Sabtu, 09 Januari 2016

ABOUT ELLY [2009]

**FILM SUPER**

“About Elly” ditulis dan diarahkan oleh Asghar Farhadi. Namanya mungkin tidak asing bagi Anda. Ya, benar. Dia adalah sutradara dari “A Separation” (2011); drama tentang perceraian yang begitu kompleks. Hingga saat ini, baru dua film Asghar Farhadi inilah yang baru saya tonton. Alhasil, saya tidak bisa untuk melepas akan kaitan keduanya. “About Elly” adalah drama thought-provoking, begitu juga dengan “A Separation”. Keduanya menitikberatkan pada pertanyaan-pertanyaan penuh keambiguan antara “benar” atau “salah” dalam sebuah problematika yang dihadapi. Pastinya tidak di antara kedua jawaban tersebut. “About Elly” memang memiliki komposisi yang sama dengan film berbahasa asing terbaik Oscar itu; walau faktanya telah dibuat dua tahun sebelumnya.

Asghar Farhadi sepertinya memang memiliki ketertarikan dalam menyoroti kehidupan warga kelas menengah di Iran. Di sini, ia memperkenalkan pada kita keluarga bersahabat yang menghabiskan tiga hari berlibur di Laut Kaspia. Sepideh (Golshifteh Farahani) datang bersama suaminya, Amir (Mani Haghigi) dan seorang putrinya. Ialah yang memiliki ide liburan ini. Peyman (Peyman Moaadi) bersama istrinya, Shohreh (Merila Zarei) dan kedua anaknya. Kemudian ada Manouchehr (Ahmad Mehranfar) dan istrinya, Nazzie (Rana Azadivar). Dalam acara itu, Sepideh ingin memperkenalkan guru anaknya, Elly (Taraneh Alidoosti) kepada temannya yang baru saja bercerai, Ahmad (Shahab Hosseini). Sepideh berharap, keduanya bisa saling mengenal dengan baik dan berjodoh.
Sampai di sini, kira-kira di benak Anda akan bertanya-tanya tentang apakah film ini bercerita. Filmnya sendiri memang belum mengungkapkan jati dirinya hingga setengah jam pertama. Saya suka bagaimana cara Asghar Farhadi membangun bagian setup dengan mengalun secara pelan namun menyisakan misteri di balik semuanya. Misteri tersebut muncul pula pada sosok Elly. Ia adalah seorang gadis muda nan cantik, ramah, dan ceria. Sesekali, ia menampakkan ekspresi penuh kekosongan serta ada rahasia yang ia sembunyikan. Pandangan matanya serta bentuk kediamannya adalah sebuah misteri. Meskipun begitu, tidak bisa ditampik bila ia terlihat memiliki ketertarikan dengan Ahmad; begitu pun sebaliknya. 

Konflik memuncak tatkala Elly lenyap seakan ditelan oleh bumi. Sebelumnya, putra dari Peyman yang bernama Arash, ditemukan tenggelam di laut. Meski nyawanya sempat terselamatkan, Elly yang bersamanya saat-saat terakhir telah menghilang. Semua berasumsi bila Elly tewas tenggelam saat berusaha menyelamatkan Arash. Saksi mata dari anak-anak kecil yang lain menimbulkan keraguan. Kemanakah Elly sebenarnya berada ?. Pesan terakhirnya adalah ia ingin pulang sesegera mungkin. Drama keluarga yang di awal penuh keceriaan pun berubah tiba-tiba menjadi misteri. 

Kepergian Elly pada akhirnya menimbulkan berbagai macam asumsi-asumsi. Hingga kemudian, permasalahan semakin memuncak tatkala setiap anggota keluarga mempertanyakan identitas Elly dan kewenangan Sepideh turut serta mengajaknya. Perdebatan-perdebatan siapa yang benar dan salah dalam masalah ini tidak bisa dihindarkan; hal sama yang dapat kita temukan pula dalam “A Separation”. Bila kita coba telaah dengan baik, “About Elly” jelas saja tidak berusaha untuk mencari jawaban soal mana pihak yang benar dan salah di sini. Walau berbalutkan misteri, “About Elly” juga tidak serta merta mencoba memfokuskan diri terkait kebenaran akan keberadaan Elly.

Baik itu “A Separation” maupun “About Elly”, keduanya memiliki ‘kunci’ dari konflik yang ada. Kunci tersebut memiliki peran besar bagaimana satu masalah dapat merembet menjadi masalah-masalah baru yang muncul kemudian. Dari yang saya rasakan, bahwa Asghar Farhadi lewat naskah yang ditulisnya sepertinya berusaha mengangkat besarnya ego manusia. Ketika ego telah menguasai sepenuhnya, maka manusia kemudian mencari pembenaran dan pembelaan akan dirinya. Kebohongan adalah sekian dari contoh ego tersebut.  
 
Saya sangat mengagumi performa jajaran cast-nya yang sangat luar biasa. Sungguh begitu natural, seolah-olah kesemuanya tidak sedang berakting; melainkan layaknya percakapan tanpa naskah. Kekuatan dari sisi aktingnya mampu menarik saya ke dalam rangkaian cerita dan konflik rumitnya. Begitu saya telah masuk ke dalam, timbullah kebimbangan kepada siapa saya harus berdiri membela. Bila saya perhatikan dengan detil, Asghar Farhadi juga mengundang cast yang dapat pula kita jumpai dalam “A Separation”. Sejauh yang saya ingat, di sini ada Peyman Moaadi, Shahab Hosseini, serta Merila Zarei. 

Selain cast yang kesemuanya mempersembahkan performa dengan sangat apik, sinematografi juga patut diapresiasi pula. Sang sinematografer, Hossein Jafarian, dengan begitu dinamis dan berenergi dalam menangkap setiap gambar para karakternya. Detil, mengikuti setiap gerak-geriknya. Menggabungkan antara cerita dan gaya penceritaan yang khas, performa, serta sinematografinya, “About Elly” adalah nyata sebuah mahakarya. Bila diminta untuk memilih, jujur saja saya lebih menyukai “About Elly” dari “A Separation”. Namun hal tersebut bukan berarti membuat film kelima yang disutradarai Farhadi itu bukan merupakan sebuah karya besar. Hanya saja, saya memilih “About Elly” karena tingkat orijinalnya.


3 komentar:

  1. Jadi pengen rewatch film ini lagi.. Love this movie~

    BalasHapus
  2. Saya awam dan baru saya menonton film ini, jengkelnya film ini tidak mampu memuaskan rasa penasaran dan menjawab pertanyaan2 dikepala, gantung. Jadi kesimpulannya.."film paan neh???"

    BalasHapus
  3. Sepertinya semua film Farhadi endingnya menggantung, bikin penonton mati penasaran.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !