Senin, 12 Oktober 2015

CAREFUL WHAT YOU WISH FOR [2015]

Film arahan Elizabeth Allen ini adalah erotic thriller yang memberikan ketegangan dalam memacu adrenalin audiens bukan melalui adegan-adegan sadis atau mencekam seperti dalam film bergenre serupa. Melainkan lewat kucing-kucingan karakternya dalam usahanya menghindari setiap permasalahan yang akan datang. Ketegangan tersebut tercipta dari rasa takut dan was-was para karakternya sehingga hal itu cukup efektif memberikan dampak bagi audiens. Memang tidak ada ekspektasi tinggi pada film yang satu ini, namun ia sanggup menjadi guilty pleasure yang begitu menyenangkan tanpa harus terbebani lewat setiap konflik yang ditampilkan.

Sesuai judulnya, dapat diterjemahkan dengan mudah bila film ini bercerita tentang kesialan seseorang akibat kesalahan yang sebelumnya dianggap enteng. Si sial tersebut adalah Doug Martin (Nick Jonas), pendatang baru dalam kehidupan Lena Harper (Isabel Lucas) yang statusnya masih bersuami. Doug bekerja pada Elliott (Dermot Mulroney), yang tidak lain merupakan suami dari Lena. Hubungan terlarang mereka itu berlangsung cukup lama tanpa sepengetahuan dari Elliott. Berawal dari rasa suka hingga menjadi teman tidur, kesialan besar telah menanti dan siap menghancurkan kehidupan Doug.

Doug adalah sosok pemuda kutu buku yang tidak neko-neko. Tidak pernah sekalipun terlibat dalam masalah yang besar. Ia seorang yang canggung apalagi dalam berhubungan dengan wanita. Hingga kemudian datanglah Lena yang telah bersuami bagaikan wanita penggoda yang siap menjerat siapapun pria yang ditemuinya. Cukup menggelikan menurut saya, Doug yang sedari awal terlihat sebagai pemuda baik-baik menunjukkan transformasi yang terasa terlalu cepat untuk menjadi selingkuhan dari Lena. Tanpa menjelaskan motivasi terdalam seorang Doug selain karena ‘cinta’, hubungan keduanya semakin konyol di saat Doug dengan sekejap menjadi ‘serigala’ kelaparan. Berbeda dengan Lena yang cukup memiliki motif dikarenakan suami yang kerap berlaku kasar, namun hal yang sebaliknya terjadi pada Doug. Menggelikannya lagi keduanya bagaikan ‘kesurupan’ setiap berhubungan seks tanpa tahu dalam zona aman maupun tidak. 

Seperti dalam film-film sebelumnya, Isabel Lucas tetap tampil sebagai wanita penggoda penebar nuansa erotisme kental. Paling terbaru dapat dilihat dalam “The Loft” yang tayang beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya saya tidak begitu mempermasalahkan karakter yang ia perankan, sebab keganjilan lebih banyak terlimpahkan pada karakter Doug. Terlihat berlebihan memang, bila harus mengomentari karakter dalam tipikal film seperti ini. Namun memang pembentukannya cukup mengganjal di bagian awal-awal. Akibatnya, paruh awal tersebut terasa begitu membosankan dan terlalu banyak diisi kucing-kucingan antara Doug dan Lena dengan Elliott. Untung saja tidak berapa lama kemudian Elizabeth Allen segera melemparkan twist di pertengahan yang menandai dimulainya segala ketegangan dan sedikit mengerjai. Akhirnya semakin jelaslah pada konflik yang memuncak dan mulai terbaca arahnya.

Seperti yang saya singgung di paragraf awal, ketegangannya hadir lewat posisi Doug yang terjepit di antara pilihan-pilihan yang sulit. Menimbulkan ketakutan dan was-was yang sesekali juga hadir dalam perasaan saya. Setelah paruh awalnya ia kucing-kucingan dengan Elliott, maka sisanya kemudian menjadi bagian aparat penegak hukum yang ganti mengejar Doug ke sana dan ke mari. Sebagai orang yang awalnya ‘bersih’ dan lantas mendapat perkara yang memberatkan, tentu saja bayang-bayang kelam terus menghantui. Kesan itu diperkuat lewat Doug yang mulai mencurigai bahwa setiap orang memberikan pandangan mata yang tidak biasa kepadanya. Dari titik ini, karakter Doug mulai terlihat menyenangkan ketika ia mulai diposisikan sebagai ‘korban’. Menyenangkan, sebab kita melihatnya sebagai sosok ‘bodoh’ dan dengan mudahnya kita akan melampiaskan segala kesalahan itu kepadanya. 

Sebagai thriller yang tidak terlalu ‘pintar’, entah itu lewat karakteristiknya atau alibi-alibi pada karakternya, “Careful What You Wish For” masihlah menawarkan kesenangan yang lumayan menghibur. Selalu ada saja ganjalan yang muncul di tiap bagiannya, salah satunya seperti twist bodoh yang merupakan ‘pelarian’ tergampang bagi sang sutradara. Tapi karena filmnya sendiri dibuat dengan sedemikian rupa tanpa harus terlihat cerdas, maka tiap ganjalan tersebut tidaklah terlalu berpengaruh. Dengan begitu, film ini sudah masuk guilty pleasure yang lumayan menyenangkan. Dengan mengesampingkan segala kekurangan yang ada, film ini tetaplah memiliki poin kuat yang diharapkan tepat sasaran bagi penonton. Semuanya sudah jelas tersampaikan dari judul film yang mengisyaratkan untuk tetap ‘berhati-hati’ dalam setiap tindakan agar tidak terlalu jauh atau kelak akan menyesal seperti apa yang ditimpa oleh Doug. Sederhana, tapi lumayan efektif memberi peringatan.
5,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !