Kamis, 04 Februari 2016

BONE TOMAHAWK [2015]

Pada suatu pagi, Kota Bright Hope digemparkan dengan kematian tragis seorang pemuda penjaga istal. Lalu kemudian diikuti menghilangnya tiga orang; tahanan yang ditembak sheriff, Deputy Nick yang menjaganya, serta seorang dokter yang merawatnya, Samantha O’Dwyer (Lili Simmons). Seorang pria lantas lari tergopoh-gopoh menuju kediaman sheriff yang tengah sarapan bersama sang istri. Sheriff kota tersebut bernama Franklin Hunt (Kurt Russell).

Awalnya ia merasa sarapan nikmatnya tengah diganggu. Namun bukan sheriff namanya jika tiba-tiba marah tanpa sebuah alasan yang jelas. Pria tadi lantas menceritakan perihal penemuan mayat pemuda penjaga istal serta menghilangnya tiga orang. Sheriff Hunt lantas memberitahukan Arthur (Patrick Wilson), atas menghilangnya sang istri, Samantha. Arthur yang kakinya sedang terluka berjalan pincang menuju tempat berkumpul yang telah disepakati sheriff.

Sebilah anak panah ditemukan di tempat kejadian perkara. Seorang suku lokal menduga anak panah tersebut milik suku primitif yang tinggal dalam gua (troglodytes). Ada sebuah tempat yang disebut dengan “Valley of the Starving Men” diduga merupakan tempat tinggal mereka. Apa yang terjadi kemudian ? Sudah pasti seorang sheriff akan melaksanakan misi pengejaran dan penyelamatan.

Rencana pengejaran tersebut meliputi empat orang; Sheriff Hunt, deputi cadangan Chicory (Richard Jenkins) yang sudah tua tapi semangatnya besar, John Brooder (Matthew Fox) yang ahli menembak dan memiliki kepercayaan diri tinggi, serta Arthur. Sudah jelas awalnya Arthur akan dieliminasi dalam daftar para pencari ini. Mau bagaimana lagi. Tidak tega melihat istrinya diculik suku bar-bar, naluri kelaki-lakiannya mencuat keluar.
“Bone Tomahawk” adalah debut penyutradaraan dari S. Craig Zahler dengan naskah yang ditulisnya sendiri. Sebelumnya ia seorang novelis yang dikenal banyak menulis dengan tema western atau science-fiction. “Bone Tomahawk” boleh dikatakan sebagai genre blend yang tidak perlu dikagetkan atas keberadaannya. Ia perkawinan dari western dengan horror. Baru pertama kali menonton yang seperti ini? Saya yakin tidak. Sebelumnya Anda juga bisa mendapati film serupa yaitu “Cowboys vs Aliens” (2011). 

Bisa dibilang “Bone Tomahawk” begitu efektiv dalam menyajikan sebuah petualangan seru ala koboi macho dengan gabungan gore yang mengerikan (filmnya berseting tahun 1890-an). Western semacam ini sebenarnya tidak ubahnya dengan versi mainstream hanya memerlukan modifikasi di bagian karakter-karakter antagonisnya. Jika Anda kerap menonton western yang penuh kejar-kejaran dengan suku lokal (baca : Indian), maka di sini beralih dengan para kanibal yang memiliki tingkatan lebih ekstrim lagi.

Walau memakai sentuhan yang lebih kekinian, “Bone Tomahawk” tetaplah membawa pakem yang lazim ada pada western. Di sini Anda akan menemui bagian-bagian yang berisi dengan petualangan pencarian, kemah di padang terbuka, hingga bergumul dengan para bandit jalanan. Semua unsur yang sering menghiasi film-film koboi klasik tersedia di sini. Saya sebagai penyuka genre ini merasa kembali bernostalgia dengan film-film lawas ala John Wayne seperti “The Searchers” (1956).

“Bone Tomahawk” memang melebihi harapan saya sebagai genre blend. Tidak sedikit awalnya saya meragukan gabungan antara western dengan horror ini. Ternyata hasilnya begitu memuaskan, seru, mengejutkan, diimbangi pula dengan performa mumpuni para cast-nya. S. Craig Zahler sebagai sutradara debutan jelas sekali memiliki kapasitas dalam genre yang selalu diusungnya dalam tiap novel tulisannya. Berharap saja semoga ke depannya ia memiliki ide menggabungkan western dengan science-action. Sesuatu selain alien kalau bisa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !