Jumat, 05 Februari 2016

PREMATURE [2014]

Saya tidak tahu mengapa, setiap coming of age drama yang dicampur dengan komedi selalu saja menyediakan protagonis seorang pecundang. Memang, sebenarnya saya mengerti dengan adanya karakter semacam itu. Bukankah lewat karakter pecundang yang hadir lewat setiap kebodohannya mudah memancing gelak tawa? Jika karakternya keren dan famous di kalangan remaja seumurannya tentu tidak akan selucu yang dibayangkan.

“Premature” memiliki banyak elemen seperti dalam komedi dan coming of age drama lainnya. Karakter utama seorang pecundang—sudah pasti. Sering di-bully?—sudah pasti. Serta memiliki sahabat yang ‘gila’ dan selalu menjadi penasihatnya. Bisa dibayangkan bila semua nasihat yang diberikannya selalu menyesatkan si karakter utama. Nasihat-nasihatnya juga tidak jauh-jauh dari urusan pacaran dan seks. Ya, seks!

Mari kita bertemu dengan si pecundang Rob Crabbe (John Karna). Remaja SMA yang memimpikan bisa berhubungan seks dengan gadis pujaan hatinya, Angela Yearwood (Carlson Young). Tapi apakah ia sudah pernah berhubungan seks sebelumnya? Pastinya belum, karena ia seorang pecundang di sini. Ia bersahabat dengan Stanley (Craig Roberts). Bak seorang penasihat, isi percakapan mereka berdua hanyalah tentang seks, seks, dan seks.

Sebuah tradisi pula dalam teen drama semacam ini, jika si karakter utamanya seorang pria, ia pasti memiliki seorang sahabat perempuan. Dan tanpa disadari jika di dalam hati keduanya yang paling dalam, mereka saling menyukai. Apakah saya benar? Rob bersahabat dengan Gabrielle (Katie Findlay) sejak masih kecil. Meski pun dekat, status keduanya hanyalah bersahabat. Tidak lebih. Tapi saya tidak percaya akan hal itu.

Alkisah, Rob mengalami peristiwa teraneh selama hidupnya. Diawali dengan bangun pagi dan mimpi basah, Rob melanjutkan keseharian menuju sekolah bersama Stanley. Tidak ada yang spesial sampai sini. Sampai kemudian ia mendatangi rumah Angela atas permintaannya untuk belajar bersama. Angela adalah gadis bitchy. Di atas ranjang, ia secara halus mengajak Rob untuk ngeseks. Belum sampai ‘puncak’, Rob sudah ejakulasi. Tidak lama lalu terbangun, Rob sudah berada di kamarnya dalam keadaan mimpi basah. Kejadian yang sama berulang-ulang terus.

“Premature” disutradarai oleh Dan Beers sekaligus menulis naskahnya bersama Mathew Harawitz. Naskahnya menguraikan penggabungan antara seri “American Pie” dengan “Groundhog Day” (1993) yang memiliki plot time loop. Jika Anda sudah pernah menonton “Groundhog Day” yang dibintangi Bill Murray, Anda akan tahu plot non-linear yang saya maksudkan. Yakni memainkan sebuah sekuen secara berulang-ulang hingga kemudian kembali lagi dalam satu titik. Anda juga bisa menemukannya dalam “Source Code” (2011) atau “Edge of Tomorrow” (2013).  

“Premature” memang tidak memiliki konsep yang baru. Saya tidak terkejut dengan alur uniknya. Saya juga tidak terkejut dengan tema yang diangkat berikut karakterisasinya. Apa yang dibicarakan dalam film ini sebagian besarnya masalah “lendir.” Meski begitu, “Premature” memiliki nilai fun dan semangat youth yang dikandungnya. Jangan ditanya berapa kali saya tertawa selama menonton film ini. Berkali-kali jawabannya. 

“Premature” memang drama komedi remaja yang brainless. Semua leluconnya bodoh. Tapi semua leluconnya efektiv membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Ada banyak bagian klise memang, tapi “Premature” tetap menghidangkan komedi segar seputar konflik remaja-remaja tanggung. Jika Anda berusia di atas 20 tahun, “Premature” akan membuat Anda bernostalgia dengan gilanya masa-masa SMA. Saya sangat merekomendasikan film ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !