Rabu, 21 Oktober 2015

COOTIES [2014]

Jika Anda pernah mengalami insomnia dan butuh cara yang tepat untuk menanganinya dengan segera, maka “Cooties” boleh jadi pilihan utama. Pemilihan tema zombie apocalypse-nya semakin mempertegas bahwa tema semacam ini masihlah tetap eksis demi menjaring penonton. Apalagi “Cooties” dikemas dengan banyak komedi bodoh di dalamnya yang diharapkan efektif menciptakan rasa kantuk yang sangat. Maka dengan menontonnya, “Cooties” lewat arahan Cary Murnion dan Jonathan Milott serta naskah tulisan Ian Brennan dan Leigh Wannell telah membantu Anda secara penuh jika mengalami gangguan tidur di malam hari. Apa yang saya alami adalah bukti nyata keampuhan yang dimiliki oleh “Cooties” ini. Bahkan saya pun sudah tertidur sementara filmnya berjalan di pertengahan.  

Kekacauan berupa serangan zombie dalam “Cooties” ini berawal ketika seorang siswi SD Ft. Chicken memakan chicken nugget busuk yang mengeluarkan semacam cairan hitam di dalamnya. Tidak berapa lama, ia terinfeksi dan menularkan virus itu lewat gigitan pada teman-temannya yang lain dan mulai menyebar ke seluruh sekolah. Seorang guru pengganti sekaligus penulis novel debutan, Clint (Elijah Wood) bersama guru-guru konyol lain di sekolah tersebut pun harus terjebak di antara kerumunan zombie dan berusaha untuk melarikan diri. Dengan berbagai senjata yang dibuat apa adanya, mereka harus bisa menembus barikade zombie SD itu.

Sebelum narasi dari filmnya bercerita, “Cooties” diawali dengan opening credit yang memperlihatkan secara gamblang proses pembuatan chicken nugget mulai dari penyembelihan ayam hingga ke pengolahan tahap berikutnya. Sebuah pemandangan yang menurut saya cukup membuat mual bahkan bila dibandingkan dengan film gory sekalipun. Sebagai seseorang yang mengaku menyukai gory horror dengan tingkatan paling gila sekalipun, cukup aneh juga bila visual yang sebenarnya lumrah itu malah membuat saya eneg. Tapi beralasan juga mengingat setiap adegan gore dalam film murni fake dan dibuat dengan tujuan hiburan. Sedangkan apa yang saya lihat di sini benar-benar terlihat seperti nyata. Baik, kembali ke chicken nugget tersebut, makanan itulah yang kemudian menyebarkan virus zombie kepada anak-anak yang memakannya. Sebuah penggunaan sumber kekacauan yang mungkin sedikit nyeleneh bila dibanding dengan film zombie-apocalypse lainnya.

Dalam “Cooties” ini, kita akan diperkenalkan dengan banyak karakter-karakter bodoh alias kurang normal yang lumayan memancing tawa. Mungkin tidak akan saya sebutkan secara mendetail dengan harapan Anda mencoba untuk menontonnya sendiri demi membuktikan seberapa tingkat ketidak normalannya tersebut. Mungkin hanya karakter Clint beserta dua siswa selamat saja yang boleh dikatakan sebagai ‘manusia’ pada umumnya. Selain itu semuanya bodoh dan tidak berotak. Komedi yang hadir di paruh awalnya lumayan lucu sehingga meningkatkan atensi menontonnya dan menunggu apa saja kekonyolan yang akan dihadirkan berikutnya. Komedinya yang lucu itu tidak hanya hadir dari dialog bodohnya saja, melainkan juga aksi para zombie SD yang kerap kali ciptakan tawa segar. Namun cukup disayangkan adalah pada bagian make-up yang kurang maksimal sehingga para zombie rekaan itu tampak kurang nyata dan sekilas terlihat hanya sekedar main poles saja.

Ketidak normalan yang ada dalam “Cooties” merupakan daya tarik yang dimiliki. Baik itu lewat karakter yang hadir maupun lewat zombie attack-nya. Semakin tidak normal dan bodoh maka semakin menarik pula untuk ditonton. Dalam sebuah film yang mengutamakan ketidak normalan itu sebagai amunisi utama untuk mengikat penonton, maka sebaliknya bila muncul bagian ‘normalnya’ tentunya akan mengurangi keasyikan film itu sendiri. Hal itu juga yang terjadi dalam “Cooties” ini. Kemunculan bagian normalnya itu justru malah mengurangi keasyikannya. Bila paruh awal “Cooties” terasa begitu menyegarkan, namun tidak untuk di bagian tengah hingga akhirnya. Ia terasa ‘normal’ dan datar layaknya film-film zombie-apocalypse lainnya. Akibatnya ia menjadi menjemukan sebab tidak ada lagi hal baru (kebodohan) yang bisa ditawarkan. “Cooties” terlihat sekali memiliki proporsi yang tidak seimbang, filmnya menyenangkan di bagian awal namun mulai menurun di pertengahan hingga akhir.

Walau tema yang diusung sudah sangat usang sekali, tapi “Cooties” mencoba mendobrak pakem yang sudah ada dalam zombie-apocalypse. Seperti contohnya virus zombie dari chicken nugget itu hanya menyerang mereka yang belum mengalami masa pubertas saja. Jadinya tidak semua karakter di sini bakal menjadi zombie sekalipun mendapat gigitan atau cakaran. Selain melawan dari pakem yang umum ada, “Cooties” sepertinya juga menyelipkan beberapa isu-isu sosial di dalamnya yang menjadikannya tetap menarik. Yang paling kentara tentunya adalah masalah gaya hidup tidak sehat lewat junk food yang kerap kali dijual kepada siswa-siswi melalui kantin sekolah mereka. Junk food itu pada akhirnya melemahkan fisik maupun kecerdasan para siswa-siswi yang tidak lain dapat dimetaforakan sebagai perubahan bentuk ke dalam wujud zombie. Mereka berontak dan menuntut keadilan kepada para pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang selama ini telah mencekoki dengan makanan-makanan sampah serta cara mengajar para guru yang kacau balau.
5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !