Sabtu, 25 Juli 2015

ANT-MAN [2015]

Berharap banyak kah untuk menonton superhero yang dapat mengecilkan tubuh ini ?. Jika saya mendapatkan pertanyaan tersebut, dengan tegas saya jawab “tidak”. Walaupun ekspektasi awal tidaklah besar, bukan berarti Ant-Man tidak layak tonton. Sebagai hiburan berupa popcorn movie, boleh saja. Bagi yang sering mengikuti Marvel Cinematic Universe, mungkin sosok Ant-Man dengan alter ego bernama Scott Lang ini masih sangat asing sekali. Padahal jika berdasar pada komik, bisa dibilang bahwa Ant-Man merupakan salah satu former dari The Avengers, bersama sang side-kick, The Wasp. Maka tidak heran bila pengembangan dari Ant-Man sendiri sudah dimulai sejak tahun 2006. Sayangnya, si manusia semut yang naskah awalnya ditulis oleh Edgar Wright dan Joe Cornish ini justru berakhir kurang ‘menggigit’. Berbanding terbalik dengan basic dari semut yang memang suka menggigit.

Cerita diawali dengan setting tahun 1989, ketika seorang scientist bernama Hank Pym (Michael Douglas) menyatakan keluar dari S.H.I.E.L.D., setelah menyadari bahwa penemuannya, Pym’ Particles, akan mereka buat replika. Mengetahui bahwa penemuannya sangat berbahaya, ia bersumpah untuk menyembunyikannya. Ancaman juga datang dari mantan anak didiknya, Darren Cross (Corey Stoll) yang telah berhasil mengembangkan shrinking suit, Yellowjacket. Narasi kemudian berpindah pada Scott Lang (Paul Rudd), seorang mantan narapidana yang kini telah ditinggal oleh istrinya, dan juga harus jauh dari anaknya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Demi uang, Scott menerima ajakan mencuri dari teman-temannya yang juga maling kambuhan. Bukan uang yang didapat, Scott malah mendapatkan shrinking suit dan menjadikan sang pemilik sebagai mentornya.

Konflik yang menimpa main character seperti deskripsi saya di atas merupakan sesuatu yang klise. Semua juga menyadari hal itu. Sialnya, latar belakang yang klise tersebut justru berada pada bagian setup. Akibatnya tidak lain adalah dengan cepatnya mengendorkan atensi penonton di awal film berjalan. Penonton pun serasa ingin segera melewati scene by scene yang memperlihatkan carut marutnya kehidupan Scott Lang bersama mantan isteri dan terpisah dengan sang anak. Lantas kemudian, apalagi yang ditunggu oleh penonton jika bukan proses transformasi dari seorang Scott Lang menuju Ant-Man ?. Pada tahapan ini, sang sutradara Peyton Reed memperkenalkan sosok Ant-Man pada kita melalui sebuah adegan heist dari Scott bersama ketiga temannya yang konyol. Sungguh disayangkan, proses ‘perkenalan’ tersebut begitu predictable dan kembali berpotensi menurunkan atensi. Rupanya, Peyton Reed kurang mampu menghadirkan pembukaan yang membuat penonton duduk anteng. Ya, saya sempat facepalm di bagian ini.

Tebakan saya ternyata tepat, Ant-Man memang tidak memiliki sesuatu yang ‘besar’ untuk dipamerkan. Bahkan cenderung ‘kecil’, sekecil perubahan tubuhnya yang merupakan ability-nya. Installment kedua belas dari Marvel Cinematic Universe ini terasa paling ‘aman’ jika dibandingkan dengan para pendahulunya. Silakan lihat Iron Man (2008) yang begitu impressive dan powerful, meskipun tidak bisa dipungkiri menurun di sekuelnya. Atau mungkin Captain America : The First Avenger (2011) yang penuh dengan action sequence dan justru meningkat di bagian sekuelnya. Apapun itu, setidaknya untuk film solo pertama, wajar saja jika penonton menuntut lebih dan lebih. Itulah yang tidak dimiliki oleh Ant-Man ini. Paul Rudd yang komikal dan slengekan, mungkin cocok memerankan Scott Lang. Tapi itu tidaklah cukup untuk membangun karakter yang lovable. Adanya malah karakter yang jamak ditemui di film-film drama family. Tony Stark, Steve Rogers, hingga Peter Quill, semua punya karakterisasi kuat yang tentunya berimbas pula bagi penonton untuk menyukai filmnya. 

Untung saja, Paul Rudd yang juga seorang komedian ini mampu memberikan sumbangan besar lewat naskah yang juga ia tulis bersama Adam McKay, sejak hengkangnya Wright dan Cornish. Untuk aspek komedi, “Ant-Man” cukup berhasil memancing tawa penonton lewat lelucon slaptick dan menyinggung beberapa film. Lelucon yang ringan, tapi menyegarkan. Paul Rudd juga tidak sendiri, ada Michael Peña yang memegang kunci kekocakan dengan karakter yang tidak disangka punya peranan besar di sini. Michael Douglas yang sepintas terlihat memerankan karakter Hank Pym yang super serius, berhasil mengejutkan saya lewat momen-momen lucu hasil pancingan dari Paul Rudd. Evangeline Lilly yang berperan sebagai puteri dari Hank Pym, memang belum memberikan gertakan berarti di film ini. Tapi waspadalah, kejutan besar akan menanti di bagian akhir. Apakah Ant-Man akan berlanjut ke Infinity War ?, besar kemungkinan memang. Dibanding The Guardian of The Galaxy (2014), clue untuk mengarah ke sana sudah banyak tersebar sepanjang film ini. Apalagi kemunculan “manusia alap-alap” yang sempat berduel dengan Ant-Man, semakin meyakinkan hal tersebut.

Seru dan mengasyikkan, itulah Ant-Man. Tapi apakah mengagumkan ?. Saya rasa, kata tersebut masih terlalu jauh untuk disematkan pada film ini. Petualangan dengan ukuran tubuh yang kecil memang seru, tapi bukanlah hal yang baru dalam film. Kekurangan tersebut rupanya berhasil tertutupi oleh action sequence yang cukup fantastis, lewat pengambilan gambar yang cepat dan dinamis. Sejalan dengan Spider-Man yang tangkas, Ant-Man juga ditampilkan begitu gesitnya dengan permainan perubahan tubuh dari besar-kecil-besar-kecil-besar yang sempat membuat mata tidak berkedip. Pertarungan lewat pertarungan dengan view dari alam realita (ukuran tubuh normal) dan liliput, tidak mampu ditolak pesonanya. Sebab, dari situ pulalah unsur lucunya terselip. Pertarungan di rel kereta api Thomas....best scene bagi saya. Kostum ala pengendara motor era dystopia yang cukup garang ini....terbaik setelah Iron Man.        

Jauh dari sempurna, Ant-Man masih tetaplah sajian yang menghibur. Lemah di bagian awal memang, tapi cukup apik dieksekusi. Bicara soal karakter, tidak ada yang benar-benar menarik sebenarnya. Tapi beruntung, unsur komedi dengan porsi yang cukup banyak, berhasil menyelamatkannya dari kedangkalan eksplorasi para karakternya. Tidak sampai membuat senyum puas, namun tentu saja kemampuan unik Ant-Man sangat dinantikan untuk kolaborasinya dengan para superhero Marvel lainnya.
6,5 / 10

4 komentar:

  1. Aku kok lebih suka Ant-Man daripada Captain America yang pertama ya mas. Mungkin karena Ant-Man memang lebih fokus ke arah drama keluarga dengan sentuhan komedi, jadi kalopun terdengar klise bukan masalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malahan dibanding Age of Ultron masih lebih milih Ant-Man haha. Film paling aneh dari Marvel (ngalahin anehnya GotG)

      Hapus
    2. wow, kalo aku malah ngerasa GotG yg paling aneh di MCU. Pemilihan range berupa semesta jauh dgn karakter2 aneh warna-warni membuat ku rada mengernyitkan dahi awalnya. Tapi akhirnya filmnya memuaskan. Alasan lain mungkin karena asing saja dengan superhero GotG.
      Sedangkan kalo Ant-Man udah 'kenal' cukup lama lewat seriap kartun.

      Hapus
  2. Terima kasih komentarnya mbak Niken.

    Emm, rupanya saya malah ada masalah dengan drama keluarganya . hehehehe. Tapi bukan berarti saya tidak suka drama keluarga lo. Justru saya merasa tidak pas saja jika jatahnya terlalu banyak di Ant-Man.
    Kalo soal komedi, memang Ant-Man juara dah. Tapi, saya merasanya kok tidak terlalu padat gitu, mulai dari pemanfaatan action sequencenya misalnya. Paruh pertama itulah yg cukup melelahkan bagi saya.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !