Selasa, 16 Februari 2016

A WAR [2015]

Dari judul hingga posternya, sudah jelas ini adalah film perang. Perlu diketahui sebelumnya, “A War” masuk dalam nominasi Oscar ke-88 dalam kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik.” Nah, bila film perang yang masuk dalam penghargaan bergengsi, biasanya film tersebut kuat di bagian dramanya. Atau dengan kata lain, bukanlah film perang yang banyak mengumbar aksi macho boros peluru.

Kita bisa ambil contoh seperti film perang Vietnam “Platoon” (1986) atau “The Hurt Locker” (2010). Maka bisa kita simpulkan film perang seperti apa yang mudah disukai oleh juri-juri penghargaan untuk dimasukkan ke dalam kategori. Bukan sesuatu yang langka sebenarnya jika film perang masuk ke dalam penghargaan ternama tingkat dunia. Tapi pastinya ia memiliki standarisasi yang tidak dimiliki oleh film perang mainstream lainnya. 

“A War” disutradarai oleh Tobias Lindholm. Ia pula yang menulis naskahnya. Menampilkan dua latar cerita; Afghanistan sebagai medan perang bagi karakter utamanya dan Denmark tempat keluarganya tinggal. Karakter utamanya adalah Claus M. Pedersen (Pilous Asbæk); seorang company commander (pemimpin dalam sebuah unit militer) yang ditugaskan di Provinsi Helmand, Afghanistan. Ia seorang yang baik—katakanlah seperti itu. Pembawaannya tenang dan mudah bergaul dengan bawahannya.

Claus meninggalkan seorang istri, Maria (Tuva Novotny) di Denmark beserta tiga anak yang masih kecil. Misi yang dijalankan oleh Claus ialah melindungi warga sipil Afghanistan dari serangan militan Taliban. Sungguh tugas yang berat dan berisiko tinggi. Sebuah sekuen di bagian awal menceritakan salah seorang pasukannya tewas terkena ranjau. Kesan yang ditampilkan begitu realistis bahwasanya perang yang mereka hadapi merupakan teror yang menakutkan. 

Pasukan Claus yang lain, Lasse (Dulfi Al-Jabouri) sempat memintanya untuk dipulangkan. Ia menangis dan takut mati karena terpaksa meninggalkan adiknya di kampung halaman. Claus tidak bisa memberikan izin. Tapi yang pasti, adegan tersebut menggambarkan ketakutan yang terus menghiasi para tentara yang bertugas. 

Sebenarnya mudah untuk mengidentifikasi karakter Claus ini. Ia memiliki seorang istri dan tiga anak yang masih kecil. Ditambah pula misi berat yang dijalaninya, membuat karakter Claus menarik simpati penonton. Ya, saya bersimpati padanya. Saya bisa rasakan pula apa yang dirasakannya. Penuturan Lasse sudah pasti membuatnya teringat dengan keluarga kecilnya di Denmark.
Perbedaan Claus dengan tipikal karakter khas Hollywood lainnya adalah tidak adanya turning point yang menonjol. Pula Claus bukan karakter yang mudah naik darah dan emosional; di saat anggota pasukannya gugur. Apa yang digambarkan dalam diri Claus adalah beban tanggung jawab besar tidak hanya di medan perang, melainkan bagi keluarganya di Denmark. 

Satu jam pertama dimulainya ketegangan film. Sebuah sekuen menampilkan misi penyelamatan rumah warga sipil. Tidak dinyana, bahaya telah menanti mereka yang ikut dalam misi. Claus merasa berjanji pada salah seorang warga sipil untuk membantunya dengan menyergap militan Taliban dan melindungi anaknya. Claus yang juga memiliki anak, tergugah isi hatinya. Ia merasa berkewajiban untuk menolong. 

Sekuen tersebut kemudian menjadi jembatan pada konflik dilematis yang dihadapi oleh Claus. Sang komandan meminta Claus untuk pulang dan memulai pembelaannya. Pembelaan seperti apa? Claus disebut bertanggungjawab dalam tewasnya beberapa anak kecil di pihak sipil. Dari sinilah sang karakter utama diuji. “A War” yang awalnya berupa film perang di satu jam pertama, drastis berubah menjadi drama persidangan.

Tobias Lindholm sebenarnya masih membawa unsur klise dalam sebuah film berlatar perang. Apalagi jika karakter utamanya disorot dengan beban sebuah keluarga di kampung halaman, mudah melabelinya sebagai ‘pemikat.’ Sebagai penonton, kita akan merasakan betapa rindunya si karakter utama berpisah dengan keluarganya. Dari sisi dramanya inilah, “A War” sudah memenangkan hati penonton. Lalu, bagaimana dengan konflik lainnya? 

Sayang, “A War” kurang memiliki kompleksitas dalam konflik dilematis yang dialami Claus. Saya pikir itu kurang tergali lebih mendalam. Saya tahu apa yang ingin disampaikan oleh Tobias Lindholm; yakni mempertanyakan apakah Claus telah melakukan yang terbaik demi kebenaran. Antara menyelamatkan prajuritnya dan membiarkan korban sipil berjatuhan adalah sebuah pilihan sulit. Entah mengapa, dilema yang dirasakan Claus itu tidak bisa terintegrasi dengan baik pada plot utama. Akan tetapi di luar itu, “ A War” masihlah tetap drama perang yang bagus.    

2 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !