Sabtu, 01 Agustus 2015

NOSFERATU: A SYMPHONY OF HORROR [1922]

**FILM SUPER**

Di awal bulan Agustus ini, saya sengaja mencari film klasik yang sesuai dengan mood untuk ditonton. Maka, pilihan saya jatuh pada film horror ekspresionis dari Jerman ini. Memang tidak mudah untuk bisa benar-benar menikmati film klasik, apalagi yang masih belum memiliki suara alias silent movie. Seringkali dalam menilai film-film klasik macam ini, saya berusaha untuk memposisikan diri sendiri sebagai orang yang hidup di era film tersebut berjaya. Dengan begitu, besar harapan untuk mendapatkan feel dalam menikmatinya. Sebab, akan banyak sekali beberapa adegan yang mungkin terasa ‘konyol’ untuk dinikmati di era saat ini. Dibandingkan film klasik ‘bersuara’ lainnya, silent movie memang lebih berpotensi membuat bosan di tengah-tengah menontonnya.

Nosferatu terdiri dari 5 act atau chapter. Pada act pertama berkisah tentang seorang pemuda yang tinggal di kota Wisborg bernama Tom Hutter (Gustav von Wangenheim). Ia tinggal dengan bahagianya bersama sang istri, Ellen (Greta Schröder). Suatu ketika majikannya, Knock (Alexander Granach) memintanya untuk pergi ke Transylvania dalam rangka menemui kliennya, Count Orlok (Max Shreck). Perjalanan menuju kastil milik Count Orlok dilaluinya dengan penuh rintangan, seperti adanya Werewolf yang selalu mengintai di balik hutan.

“Nosferatu” adalah adaptasi ‘tidak resmi’ dari novel karya Bram Stoker yang berjudul “Dracula” tahun 1897. Karena tidak mendapatkan right dari penulisnya, semua nama karakternya sengaja diubah, seperti Count Dracula menjadi Count Orlok. 

Dari segi appearance-nya, sosok Count Orlok atau Dracula ini cukup mengagetkan karena perbedaan bentuk dengan sosok Dracula yang selama ini saya ketahui. Orlok atau Dracula dalam film ini digambarkan berkepala plontos tanpa memakai jubah panjang yang selalu menjadi ciri khasnya. Taring panjang yang merupakan senjata wajibnya pun juga ditanggalkan di versi film ini. Tapi jangan salah, penampilannya tetap ‘sangar’, apalagi akting dari Max Shreck ini begitu meyakinkan dalam menghidupkan karakter Count Orlok ini, meskipun tanpa harus menggunakan dialog. Akting menawan para cast dalam film ini lebih banyak menggunakan ekspresi wajah sebagai pengganti dialog. Wujud seram dari Count Orlok hingga Tom Hutter yang periang, semua bisa hidup lewat akting berupa ‘ekspresi’ tersebut. Maka tidak salah bila film ini disebut dengan aliran expressionism. Jika Itali memiliki golden age perfilman dengan neorealism­-nya, maka Jerman memiliki expressionism ini.

Meski pengambilan gambarnya yang masih sangat sederhana, unsur mencekam dapat dibangun dengan begitu baik oleh sang sutradara, F.W. Murnau. Efek tambahan berupa skoring dari Hans Erdmann juga mampu menghidupkan atmosfir yang cukup creepy. Teknik-teknik canggih masa itu seperti montase dan stop motion sering digunakan pada saat momen-momen yang menampilkan unsur supernatural seperti tubuh Count Orlok yang tiba-tiba fading atau ketika peti mati bergerak sendiri. Keterbatasan berupa pengambilan gambar dalam format hitam putih berhasil disiasati dengan sangat baik menggunakan filter warna yang berbeda. Seperti warna kuning untuk menampilkan suasana terang atau di siang hari, dan warna biru cerah untuk setting malam hari. Penggunaan filter warna tersebut memang sangat berguna sekali sebagai navigator dalam membantu penonton untuk memahami situasi yang sedang digunakan dalam film. Karena seperti yang saya lihat, semua pengambilan gambarnya dilakukan pada siang hari. 

Mencekam dan menakutkan, itulah “Nosferatu”. Tata riasnya, musik, hingga set lokasinya mampu dengan baik melakukannya. Tapi “Nosferatu” bukanlah tipikal film yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti penontonnya layaknya film horror yang lahir kemudian. Seperti halnya Santa Sangre (1989) yang pernah saya ulas sebelumnya, “Nosferatu” adalah film avant-garde atau art movie. Mulai dari pengarahannya hingga naskahnya dibuat dengan nilai seni yang begitu tinggi. Anda tidak akan menemukan adegan dimana orang ditakut-takuti melalui jump scare atau semacamnya. Memang sempat ada adegan yang menampilkan demonic possession, tapi tidak lantas dihadirkan dengan berlebihan hingga mencakar-cakar orang di sampingnya atau merayap di dinding. Melainkan lewat koreografi yang begitu indah, adegan ‘kesurupan’ tersebut menjadi sebuah sajian yang tidak hanya artistik, tapi juga memunculkan nuansa yang saya sebut dengan dark romantic.   

Hal menarik yang coba saya amati lebih dalam mengenai kisah Count Orlok ini adalah diselipkannya fenomena besar / mimpi buruk yang pernah melanda daratan Eropa. Saya berinterpretasi bahwa Count Orlok atau Dracula adalah manifestasi dari “The Black Death”. Tahukah Anda apa itu ?. Ya, sebuah epidemic yang pernah melanda Eropa pada tahun 1346 - 1353 hingga menewaskan korban sebanyak 200 juta manusia. Alasan kuat saya untuk menginterpretasikan ke arah tersebut karena ada salah satu adegan yang menampilkan kedatangan Count Orlok ke Wisborg dengan kapal, dan di dalamnya ia bersembunyi dalam peti mati yang penuh tikus. Dahulu orang Eropa banyak menduga bahwa “The Black Death” disebabkan oleh penyakit pest lewat perantara tikus yang terbawa lewat kapal dari Asia. Seiring berjalannya waktu, penelitian baru telah menemukan penyebab utama “The Black Death” bukanlah melalui tikus. Apapun bentuk penerjemahan dari Count Orlok, dia memanglah sosok dari ‘teror’ yang sesungguhnya. Bayangan-bayangan dari Count Orlok yang ikonik pun siap menghantui siapapun di kegelapan malam.    
   
“Nosferatu” adalah salah satu masterpiece bertajuk horror yang bagi sebagian besar penonton millennium ini dianggap jauh dari kata creepy, frightening, atau apapun itu. Tapi apa yang saya rasakan, “Nosferatu” merupakan karya seni indah berwujudkan ‘mimpi buruk’. Sebuah ‘mimpi buruk’ yang tidak hanya dirasakan oleh Tom Hutter dan seluruh warga Wisborg, tapi bagi mereka yang tahu nilai seninya.

9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !