Jumat, 08 Januari 2016

ANONYMOUS [2011]

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat obrolan hangat dengan sahabat yang cukup lama tidak bertemu. Obrolan tersebut tidak jauh berkutat pada dunia sinema; serius tapi juga diselingi dengan tawa. Bukan sepuluh menit atau dua puluh menit saja waktu yang kami habiskan, tapi nyaris tiga jam sampai tenggelamnya sang surya tidak kami sadari. Obrolan serta diskusi melelahkan namun mengasyikkan itu berakhir pada rekomendasi sahabat tentang film berjudul “Anonymous” rilisan tahun 2011. Inti filmnya adalah tentang pembenaran siapa penulis di balik drama-drama terkenal seperti “Hamlet”, “Macbeth”, atau “Romeo & Juliet”. “Bukan Shakespeare penulisnya”, kata dia. “Aku juga pernah nonton film serupa, judulnya Shakespeare in Love”, saya tambahkan. Ia lantas mewajibkan saya untuk menonton film arahan Roland Emmerich yang naskahnya ditulis oleh John Orloff itu.

Derek Jacobi, seorang aktor dan sutradara teater mengawali film dengan monolognya. Film kemudian melompat pada awal 1600 era Elizabeth. Ben Jonson (Sebastian Armesto), seorang penulis naskah drama, dipaksa oleh Robert Cecil (Edward Hogg), seorang Earl dari Salisbury, untuk menyerahkan naskah-naskah drama yang diberikan oleh anonymous kepadanya. Siapakah yang dimaksud dengan anonymous ?. Dia adalah Edward de Vere (Rhys Ifans), Earl dari Oxford. Ia penulis naskah drama yang sering banyak orang bilang ditulis oleh William Shakespeare. Di sini, Shakespeare diperankan oleh Rafe Spall; tidak lain seorang aktor teater yang buta huruf. Demi menyembunyikan jati dirinya, de Vere lantas meminta Jonson untuk mementaskan setiap naskah yang ditulisnya. Tidak terduga, Shakespeare justru mengambil untung di balik itu.

Apa alasan kuat sehingga de Vere harus menyembunyikan identitasnya sebagai penulis naskah drama ?. Perlu Anda ketahui sebelumnya bahwa pada era Elizabeth, drama disebut-sebut sebagai perbuatan bid’ah yang sangat ditentang oleh ajaran agama Kristen. Cukup mengejutkannya, Ratu Elizabeth I (di sini diperankan oleh Vanessa Redgrave), justru begitu menyukai drama; khususnya komedi. Karakter wanita pada drama kala itu harus diperankan oleh pria. Para wanita yang bermain dalam drama, dianggap melakukan perbuatan cabul. Anda juga dapat menemukan referensi yang sama pada film “Shakespeare in Love” (1999).

Edward de Vere termasuk keluarga bangsawan, maka sudah sewajarnya bila ia merahasiakan jati dirinya yang sesungguhnya dan menggunakan nama “anonymous”. Bisa Anda bayangkan sendiri bila publik mengetahuinya sebagai orang yang berpengaruh di dunia teater masa itu. Kemudian dari sinilah, naskah tulisan John Orloff mulai menampilkan intrik pada karakter Edward de Vere : (1) Ia harus merelakan bakatnya dalam menulis yang pada akhirnya membuat orang lain (Shakespeare) mendapat banyak pujian (2) Cinta terlarangnya pada Ratu Elizabeth I; walau demikian, inspirasi rangkaian kata-katanya yang bagaikan pedang itu justru lahir dari Sang Ratu. Bagian kedua ini mengingatkan saya pada “Shakespeare in Love”, dimana Shakespeare banyak mendapat inspirasi dari Viola. 

Cukup mengejutkan bagi saya adalah bahwa naskah John Orloff rupanya tidak hanya bicara soal konflik kepemilikan antara de Vere dan Shakespeare saja; tetapi juga politik. Penggulingan ratu, pemberontakan Earl dari Essex, penguasaan Irlandia, hingga pengangkatan Raja James dari Skotlandia; semua ditumpahkan ke dalam film ini. Bicara soal bagian politiknya, sisi kebenarannya memang bisa ditelusuri lebih mendalam lewat buku-buku sejarah. Namun bagaimana soal sengketa antara de Vere dengan Shakespeare ?. Saya tidak yakin soal ini. Dengan kata lain, saya tidak meyakini dengan penuh bahwa apa yang disampaikan dalam film ini murni dari sejarah. Saya anggap saja sosok de Vere sebagai penulis asli dari naskah-naskah yang diakui milik Shakespeare sebagai bagian dari fiksionalisasi semata. Tidak lebih. Tidak perlu keakuratan sejarah pula, sebab saya menikmati film ini seperti film-film pada umumnya. 

Saya sudah tidak peduli lagi apakah benar de Vere memang penulis asli drama-drama terkenal tersebut. Untuk lebih mudahnya, mari kita anggap saja William Shakespeare selaku penulis aslinya. Dari apa yang saya rasakan, “Anonymous” ini sebenarnya mengangkat tema dari kumpulan drama-drama Shakespeare yang kerap kali dipentaskan. Di dalamnya berisikan tragedi, nafsu birahi, iri hati, ambisi, serta politik di dalamnya. Saya ambilkan contoh : cinta terlarang antara Edward de Vere dengan Ratu Elizabeth I, merupakan buah dari pengembangan kisah “Romeo & Juliet” yang sudah banyak kita kenal. Kesimpulan dari contoh ini adalah baik pihak de Vere dan Shakespeare, keduanya seolah memiliki relasi pada satu sumber. Saya punya teori sendiri bahwa mungkin saja de Vere dan Shakespeare adalah ‘korban’ dari fiksionalisasi penulis aslinya. Siapa dia ?. Saya juga tidak tahu.

Roland Emmerich adalah sutradara asal Jerman yang karyanya bisa kita lihat seperti “Independence Day” (1996), “Godzilla” (1998), “The Day After Tomorrow” (2004), “10,000 BC” (2008), “2012” (2009), serta “White House Down” (2013) yang ‘menggelikan’. Ia banyak menghasilkan film-film dengan bujet besar serta CGI yang mewah pula. Coba lihat bagaimana Emmerich sanggup membangun ulang era Elizabeth meski dalam sebuah studio di Jerman. Detil bangunan, lingkungan Kota London yang kumuh serta gelap dapat dihidupkan dengan sangat bagus. Tidak lupa pula, sentuhan CGI juga memberikan peran penuh dalam meningkatkan nilai artistiknya.     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !