salah satunya dengan menebarkan banyak clue berujung pada klimaks. Maka paling tidak, otak penonton tetap aktiv demi membangun atensi.

Dari yang saya ketahui, craziest night memang paling dekat dengan thriller atau mystery (bisa juga comedy). Pembangunan setup-nya berjalan perlahan, tapi berujung pada akhir yang menggebrak. Memang film dengan paduan genre seperti ini hampir dipastikan memiliki pola yang sama. Sebagai penonton pun, bagian-bagian vitalnya sudah bisa diantisipasi.

“The Invitation” arahan Karyn Kusama (“Aeon Flux” 2005) dengan tulisan naskah dari Phil Hay dan Matt Manfredi, punya segala hal di atas. Ini adalah film slow building thriller—saya yakin Anda sudah dapat menyadarinya. Tapi saya yakinkan bahwa Anda tidak akan pernah bosan mengikuti alurnya. Bahkan sedari awal.
Kesuksesan Karyn Kusama dalam mengarahkan “The Invitation” terletak pada pengaturan iramanya. Dari menit-menit awal, ia sudah menempatkan clue yang membuat penonton berspekulasi. Hal itu dimulai ketika Will (Logan Marshall-Green) dan istrinya, Kira (Emayatzy Corinealdi), menabrak seekor anjing hutan saat berkendara. Will mendapat undangan reuni dari mantan istrinya, Eden (Tammy Blanchard) yang telah dua tahun tidak ia temui. Sudah ada firasat buruk di sini.

Sesampainya di rumah Eden, teman-teman yang diundang telah menunggu. Salah satu yang ada di sana adalah David (Michiel Huisman), suami baru Eden. Pertemuan di sana memang terasa canggung. Bagaimana tidak, Will harus bertemu lagi dengan mantan istrinya. Dilihat dari beberapa adegan flashback, terlihat keduanya memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan. Namun keduanya berusaha untuk dekat.

Kecanggungan lain yang dirasakan Will adalah adanya orang luar yang turut serta di sana. Termasuk di dalamnya seorang wanita yang ia lihat setengah bugil. Pandangan mata Will tidak pernah berhenti melihat setiap sudut ‘rumah lamanya’ itu. Ia juga memerhatikan setiap detil apa yang dilakukan oleh David. Dan juga, dua orang yang tak dikenalnya itu.

Kecurigaan-kecurigaan Will memang diselimuti banyak tanda tanya. Membuat saya penasaran, apa yang tengah dipikirkannya? Cemburukah ia dengan David? Ataukah ia merasakan keganjilan dalam pesta reuni di malam itu? Pertanyan-pertanyaan ini pasti akan muncul di benak Anda sewaktu menontonnya.
Aura thrilling film ini memang diperkuat dengan banyak tebaran misteri. Juga, skoring dari Theodore Shapiro berhasil meningkatkan degupan jantung. Karyn Kusama memang banyak menempatkan elemen-elemen subtle ke dalam.nya Sehingga, penonton pun merasa dipaksa untuk memahami seluruh karakter sedalam mungkin. Puncaknya ketika karakter kunci di sini membicarakan soal perkumpulan kultus.

Tingkat ketegangan “The Invitation” semakin meningkat tatkala permainan ‘aneh’ yang disebut “I Want...” dimainkan. Sangat khas untuk film-film slasher semacam ini. Saya pikir, Karyn Kusama akan segera mengeliminasi karakter satu persatu dari sini. Ternyata ini hanyalah sekian dari trik yang ia mainkan sebelum menuju akhir yang sesungguhnya.

Bagi saya, “The Invitation” bukanlah mencari siapa dalang dari semua ini. Bukan pula motif apa yang mendasarinya. Namun ini semua soal keyakinan akan sesuatu. Keyakinan terhadap apa yang dirasa benar bahwa ada yang salah di sini. Maka tidak perlu kaget dengan akhirnya. Sebab sedari awal, “The Invitation” memang tidak berusaha membodohi penonton dengan twist konyol. 

Walau punya pakem yang hampir sama dengan film sejenisnya, “The Invitation” tetap mengasyikkan hingga akhir. Saya tetap menunggu dengan sabar apa yang akan terjadi di bagian akhir. Kunci yang membuat film ini begitu menarik adalah pada pengaturan ritmenya yang berjalan stabil.

1 komentar:

  1. "Zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !