Didominasi
warna hitam putih. Minim pencahayaan. Semua wanitanya tampil menggoda. Cinta
yang mematikan. Sebagian besarnya merokok, mengeluarkan asapnya dengan pelan
serta penuh kenikmatan. Setingnya malam. Gelap. Ditambah hujan deras. Ada
motivasi seksual di baliknya. Semua adalah deskripsi film noir yang begitu
melekat pada “Sin City”. Saya menyukai visualnya yang indah. Saya menyukai
alurnya yang mungkin telah sering kali diceritakan ulang. Saya menyukai
koreografinya. Saya menyukai dialognya yang keren. Saya menyukai seluruh yang
ada dalam “Sin City”; kecuali pemerintahan korup yang ada dalam Sin City. Sewaktu
menontonnya, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan godaan visualnya yang
begitu memesona.
Minggu, 10 Januari 2016
Sabtu, 09 Januari 2016
ABOUT ELLY [2009]
“About
Elly” ditulis dan diarahkan oleh Asghar Farhadi. Namanya mungkin tidak asing
bagi Anda. Ya, benar. Dia adalah sutradara dari “A Separation” (2011); drama
tentang perceraian yang begitu kompleks. Hingga saat ini, baru dua film Asghar
Farhadi inilah yang baru saya tonton. Alhasil, saya tidak bisa untuk melepas
akan kaitan keduanya. “About Elly” adalah drama thought-provoking, begitu juga dengan “A Separation”. Keduanya
menitikberatkan pada pertanyaan-pertanyaan penuh keambiguan antara “benar” atau
“salah” dalam sebuah problematika yang dihadapi. Pastinya tidak di antara kedua
jawaban tersebut. “About Elly” memang memiliki komposisi yang sama dengan film
berbahasa asing terbaik Oscar itu; walau faktanya telah dibuat dua tahun
sebelumnya.
Jumat, 08 Januari 2016
ANONYMOUS [2011]
Beberapa waktu yang lalu, saya
terlibat obrolan hangat dengan sahabat yang cukup lama tidak bertemu. Obrolan
tersebut tidak jauh berkutat pada dunia sinema; serius tapi juga diselingi
dengan tawa. Bukan sepuluh menit atau dua puluh menit saja waktu yang kami
habiskan, tapi nyaris tiga jam sampai tenggelamnya sang surya tidak kami
sadari. Obrolan serta diskusi melelahkan namun mengasyikkan itu berakhir pada
rekomendasi sahabat tentang film berjudul “Anonymous” rilisan tahun 2011. Inti
filmnya adalah tentang pembenaran siapa penulis di balik drama-drama terkenal
seperti “Hamlet”, “Macbeth”, atau “Romeo & Juliet”. “Bukan Shakespeare
penulisnya”, kata dia. “Aku juga pernah nonton film serupa, judulnya
Shakespeare in Love”, saya tambahkan. Ia lantas mewajibkan saya untuk menonton
film arahan Roland Emmerich yang naskahnya ditulis oleh John Orloff itu.
Kamis, 07 Januari 2016
THE HATEFUL EIGHT [2015]
Melanjutkan spaghetti-western terakhir yang dibuat oleh Quentin Tarantino,
“Django Unchained” (2012), kini ia kembali membuat genre yang sama. Memang tidak butuh rentang waktu yang lama ia
kembali ke medan perfilman setelah menghadirkan western yang begitu bagusnya. Ini adalah film kedelapan Quentin
Tarantino sekaligus mewakili judulnya yang mengandung unsur “delapan”. Setelah
menontonnya, Anda juga akan menemukan beberapa kata dalam dialog-dialognya yang
menyenggol angka delapan. Kecintaan Tarantino pada film-film western terbukti membawa senyawa itu
pada “The Hateful Eight” bahkan di beberapa bagian detil sekali pun. Seperti font di opening yang tampak klasik dan khas western (Anda juga akan menemukannya di “Django”). Robert
Richardson, sinematografer rutin
Tarantino khususnya pada tiga film sebelum ini, mengambil gambarnya dengan
aspek rasio 2 : 76 : 1; membuatnya tampak begitu lebar seperti dalam western klasik.
Rabu, 06 Januari 2016
PONYO [2008]
Saya
yakin sepenuhnya bila anak-anak bakal menyukai film arahan Hayao Miyazaki ini.
Kisahnya ringan namun kaya akan fantasi. Sebagai bukti, saya mengajak dua
sepupu untuk menonton “Ponyo”. Umur 6 tahun yang tertua, dan 5 tahun yan lebih
muda. Keduanya adalah saudara kandung. Bagaimana responnya ?. Keduanya sangat
menyukai dan betah berlama-lama menonton “Ponyo”. Tidak ada perasaan bosan atau
sekedar pergi walau sejenak. Inilah unsur magical
dalam setiap film-film animasi yang diarahkan dan ditulis sendiri oleh Hayao
Miyazaki. Unsur magical-nya
memberikan gravita tidak hanya bagi penonton anak-anak, tapi juga penonton
dewasa seperti saya ini contohnya. Sangat mengesankan sekali.
BĀHUBALI : THE BEGINNING [2015]
“Bāhubali
: The Beginning” adalah film kolosal berskala epik dengan banyak sekuen
pertarungan serta peperangan di dalamnya. Tingkat epiknya boleh saja disamakan
dengan Perang Bharatayuda dalam wiracarita Mahabharata yang terkenal itu.
Bahkan ketika menonton “Bāhubali”, saya jadi teringat dengan kisah-kisah menarik
yang dituturkan di dalamnya. “Bāhubali” adalah salah satu dari sekian
film-film India yang diproduksi dengan bujet yang besar. Seimbang dengan pendapatan
yang didapatkan serta ulasan positif yang didapatnya. Dalam beberapa tahun ini
memang terbilang jarang saya menemukan film India dengan tingkatan epik. Namun
kini ada “Bāhubali”
yang bisa dikatakan sebagai pengobat rindu saya pada film-film perang klasik
dari India.
Selasa, 05 Januari 2016
GUILTY [2015]
Selesai
menonton “Guilty”, saya hanya bisa berbaring sembari menarik nafas dalam-dalam
dan mengeluarkannya pelan-pelan. Sesegera mungkin saya mengambil ponsel serta
mencari tahu kebenaran di balik “Noida Double Murder Case” yang menjadi dasar
dari ceritanya. Sudah lama saya tidak menonton film hingga memberikan efek yang
begitu besar pada saya. Kini saya menemukan “Guilty” arahan Meghna Gulzar;
membuat saya terjerat dalam alotnya kasus yang pernah menggemparkan India pada
tahun 2008 itu. Imbasnya adalah tiada hentinya saya memikirkan kasus pembunuhan
yang sangat rumit itu hingga terbawa mimpi. Mungkin saya terlalu berlebihan,
tapi itulah adanya. Hingga saya menulis ulasan ini pun, bayang-bayang kasus rumit
tersebut masih membekas kuat di kepala saya.






