Rabu, 06 Januari 2016

PONYO [2008]

Saya yakin sepenuhnya bila anak-anak bakal menyukai film arahan Hayao Miyazaki ini. Kisahnya ringan namun kaya akan fantasi. Sebagai bukti, saya mengajak dua sepupu untuk menonton “Ponyo”. Umur 6 tahun yang tertua, dan 5 tahun yan lebih muda. Keduanya adalah saudara kandung. Bagaimana responnya ?. Keduanya sangat menyukai dan betah berlama-lama menonton “Ponyo”. Tidak ada perasaan bosan atau sekedar pergi walau sejenak. Inilah unsur magical dalam setiap film-film animasi yang diarahkan dan ditulis sendiri oleh Hayao Miyazaki. Unsur magical-nya memberikan gravita tidak hanya bagi penonton anak-anak, tapi juga penonton dewasa seperti saya ini contohnya. Sangat mengesankan sekali.

“Ponyo” bercerita tentang seorang anak laki-laki usia 5 tahun, Sousuke (Hiroki Doi), yang memiliki “teman ajaib”. Siapakah teman ajaibnya ?. Dia bernama asli Brunhilde (Yuria Nara); seperti nama Jerman. Ia berasal dari samudera nan dalam. Ia lepas dari pengawasan ayahnya yang over-protektif, Fujimoto (George Tokoro) dan meninggalkan adik-adiknya menuju daratan. Sesampai di daratan, ia bertemu dengan Sousuke dan mereka saling bersahabat. Sousuke memanggilnya dengan sebutan Ponyo. Tidak ingin anaknya mendapat bahaya di sekitar manusia, Fujimoto lantas membawa kembali Ponyo. Kenekatan Ponyo untuk bisa kembali bertemu Sousuke membuatnya ingin menjadi manusia dan membawa tsunami di daratan.  

Sebelum memanggil dengan sebutan Ponyo, awalnya Sousuke mengiranya sebagai kingyo atau “ikan mas”. Tapi bagi saya, Ponyo atau Brunhilde tidak nampak seperti ikan. Ia memiliki wajah seperti bayi yang imut. Rambutnya merah. Perutnya bulat. Kedua tangannya pendek dan tidak memiliki kaki. Sirip pun tidak ada. Apakah bisa disebut ikan ?. Jika saya dan Anda punya pandangan seperti itu, maka kita tidak memiliki daya imajinasi yang kuat layaknya Sousuke. Itulah hal yang membedakan kita dengan Sousuke. Baginya, Ponyo sudah bukan lagi sekedar ikan atau “makhluk fantasi” lainnya. Melainkan seorang teman. 

“Ponyo” memiliki elemen fantasi yang begitu kuat seperti halnya film-film karya Hayao Miyazaki lainnya. Kekuatan imajinasi adalah pondasi kuat dari setiap filmnya. Dalam “Ponyo” ini, saya membicarakan soal penampakan dari Ponyo itu sendiri. Selain Sousuke, ada ayahnya yang seorang pelaut bernama Kouichi (Kazushige Nagashima), ibunya, Lisa (Tomoko Yamaguchi), serta dua wanita tua yang tinggal di panti jompo tempat Lisa bekerja, Yoshie (Tomoko Naraoka) dan Noriko (Akiko Takeguchi), dapat melihatnya dalam wujud seekor ikan atau gadis yang menggemaskan. Sedangkan bagi Toki (Kazuko Yoshiyuki), teman dari Yoshie dan Noriko, Ponyo mungkin terlihat ‘aneh’. Akibatnya, ia mendapat perlakuan kurang menyenangkan. 

Apa yang terjadi pada Toki adalah contoh bagaimana Hayao Miyazaki mengkritisi orang-orang dewasa yang mulai melupakan keindahan fantasi semasa kecil yang mungkin sudah terlupakan. Saya jadi teringat beberapa waktu lalu ketika menonton “The Little Prince” (2015). Di sana ada kutipan menarik bahwasanya ketika seseorang telah menjadi dewasa, tidak seharusnya ia melupakan indahnya masa kanak-kanak. Masa indah tersebut tetaplah harus dikenang walau betapa sulitnya kehidupan masa dewasa yang harus dipikul. 

Unsur-unsur dalam film Miyazaki sebelumnya seperti “My Neighbor Totoro” (1988) juga banyak diusung kembali dalam “Ponyo”. Ingatkah Anda ketika Satsuki dan Mei yang menceritakan soal Totoro kepada ayahnya ?. Bagaimana pendapat ayahnya ?. Tidak, ayahnya tidak menyangkal pendapat mereka berdua. Justru sebaliknya, ayahnya menghibur dan membenarkan apa yang dilihat oleh Satsuki dan Mei. Dalam kehidupan sehari-hari, memang seperti inilah peran kedua orang tua kepada anaknya. Ketika seorang anak bertanya akan cara pandangnya yang bersifat fantasi, tidak seharusnya orang tua menampiknya. Orang tua seharusnya mampu mengarahkannya agar imajinasi dan daya kreativitas seorang anak berkembang dengan sangat baik.

Perlu Anda ketahui sebelumnya bahwa Ponyo adalah perempuan. Kecemburuannya pada teman perempuan Sousuke adalah bukti awal yang menunjukkannya. Dari sini, “Ponyo” membangkitkan kembali ingatan kita semasa kecil yang penuh akan keluguan yang amat menggemaskan. Mungkin dari Anda semua, termasuk saya juga, pernah merasa memiliki ikatan dengan lawan jenis sewaktu masih kecil. Banyak orang menyebutnya “cinta monyet”. Menonton “Ponyo”, saya mencoba menggali kembali memori lama ketika kepolosan nan lucu tersebut pernah lakukan. Ternyata benar !. “Ponyo” mengingatkan saya akan kenangan indah itu. Konyol, memalukan—terlalu manis untuk dilupakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !