Jumat, 09 Oktober 2015

MONKEY KINGDOM [2015]

Mengutip dari apa yang diucapkan oleh narator, Tina Fey, bahwa kebanyakan orang melihat sekumpulan monyet hanya melakukan kegiatan sehari-harinya dengan makan, minum, dan bermain saja. Sekilas nampak seperti itu, meloncat dari satu dahan ke dahan yang lainnya demi mencari makan. Sesekali juga bercengkerama dengan sesamanya dalam kelompok yang besar. Sebuah hal yang lumrah dilakukan oleh kebanyakan hewan karena insting mereka yang mengajarkan untuk bertahan hidup. Padahal, sebenarnya monyet juga mengenal sistem kasta dalam kelompoknya. Sebuah hirarki yang memisahkan serta menentukan apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh tiap anggota kelompoknya. Tidak dipungkiri, para monyet pun berlomba-lomba menunjukkan ‘kualitas diri’ untuk bisa meraih puncak tertinggi dalam strata sosial tersebut.

Dalam dokumenter wildlife terbaru dari Mark Linfield dan Alastair Fothergill ini, mereka memperkenalkan pada kita para monyet makaka yang tinggal dalam bekas kerajaan di tengah belantara Sri Lanka. “Monkey Kingdom” bercerita mengenai perjuangan seekor monyet betina, Maya, untuk mendapatkan posisi tertinggi dalam strata sosial tersebut demi anaknya yang baru lahir, Kip. Bagi monyet betina seperti Maya, tentu hal itu tidaklah mudah. Mengingat pemimpin kelompok tersebut seorang monyet jantan yang kuat dan besar bernama Raja, tidak akan dengan mudahnya berbagi. “Monkey Kingdom” tidak hanya bercerita tentang kehidupan Maya dan Kip yang keras, tapi juga pejantannya yang berasal dari luar kelompok tersebut, Kumar. Ia adalah seekor monyet yang berambisi menjadi pemimpin kelompok tersebut. Sadar diri karena hanya sendiri dan asing, ia mulai mendekati Raja dan mencari perhatian dari monyet yang lain.

Sebagai penyuka film dokumenter terutama wildlife, “Monkey Kingdom” menawarkan kepada saya sesuatu yang ‘lebih’ bila dibanding dokumenter sejenisnya. Dokumenter ini sukses menggali sesuatu dalam kehidupan kawanan hewan yang mungkin tidak banyak diketahui banyak orang, yaitu pembagian strata sosial. Memang dalam kelompok hewan dengan jumlah yang besar, pembagian strata seperti ini lumrah ada, seperti pada lebah atau tawon. Tapi dalam monyet, mereka begitu unik sebab perbedaan kasta turut berperan memisahkan tempat tinggal dan makanan yang dimakan. Sebagai contoh di sini, Raja sebagai pemimpin akan mendapat perlakuan istimewa dari monyet lainnya dengan cara dibersihkannya kutu dari tubuhnya. Ia juga makan buah yang sudah masak dari puncak tertinggi pohon ara dan dapat berteduh dari terik matahari dan kala hujan deras. Sedangkan kasta terbawah, hanya memakan buah sisa dan tinggal di bawah pohon. Akibatnya, guyuran hujan tidak terelakkan dan serangan predator selalu siap mengancam. 

Tina Fey selaku narator juga turut memberikan kontribusi yang besar dalam narasi yang dibacakannya. Ia menjadi penuntun untuk penonton dalam mewakili setiap interaksi antar satu monyet dengan monyet lainnya dan ia presentasikan dengan sangat baik lewat intonasi yang berbeda pada setiap karakter. Pemilihan lagu-lagu pengiring yang enerjik berikut editing cepatnya juga berhasil dalam menghasilkan sekuen yang berjalan runut dan rapi. Daripada terlihat sebagai dokumenter yang mengetengahkan kehidupan sehari-hari sekelompok monyet, “Monkey Kingdom” malah terlihat seperti film yang mengisahkan perjuangan seseorang dari zero menuju hero. Di dalamnya juga mengisahkan perebutan kekuasaan dan penghimpunan kekuatan untuk merebutnya kembali. Sebagai sebuah nature documentary, “Monkey Kingdom” sukses dalam mengekspos secara mendetail apa yang terjadi dalam kawanan monyet di sebuah kelompok besar. Menyenangkan melihat aksi dan keusilan mereka, juga membuat haru saat impian tiap individunya terpenuhi.
8 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !