Sabtu, 10 Oktober 2015

THE OVERNIGHT [2015]

Ini adalah film kedua yang disutradarai dan ditulis oleh Patrick Brice setelah film horror Creep” (2014) yang kemarin telah saya ulas. Mark Duplass masih turut serta dalam film ini, hanya kali ini ia duduk di kursi produser dimana dalam film sebelumnya ia juga bertindak sebagai penulis naskah. Dari dua film tersebut, saya mendapati ciri khas tersendiri dari Patrick Brice dalam setiap filmnya, antara lain adalah jumlah karakter yang minim, satu lokasi yang digunakan (sebagian besarnya), dan durasi hanya sekitar 80-an menit. Setelah debut dalam film sebelumnya yang menurut saya bagus secara kualitas, mungkinkah dalam film kedua ini ia masih tetap berhasil dalam mengulang hal yang sama ?.

“The Overnight” adalah film seks komedi yang bercerita tentang pasutri yang baru saja pindah ke California, Alex (Adam Scott) dan Emily (Taylor Schilling) serta seorang putra. Setelah dua minggu tinggal di sana, tiba-tiba salah seorang tetangga yang eksentrik mengajaknya untuk berkunjung, dia adalah Kurt (Jason Schwartzman) dan istrinya, Charlotte (Judith Godrèche). Pada malam hari mereka berkumpul bersama, Kurt dan Charlotte menawarkan banyak hal pada Alex dan Emily sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Lucu, absurd, dan berbau erotis.

Mungkin sudah menjadi ciri khas seorang Patrick Brice dalam bermain secara pelan-pelan di film-filmnya. Sebelum narasinya melangkah lebih jauh lagi untuk memahami konflik yang ada, Brice memperkenalkan kepada kita secara mendetail setiap karakater yang ada. Ia juga menggali secara mendalam latar belakang dari karakter yang dihadirkan beserta permasalahan personal yang tengah dihadapi. Pertama adalah Alex dan Emily, pasangan muda yang telah dikaruniai seorang anak ini diperlihatkan tengah memiliki permasalahan khususnya dalam berhubungan seks. Pada mulanya penonton akan melihat permasalahan mereka tersebut terkait kesulitan dalam membagi waktu antara mengasuh anak dan meluangkannya untuk berhubungan seks. Sampai kemudian di tengah cerita, Brice menghadirkan twist yang menjadi pokok permasalahan pasutri ini. Sedangkan Kurt dan Charlotte adalah pasangan yang terlihat begitu intim dari luar, sesekali mengumbar ciuman sekalipun di depan Alex dan Emily. Seolah tidak ada permasalahan dalam rumah tangga pasutri ini.

Apa yang nampak dari luar antara dua pasutri ini jelas sekali begitu kontras. Alex dan Emily memang terlihat jarang mengumbar kemesraan di tempat umum. Masing-masingnya juga jarang memberikan pujian antara satu dengan yang lainnya. Namun bukan berarti rumah tangga mereka sedang dilanda masalah besar. Yang terjadi pada Alex dan Emily sebenarnya masih dalam taraf normal, ketika pasangan yang disibukkan dengan urusannya sendiri-sendiri berdampak kurangnya keintiman. Berkebalikan dengan Kurt dan Charlotte, walau mereka telah memiliki seorang anak, namun keintiman antara mereka kerap kali diperlihatkan. Tidak ada yang meninggikan nada bicara satu sama lainnya, yang ada adalah saling memuji kelebihan. Maka dari tampilan luarnya saja, penonton pastilah dengan mudah menebak mana di antara pasangan ini yang memiliki masalah dengan keharmonisan. Tapi sepertinya Brice memang suka menyelipkan twist di setiap filmnya, oleh karena itu maka bisa saja apa yang terlihat berkebalikan dengan apa yang sebenarnya terjadi. 

Pastinya twist yang muncul itu tidak sekedar membelokkan apa yang telah ada sebelumnya dan berakhir menjadi twist bodoh sebagai bentuk pelarian. Sebelum berujung dalam munculnya twist itu, Brice memaksa para penontonnya untuk mengenal dengan begitu dekat kepada para karakter. Pelan namun pasti, penonton akan tahu luar maupun dalam dari setiap karakternya. Kemudian rentetan demi rentetan kegilaan-kegilaan muncul dan berhasil memunculkan tawa, rasa yang aneh, dan keabsurdan. Brice menggiring penonton untuk ambil bagian dalam setiap kegilaan-kegilaan yang dilakukan oleh dua pasangan ini ketika anak-anak mereka terlelap di tengah malam. Kegilaan apa sajakah itu ?. Tentunya Anda sudah bisa menebak kira-kira apa yang tengah mereka lakukan. Dengan suksesnya Brice membuat saya selaku penonton terus bertanya-tanya sedari awal, apa maksud dari semua ini ?. Setiap menit yang ada adalah rasa penasaran yang begitu besar tentang konflik apa yang coba diangkat oleh Brice di film ini.  

Sebelumnya telah saya tuliskan bila film ini merupakan seks-komedi. Anda harus bersiap untuk kecewa sebab tidak akan ada adegan seks secara eksplisit dalam film ini. “The Overnight” tidak mengumbar banyak adegan panas untuk memperkuat ceritanya, melainkan lewat dialog-dialoglah film ini menunjukkan jati dirinya. “The Overnight” lebih menyoroti krisis terkait berkurangnya keintiman yang melanda pasutri dan bagaimana cara mereka mengatasi masalah tersebut. Patrick Brice banyak menuangkan segala macam permasalahan pasutri dan impian-impian terliar mereka yang ingin lagi untuk dilakukan ke dalam naskah yang ia tulis. Rangkaian ceritanya begitu terjalin rapi dan disempurnakan dengan twist serta klimaks yang mencengkeram kuat. Penonton pun dengan mudahnya akan hanyut pada karakter dan pokok permasalahan yang disampaikan. Lewat “The Overnight” ini, maka Patrick Brice sekali lagi membuktikan bahwa ia memiliki ‘taring’ yang kuat sebagai sutradara pendatang baru lewat karya yang bermutu.
7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !