Selasa, 12 Januari 2016

MEMORIES OF MURDER [2003]

**FILM SUPER**
Pecinta film crime-mystery-thriller dengan segala tetek bengeknya seperti : investigasi berintelejensi tinggi sampai penemuan korban dengan menyisakan teka-teki; maka “Memories of Murder” adalah rekomendasi yang tepat bagi mereka. Selesai menonton “Memories of Murder”—reaksi yang hampir sama dengan “Guilty” (2015), saya hanya bisa diam terpaku dengan cerita brilian yang ditawarkan. Mengejutkannya—seperti halnya “Guilty”, “Memories of Murder” didasarkan pada insiden nyata yang pernah menggemparkan Korea Selatan. Disebut dengan “The Hwaseong Serial Murders”, pembunuhan berantai itu terjadi di Kota Hwaseong, Propinsi Gyeonggi, Korea Selatan.

Minggu, 10 Januari 2016

SIN CITY [2005]

Didominasi warna hitam putih. Minim pencahayaan. Semua wanitanya tampil menggoda. Cinta yang mematikan. Sebagian besarnya merokok, mengeluarkan asapnya dengan pelan serta penuh kenikmatan. Setingnya malam. Gelap. Ditambah hujan deras. Ada motivasi seksual di baliknya. Semua adalah deskripsi film noir yang begitu melekat pada “Sin City”. Saya menyukai visualnya yang indah. Saya menyukai alurnya yang mungkin telah sering kali diceritakan ulang. Saya menyukai koreografinya. Saya menyukai dialognya yang keren. Saya menyukai seluruh yang ada dalam “Sin City”; kecuali pemerintahan korup yang ada dalam Sin City. Sewaktu menontonnya, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan godaan visualnya yang begitu memesona.

Sabtu, 09 Januari 2016

ABOUT ELLY [2009]

**FILM SUPER**

“About Elly” ditulis dan diarahkan oleh Asghar Farhadi. Namanya mungkin tidak asing bagi Anda. Ya, benar. Dia adalah sutradara dari “A Separation” (2011); drama tentang perceraian yang begitu kompleks. Hingga saat ini, baru dua film Asghar Farhadi inilah yang baru saya tonton. Alhasil, saya tidak bisa untuk melepas akan kaitan keduanya. “About Elly” adalah drama thought-provoking, begitu juga dengan “A Separation”. Keduanya menitikberatkan pada pertanyaan-pertanyaan penuh keambiguan antara “benar” atau “salah” dalam sebuah problematika yang dihadapi. Pastinya tidak di antara kedua jawaban tersebut. “About Elly” memang memiliki komposisi yang sama dengan film berbahasa asing terbaik Oscar itu; walau faktanya telah dibuat dua tahun sebelumnya.

Jumat, 08 Januari 2016

ANONYMOUS [2011]

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat obrolan hangat dengan sahabat yang cukup lama tidak bertemu. Obrolan tersebut tidak jauh berkutat pada dunia sinema; serius tapi juga diselingi dengan tawa. Bukan sepuluh menit atau dua puluh menit saja waktu yang kami habiskan, tapi nyaris tiga jam sampai tenggelamnya sang surya tidak kami sadari. Obrolan serta diskusi melelahkan namun mengasyikkan itu berakhir pada rekomendasi sahabat tentang film berjudul “Anonymous” rilisan tahun 2011. Inti filmnya adalah tentang pembenaran siapa penulis di balik drama-drama terkenal seperti “Hamlet”, “Macbeth”, atau “Romeo & Juliet”. “Bukan Shakespeare penulisnya”, kata dia. “Aku juga pernah nonton film serupa, judulnya Shakespeare in Love”, saya tambahkan. Ia lantas mewajibkan saya untuk menonton film arahan Roland Emmerich yang naskahnya ditulis oleh John Orloff itu.

Kamis, 07 Januari 2016

THE HATEFUL EIGHT [2015]

Melanjutkan spaghetti-western terakhir yang dibuat oleh Quentin Tarantino, “Django Unchained” (2012), kini ia kembali membuat genre yang sama. Memang tidak butuh rentang waktu yang lama ia kembali ke medan perfilman setelah menghadirkan western yang begitu bagusnya. Ini adalah film kedelapan Quentin Tarantino sekaligus mewakili judulnya yang mengandung unsur “delapan”. Setelah menontonnya, Anda juga akan menemukan beberapa kata dalam dialog-dialognya yang menyenggol angka delapan. Kecintaan Tarantino pada film-film western terbukti membawa senyawa itu pada “The Hateful Eight” bahkan di beberapa bagian detil sekali pun. Seperti font di opening yang tampak klasik dan khas western (Anda juga akan menemukannya di “Django”). Robert Richardson, sinematografer  rutin Tarantino khususnya pada tiga film sebelum ini, mengambil gambarnya dengan aspek rasio 2 : 76 : 1; membuatnya tampak begitu lebar seperti dalam western klasik.

Rabu, 06 Januari 2016

PONYO [2008]

Saya yakin sepenuhnya bila anak-anak bakal menyukai film arahan Hayao Miyazaki ini. Kisahnya ringan namun kaya akan fantasi. Sebagai bukti, saya mengajak dua sepupu untuk menonton “Ponyo”. Umur 6 tahun yang tertua, dan 5 tahun yan lebih muda. Keduanya adalah saudara kandung. Bagaimana responnya ?. Keduanya sangat menyukai dan betah berlama-lama menonton “Ponyo”. Tidak ada perasaan bosan atau sekedar pergi walau sejenak. Inilah unsur magical dalam setiap film-film animasi yang diarahkan dan ditulis sendiri oleh Hayao Miyazaki. Unsur magical-nya memberikan gravita tidak hanya bagi penonton anak-anak, tapi juga penonton dewasa seperti saya ini contohnya. Sangat mengesankan sekali.

BĀHUBALI : THE BEGINNING [2015]


“Bāhubali : The Beginning” adalah film kolosal berskala epik dengan banyak sekuen pertarungan serta peperangan di dalamnya. Tingkat epiknya boleh saja disamakan dengan Perang Bharatayuda dalam wiracarita Mahabharata yang terkenal itu. Bahkan ketika menonton “Bāhubali”, saya jadi teringat dengan kisah-kisah menarik yang dituturkan di dalamnya. “Bāhubali” adalah salah satu dari sekian film-film India yang diproduksi dengan bujet yang besar. Seimbang dengan pendapatan yang didapatkan serta ulasan positif yang didapatnya. Dalam beberapa tahun ini memang terbilang jarang saya menemukan film India dengan tingkatan epik. Namun kini ada “Bāhubali” yang bisa dikatakan sebagai pengobat rindu saya pada film-film perang klasik dari India.