Senin, 03 Agustus 2015

DARK WAS THE NIGHT [2015]


Film horror dengan subjek utama American Folklore memang sudah tidak terhitung banyaknya. Baik itu yang digarap dengan hasil memuaskan hingga membosankan sekalipun. Saya akui bahwa film horror semacam ini memang sukses dalam menghidupkan atmosfir yang mencekam, terutama dalam penggunaan setting seperti kota terpencil ditambah bumbu-bumbu berupa mitos setempat. Kalau ‘mencekam’ sudah didapat, akankah semua sudah terpenuhi menjadi sajian yang bagus ?. Memang tidak semuanya. ‘Dark was The Night” mungkin adalah salah satu contohnya.

Sabtu, 01 Agustus 2015

NOSFERATU: A SYMPHONY OF HORROR [1922]

**FILM SUPER**

Di awal bulan Agustus ini, saya sengaja mencari film klasik yang sesuai dengan mood untuk ditonton. Maka, pilihan saya jatuh pada film horror ekspresionis dari Jerman ini. Memang tidak mudah untuk bisa benar-benar menikmati film klasik, apalagi yang masih belum memiliki suara alias silent movie. Seringkali dalam menilai film-film klasik macam ini, saya berusaha untuk memposisikan diri sendiri sebagai orang yang hidup di era film tersebut berjaya. Dengan begitu, besar harapan untuk mendapatkan feel dalam menikmatinya. Sebab, akan banyak sekali beberapa adegan yang mungkin terasa ‘konyol’ untuk dinikmati di era saat ini. Dibandingkan film klasik ‘bersuara’ lainnya, silent movie memang lebih berpotensi membuat bosan di tengah-tengah menontonnya.

Kamis, 30 Juli 2015

PARASYTE: PART I [2014]


“Parasyte : Part I” diadaptasi dari manga berjudul sama karya Hitoshi Iwaaki di tahun 1988 – 1995. Sebagian besar pengulas film Jepang adaptasi tidak pernah lepas dari mengkomparasikannya dengan versi aslinya, baik itu manga ataupun anime. Berhubung saya tidak pernah membaca versi manga ataupun menonton anime-nya, saya ingin mengulasnya hanya sebatas sudut pandang terhadap live-action ini saja. “Parasyte” yang bergenre body horror dan gore ini sangat banyak mengingatkan saya pada “The Thing”, (1982). Bedanya, “Parasyte” banyak menggunakan efek CGI untuk memvisualisasikan wujud parasyte-nya, seperti “The Thing” remake (2011), daripada practical effect pada versi asli. Tapi tetap saja efek disgusting yang dihasilkan begitu terasa, dan adegan berdarah-darahnya juga sangat mengasyikkan untuk ditonton.

Selasa, 28 Juli 2015

RAGING BULL [1980]

**FILM SUPER**
Saya tidak tahu banyak mengenai olahraga yang bernama tinju. Tidak pernah antusias dengan setiap pertandingannya, apalagi mengidolakan salah satu atletnya. Apa yang saya rasakan ini layaknya penolakan dari Martin Scorsese ketika pertama kali dimintai oleh Robert De Niro untuk membuat biopic dari Jake La Motta ini. Diangkat dari memoir berjudul “Raging Bull : My Story” yang ditulis sendiri oleh La Motta, film ini tidak hanya berkisah mengenai perjalanan karirnya saja, melainkan juga carut marut rumah tangganya. Segala aspek luar biasa dari film ini membuat saya begitu terkesan sehingga sejenak melupakan ketidakpahaman saya dengan olahraga adu jotos ini.

Senin, 27 Juli 2015

CONFESSIONS [2010]


Dalam film bertemakan balas dendam, kebanyakan cara terakhir yang digunakan untuk membalas perlakuan lawan adalah dengan membunuhnya. Sebagian besar penikmat film thriller akan menganggap cara tersebut sudah final dan tidak ada pilihan lain. Singkat, tapi kurang memuaskan. Begitulah kira-kira deskripsi dari saya terhadap kebanyakan film thriller bertemakan balas dendam. Tapi tidak dengan film yang diangkat dari novel tahun 2008 karya Kanae Minato ini. Membunuh dianggap terlalu mudah dan tidak memberikan hukuman berat pada lawan. Lalu dengan cara apa ?. Siksaan psikologis sehingga membuat lawan menderita seumur hidupnya, itulah cara dan premis yang ditawarkan dalam film ini. Serupa dengan karya dari Chanwook Park yang berjudul Oldboy (2003), kejam dan brutal. Tapi tidak mengurangi nilai keindahannya.

Sabtu, 25 Juli 2015

ANT-MAN [2015]

Berharap banyak kah untuk menonton superhero yang dapat mengecilkan tubuh ini ?. Jika saya mendapatkan pertanyaan tersebut, dengan tegas saya jawab “tidak”. Walaupun ekspektasi awal tidaklah besar, bukan berarti Ant-Man tidak layak tonton. Sebagai hiburan berupa popcorn movie, boleh saja. Bagi yang sering mengikuti Marvel Cinematic Universe, mungkin sosok Ant-Man dengan alter ego bernama Scott Lang ini masih sangat asing sekali. Padahal jika berdasar pada komik, bisa dibilang bahwa Ant-Man merupakan salah satu former dari The Avengers, bersama sang side-kick, The Wasp. Maka tidak heran bila pengembangan dari Ant-Man sendiri sudah dimulai sejak tahun 2006. Sayangnya, si manusia semut yang naskah awalnya ditulis oleh Edgar Wright dan Joe Cornish ini justru berakhir kurang ‘menggigit’. Berbanding terbalik dengan basic dari semut yang memang suka menggigit.

Kamis, 16 Juli 2015

WE ARE STILL HERE [2015]

Jangan berpikir bahwa ini adalah film drama family murni. Memang, elemen ‘keluarga’ ada dalam film ini, bahkan itulah yang coba ditekankan. Sang sutradara, Ted Geoghegan, mengaku terinspirasi oleh Lucio Fulci yang dijuluki sebagai The Godfather of Gore. Dari situ, tentunya Anda sudah bisa menebak apa genre dari film ini. Ya, benar sekali, gory horror. Film ini cukup memberikan efek seram dan kaget pada saya, ditambah penggunaan gaya old-school khas era 70-an, membuat nuansa lebih terasa suram. Apa yang membuat saya begitu mengapresiasi Geoghegan dalam film adalah terletak pada kehebatannya dalam membangun aura yang mencekam, sekalipun menggunakan setting yang tidak lazim.