Senin, 01 Februari 2016

AMERICAN HERO [2015]

“American Hero” garapan Nick Love mengingatkan saya pada “Chronicle” (2012) milik Josh Trank. Kamera goyang, kekuatan super, isengi orang, dan hal lain semacamnya. Satu yang pasti bahwa “American Hero” bukanlah film superhero ala buku komik. Ia hanya manusia biasa (baca : bajingan) dan tanpa kostum serta tanpa niatan menumpas kejahatan.

Superhero tersebut bernama Melvin (Stephen Dorff). Ia telah bercerai dengan isterinya, Doreen (Keena Ferguson). Hubungan keduanya juga merenggang. Doreen pun melarang Melvin untuk menemui anak mereka satu-satunya, Rex (Jonathan Billions). Melvin bahkan dituduh Doreen telah menculik Rex dan membuatnya mendapatkan hukuman “pelayanan masyarakat.” Singkatnya, Melvin adalah pecundang sejati. 

Terpisah dengan Rex membuatnya hidup bak gelandangan. Mabuk-mabukan, menghisap ganja, dan bermain wanita. Ia bersahabat dengan Lucille (Eddie Griffin), mantan anggota kesatuan yang lumpuh karena tertembak saat bertugas. Di saat Lucille terbuang oleh keluarganya, Melvin dan ibunya justru memberikan tempat berlindung. Selain Lucille, Melvin juga bersahabat dengan Lucas (Yohance Myles); seorang ilmuwan—saya menyebutnya seperti itu karena seragam lab putih yang selalu dikenakannya. Ia bertanggung jawab dalam melatih Melvin mengendalikan kekuatannya.

Melvin memiliki kemampuan super berupa telekinetik. Kekuatan yang sama yang dimiliki oleh trio dalam “Chronicle.” Telekinetik adalah kemampuan yang mampu menggerakkan benda-benda di sekitar. Menghancurkan, melemparkan, membengkokkan, dan semacam itulah. Melvin dianggap menyia-nyiakan bakatnya tersebut. Ia jauh lebih memilih menjadi orang berengsek daripada memanfaatkannya pada jalur yang benar. Sesekali ia memamerkannya sebagai sulap jalanan.
Pertanyaannya adalah darimana asal kemampuan unik Melvin ? Sejauh yang saya ingat, “American Hero” tidak menjawab pertanyaan tersebut. Naskah yang ditulis oleh Nick Love sendiri terlalu lemah untuk menghantarkan cerita dan mengembangkan karakternya. Semuanya klise dan sangat mudah ditebak. “American Hero” tidak ubahnya konsep from zero to hero seperti film-film yang banyak bertebaran. 

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan konsep pasaran itu. Tapi “American Hero” dengan jelas menjauhkan diri dari unsur menghibur. Sejujurnya pada bagian first act, “American Hero” cukup meraih atensi saya sebagai penonton. Lantas seiring berjalannya durasi, kekuatan ceritanya semakin lemah dan tidak terkendali dengan baik. 

“American Hero” adalah film tentang pecundang yang berusaha memperbaiki hidupnya serta hubungannya dengan orang-orang sekitar. Saya mengerti bila Nick Love memasang premis bahwa kekuatan super saja tidak cukup membuat seseorang menjadi sempurna. Tapi sayangnya ia kurang menarik dalam mempresentasikan cerita. Tidak salah juga jika akhirnya saya menjadi bosan di pertengahan hingga akhir film. Apakah film ini bercerita menjadi superhero yang baik atau ayah yang baik, Nick Love juga tidak menguraikan jawabannya. 

“American Hero” dibuat dengan format mockumentary. Anda tahu seperti apa—dokumenter fiksi lebih mudahnya. Saya sempat menaruh harapan besar saat menonton trailer-nya—hal yang sangat jarang saya lakukan. Namun begitu tersaji di depan mata, duo Prof. X dan Magneto ini (Melvin dengan telekinesisnya serta Lucille dengan kursi rodanya) gagal menghibur saya. Memang tidak secara total sampah, hanya ada di beberapa bagiannya yang lemah (itu pun juga banyak). Jika karakter Lucille bisa digali lagi dengan celetukan yang lebih banyak dan berbobot, film ini berpotensi menjadi komedi menyegarkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !