Selasa, 23 Juni 2015

IT FOLLOWS [2014]


<Mungkin Mengandung Spoiler>

Dengan ramainya film horror yang banyak menampilkan jump scare, It Follows karya sutradara David Robert Mitchell ini rupanya memiliki taste berbeda di tengah-tengah ramainya horror tipikal tersebut. Apalagi, ketegangan yang dihadirkan dalam It Follows lewat terror-terror yang dialami karakter utamanya mampu dirasakan pula oleh yang menontonnya, dalam hal ini adalah saya sebagai penilai.

Cerita diawali dengan seorang gadis bernama Annie (Bailey Spry) yang berlari-lari ketakutan keluar rumah tanpa sebab yang jelas. Melihat keadaan Annie, penonton tentunya menyimpan pertanyaan dalam hati, “apa yang sebenarnya sedang terjadi?”. Kemudian, pergilah Annie dengan mobilnya hingga berujung peristiwa tragis menimpanya. Cerita berganti pada seorang gadis bernama Jay (Maika Monroe) yang menghabiskan malamnya dengan sang kekasih, Hugh (Jake Weary). Malam itu, mereka berdua berhubungan seks. Tidak disangka, tiba-tiba Hugh menyekap Jay hingga tidak sadarkan diri. Setelah sadar, Hugh menceritakan bahwa hubungan seks yang baru saja mereka lakukan adalah upayanya untuk bisa lepas dari terror makhluk misterius yang mengejarnya.  

Awalnya, saya melihat plot film ini begitu konyol dan menggelikan. Berhubungan seks demi menghilangkan terror dari makhluk misterius ?, yang benar saja. Dengan cerita konyol tersebut, sudah dipastikan bahwa ini merupakan film horror-teenage yang tidak perlu difikir serius, cukup ditonton saja. Ternyata saya salah menilai. Adegan pembukaan yang begitu misterius dan mencekam dengan iringan skoring dari Disasterpeace mampu meruntuhkan penilaian awal saya. Untuk film ‘sekelas’ ini, It Follows boleh diperhitungkan sebagai film horror yang punya banyak cara jitu untuk menakuti penontonnya. Dengan tempo penceritaan yang cukup lambat dan tone yang gelap, David Robert Mitchell mampu membangun atmosphere yang mencekam, tanpa harus membumbuinya dengan banyak jump scare.    

Sesuai dengan judulnya, film ini bercerita tentang makhluk misterius yang selalu meneror dengan mengikuti korbannya, yaitu Jay. Kegusaran semakin menjadi-jadi ketika wujud dari makhluk misterius tersebut tidak dimunculkan, dan kesan misterius pun semakin kuat. Kemudian, sedikit demi sedikit tabir misteri mulai dibuka dengan perwujudan makhluk misterius tersebut. Tanpa banyak spesial efek dan lebih mengandalkan teknik make-up, wujud yang ditampilkan lumayan creepy, meski ada salah satu yang menurut saya begitu menakutkan dibanding yang lain. Suasana semakin ‘tidak nyaman’ ketika pengambilan gambar mengarahkan pada sosok yang berjalan mendekat, membuat penonton berspekulasi bahwa itulah sosok misterius tersebut. Meskipun pada akhirnya jawaban bisa “ya” dan “tidak”. 

Sebenarnya yang cukup mengganggu di sini justru adalah karakter dari Jay itu sendiri. Dengan segala kekonyolannya, ia malah memilih lari menuju ke tempat sepi ketika sosok misterius mengejarnya, daripada harus berkumpul bersama teman-temannya untuk memberikan suasana aman. Tapi jelas sekali, hal tersebut merupakan bagian dari strategi sang sutradara untuk ‘menggiring’ suasana yang jauh lebih mencekam. Bagi saya, di situlah letak kekurangannya. Seakan-akan tidak ada cara lain yang lebih cerdas untuk mengumbar suasana mencekam daripada sekedar membuat kekonyolan yang tercipta dari karakternya.

Rasa penasaran luar biasa yang dibangun di awal-awal rupanya mulai surut ketika sosok “It” atau makhluk misterius itu digambarkan secara eksplisit sebagai (katakanlah) setan yang dapat menyerang secara fisik, daripada setan yang bersifat unknown atau yang hanya dapat menyerang secara psikis. Terbukti, ketika Paul (Keir Gilchrist) mencoba melindungi Jay, ia malah terlempar jauh oleh serangan makhluk tersebut. Bagian ini cukup krusial sekali menurut saya, karena apa yang saya harapkan sebelumnya bahwa makhluk peneror ini merupakan ancaman-ancaman yang bersifat psikologi dan hanya menyerang Jay dan Hugh yang termasuk dalam lingkaran tersebut. Meski rasa penasaran saya mulai turun di sini, tapi setidaknya ketegangannya masih terasa, meski tidaklah sebesar di menit-menit awal.

Beberapa kritik telah menginterpretasikan kata “It” sebagai penyakit AIDS yang melanda akibat hubungan seks bebas. Memang boleh saja jika berinterpretasi dengan hal tersebut. Tapi saya juga ingin menambahkan dengan interpretasi saya sendiri bahwa sebenarnya ada sedikit unsur love & sex yang terselip di sini, mungkin tidak terlalu terasa. Di bagian akhir, kita akan melihat Jay bergandengan tangan dengan Paul, yang mengindikasikan bahwa mereka berdua telah memiliki sebuah relationship, dan sebelumnya mereka berdua telah melakukan hubungan seks. Dibandingkan dengan Hugh dan Greg (Daniel Zovatto) yang sebelumnya juga telah berhubungan seks dengan Jay, Paul adalah sosok yang tulus mencintai Jay. Dari sini, It Follows mencoba untuk mengkritisi mereka yang sex addict dengan berganti-ganti pasangan, dan mengarahkan untuk ke ‘jalur yang benar’ dengan melampiaskannya hanya pada pasangan yang benar-benar dicintai. Mungkin saja.

ATAU
7 / 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !