Kamis, 30 Juli 2015

PARASYTE: PART I [2014]


“Parasyte : Part I” diadaptasi dari manga berjudul sama karya Hitoshi Iwaaki di tahun 1988 – 1995. Sebagian besar pengulas film Jepang adaptasi tidak pernah lepas dari mengkomparasikannya dengan versi aslinya, baik itu manga ataupun anime. Berhubung saya tidak pernah membaca versi manga ataupun menonton anime-nya, saya ingin mengulasnya hanya sebatas sudut pandang terhadap live-action ini saja. “Parasyte” yang bergenre body horror dan gore ini sangat banyak mengingatkan saya pada “The Thing”, (1982). Bedanya, “Parasyte” banyak menggunakan efek CGI untuk memvisualisasikan wujud parasyte-nya, seperti “The Thing” remake (2011), daripada practical effect pada versi asli. Tapi tetap saja efek disgusting yang dihasilkan begitu terasa, dan adegan berdarah-darahnya juga sangat mengasyikkan untuk ditonton.

Suatu malam, parasyte alien berbentuk seperti cacing menyerang para manusia yang sedang tidur terlelap. Para parasyte alien itu memasuki tubuh manusia lewat telinga, lalu kemudian mengendalikan otaknya untuk menguasai seluruh tubuhnya. Seorang siswa SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) adalah salah satu korbannya. Beruntung, karena memakai headphone, parasyte alien tersebut tidak dapat memasuki tubuhnya. Tapi kemudian tangan kanannya berhasil dikendalikan oleh parasyte yang bernama “Migi” (berarti “kanan”) tersebut.

Adegan pembukaannya sungguh sangat seru dan memancing untuk terus diikuti. Penggunaan CGI-nya juga dapat dimaksimalkan dengan bagus dan memuaskan. Tanpa basa-basi seperti film-film body horror barat, kita langsung diperkenalkan dengan wujud manusia yang sudah terkontaminasi parasyte alien ini. Bagi penyuka body horror seperti ini, siapa yang tidak suka melihat monster memangsa kepala manusia dengan sekali telan ?. Begitu mengasyikkannya, sehingga perasaan ‘risih’ maupun ‘jijik’ tidak terlalu banyak berarti. Tapi “Parasyte” ini masih tahu batasan-batasan untuk tidak menampilkan terlalu eksplisit proses parasyte ketika memakan tubuh manusia yang sudah terkoyak-koyak.  

Manusia yang terserang parasyte alien ini memiliki perubahan bentuk hanya sebatas bagian kepalanya saja, berbeda dengan parasyte alien dalam “The Thing” yang berubah sampai struktur tubuhnya. Perbedaan tersebut bukanlah masalah, karena parasyte alien ala Takashi Yamazaki ini punya nilai plus berupa intelegence yang tinggi, hingga kemampuan untuk bertarung dengan menggunakan senjata bawaannya. Cara bertarungnya memang tergolong sederhana. Hanya lewat sabetan-sabetan dari bagian tubuhnya yang berujung tajam, namun nampak seru dan sadis.

Dibandingkan parasyte alien lainnya yang berwujud ‘sangar’, fail parasyte bernama Migi yang menempel pada tangan Shinichi justru membuat saya ‘geli’. Dengan satu mata dan mulut yang besar, Migi terlihat paling berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan kegagalannya dalam menguasai otak Shinichi. Dengan begitu Shinichi tidak sepenuhnya dikendalikan, tapi Migi tetap terhubung dengan syaraf milik Shinichi. Hal tersebut menjadikan masuk akal pula jika para parasyte ini mampu berkomunikasi dengan bahasa yang dikuasai lewat tubuh korbannya. Berbeda dengan alien di film-film pada umumnya yang tiba-tiba bisa ‘berbahasa manusia’ tanpa kita ketahui kapan dan darimana mereka belajar. 

Dari voice over-nya sudah terlihat bahwa Shinichi dan Migi akan terjalin keakraban satu sama lainnya. Apalagi, “Parasyte” sempat menyinggung soal nakama atau “teman”, mengisyaratkan bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Terbukti, mereka berdua bahkan saling bahu membahu dalam mengalahkan para parasyte alien yang jahat. Tekad kuat Shinichi untuk membasmi para parasyte alien tersebut tentunya bukan tanpa sebab. Untuk menciptakan karakter Shinichi seperti itu, maka diperlukan kehadiran karakter lain yang ‘intim’ dengannya, lalu timpakan dengan kematian atau hal buruk lainnya sebagai stimulus. Hasilnya, Shinichi yang bertransformasi dari remaja SMA ceria menuju pribadi yang gloomy pun terlahir. Act kedua atau confrontation ini sebenarnya cenderung lebih mudah ditebak. Perubahan-perubahan karakter seperti ini memang cukup jamak ditemui dalam serial-serial anime

Beberapa hal konyol sempat muncul di sepanjang film, salah satunya adalah parasyte bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) yang membicarakan rencana mengerikannya justru di tempat ramai. Padahal, Ryoko sendiri memiliki markas rahasia bersama parasyte lainnya. Mengapa hal yang begitu rahasia tersebut justru diumbar di tempat umum ?. Ah, sudahlah. Kekonyolan seperti ini cukup saya maklumi karena kesan anime-nya masih dapat dirasakan dengan kuat. Kekonyolan yang bersifat minor itu sudah tertutupi oleh kekuatan dari film ini sendiri. Aspek drama-nya juga dibangun cukup kuat, bahkan terasa gelap dan menyayat hati. Cerita semakin dalam dan berat ketika parasyte ini mencoba mencari tahu keeksistensian mereka sendiri. Tentunya, jawaban belum tersedia pada first sequence ini. Sebagai penonton, mungkin kita sudah mampu menerka-nerka sendiri jawaban apa yang coba dicari oleh para parasyte selama ini.   

Pasangan paling aneh, itulah Shinichi dengan Migi. Pada mulanya saya berfikir bahwa film ini akan membawa unsur komedi yang banyak. Begitu mengikutinya dengan duduk anteng, pemikiran saya sedikit demi sedikit mulai berubah. Minim komedi tapi banyak ‘potongan tubuh’ manusia, begitulah mungkin deskripsi singkat pada film ini. Sekalipun komedinya sangat sedikit sekali, tapi saya sangat menikmati adegan gore yang dihadirkan. Cincangan tubuh manusia lengkap dengan banjir darahnya cukup memuaskan saya sebagai penikmat horror jenis ini. Sudah tidak sabar bagi saya untuk menantikan kelanjutannya, dengan harapan besar berupa porsi adegan sadisnya lebih diperbanyak.

7 / 10

1 komentar:

  1. baru nonton di tahun 2016 tanggal 26-10...heheh ternyata menarik di ikuti sampai part 2

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !